Pages

25 January 2010

Agama Bangsa Jepang

Pada masa kekuasaan Shogun Tokugawa, terjadi adaptasi banyak agama yang dapat diringkas ke dalam unsur-unsur tertentu yang sifatnya hampir universal dan dari situ kita dapat menyebutnya sebagai "agama bangsa Jepang". Dalam ruang lingkup agama yang dianut oleh bangsa dan keluarga tradisi-tradisi religius yang hebat direpresentasikan dan saling berpadu satu sama lain. Sebagai contoh, Konfusianisme dan Shinto dipengaruhi oleh metafisika dan psikologi agama Buddha; Buddhisme dan Shinto banyak terpengaruh oleh etika Konfusianisme; dan Konfusianisme dan Buddhisme juga dekat dengan karakteristik agama yang dianut oleh bangsa Jepang.

Namun demikian, di luar sifat yang homogen ini, sejumlah sekte menekankan batasan umum dalam bentuk konfigurasi yang berbeda-beda, sehingga muncul banyak hal yang perlu dibahas dalam ruang lingkup analisis yang berbeda. Fungsi-fungsi sosial pokok yang dimainkan oleh agama ialah menjadi sumber inspirasi bagi konteks makna nilai-nilai pokok kemasyarakatan dan untuk memenuhi tantangan nilai-nilai yang muncul karena frustrasi akan situasi yang dialami oleh manusia. Fungsi-fungsi pokok ini memerlukan orientasi menuju sebuah sistem superordinat yang dipengaruh oleh atribut-atribut yang terbaik. Sistem superordinat menghasilkan konteks metafisik bagi nilai-nilai sentral dan oleh sebab itu menjadi landasan pokok dari makna yang terkandung di dalam nilai-nilai tersebut. Selain itu, sistem superordinat juga merupakan sumber kekuatan dan makna tertinggi yang dapat mendukung serta memenuhi hasrat manusia di dalam menghadapi rasa frustrasi yang seberat apapun. Secara garis besar terdapat dua konsepsi ketuhanan yang dianut oleh agama bangsa Jepang. Pertama, kesatuan superordinat yang memuat nurtur, kasih sayang, dan cinta. Contoh dari konsepsi ini antara lain keyakinan surga dan dunia Konfusianisme, Amida dan aliran Buddha lainnya, Shinto, serta keyakinan-keyakinan lain yang telah ada sejak zaman nenek moyang. Kedua, konsepsi ketuhanan di atas tidak boleh dipahami sebagai dua hal yang saling bertentangan atau saling bersaing. Keduanya ditemukan dalam hampir setiap sekte dan tidak dirasakan sebagai hal yang eksklusif. Setiap konflik dipecahkan dengan teori tingkat kebenaran, dan konsepsi ketuhanan yang kedua tampaknya lebih sering digunakan sebagai bahan rujukan. Akan tetapi, ada beberapa bentuk ekstrim Zen yang secara radikal menolak konsepsi ketuhanan yang pertama. Sementara itu sekte lain, The Pure Land, menyebutkan pemujaan kepada Amida, yang termasuk konsepsi ketuhanan pertama, dalam bentuk yang agak eksklusif. Namun, di tengah sikap eksklusif ini, sekte tetap membuka pintu bagi interpretasi-interpretasi metafisik yang dapat mendekati jenis konsepsi ketuhanan kedua. Sebagian dari sekte dan gerakan yang alirannya ekstrim cenderung menggabungkan dua konsepsi. Agama Shinto dahulunya mungkin dianggap lebih dari segala hal yang berhubungan dengan kesuburan. Upacara-upacara panen dan ucapan syukur mendapatkan tempat khusus dalam kalender ritual. Pada masyarakat pedesaan ritual falik (phallic) dilakukan untuk memastikan kesuburan melalui magis yang simpatik, dan bahkan dalam upacara kenegaraan resmi kebergantungan mulanya tertuju pada persembahan dan janji melalui pujian-pujian kepada pencipta jika panen berhasil dengan baik. Engishiki, sebuah dokumen yang merangkum perjalanan mulai awal abad X, memuat teks doa untuk panen yang upacaranya diselenggarakan setiap tahun pada hari keempat bulan kedua oleh anggota pemuka agama Nakatomi pada jamuan upacara besar di ibukota. Penyuburan, pensucian, dan bentuk-bentuk ritual serupa terus bertahan hingga zaman modern sekarang ini, dalam bentuk ritual yang tetap primitif. Akan tetapi sebenarnya terjadi perubahan sejak abad XIII, khususnya pada daerah Ise, yakni munculnya rasionalisasi filosofis dan etis. Tak diragukan lagi bahwa perubahan ini terjadi karena adanya stimulus dari pengaruh Buddha, namun sebenarnya perubahan yang terjadi adalah karya asli dari tradisi Shinto dan tidak semata-mata menjiplak tradisi Buddha. Salah satu dokumen paling kuno yang menjelaskant tren ini adalah Shinto Gobusho yang disusun oleh para pendeta Geko dari daerah Ise yang kemungkinan berasal dari abad XIII; beberapa materinya berasal dari era yang lebih kuno lagi. Terkait dengan persembahan yang disebutkan dalam dokumen, bahwa "Para dewa tidak menginginkan pemberian berupa materi, melainkan kebaikan dan kerendahan hati," dan "Melakukan hal yang baik itu suci; melakukan hal yang jahat itu berdosa.

Para dewa membenci kejahatan, karena kejahatan itu tidak suci," Biksu Muso-Kokushi (1271-1340) mengutarakan kembali sebuah kunjungan ke daerah Ise tak lama setelah periode kompilasi Shinto Gobusho. Muso-Kokushi dari kunjungan tersebut mendapatkan informasi tentang ide-ide persembahan dan pensucian yang mengandung makna etis dan simbolis. Implikasi dari ide ini adalah kesucian terdalam untuk hubungan manusia dengan Tuhan. Buddhisme di Jepang mengalami serangkaian perubahan yang sangat mirip dengan Shinto. Meskipun ada keraguan dari sejumlah biksu Buddha yang memahami sesuatu tentang bentuk-bentuk yang filosofis dari agama mereka, namun akan sulit dibantah bahwa pentingnya Buddhisme pada abad-abad awal perkembangannya di Jepang tergolong berhaluan magis. Sutra sering dibaca bukan dibaca dari muatan intrinsiknya melainkan hasil magisnya. Sebagai contoh, pada abad VII muncul keyakinan bahwa pembacaan Sutra akan menghadirkan hujan, Maha-megha-sutra dianggap mantra yang cocok untuk meminta hujan. Sementara itu Sutra lainnya dibaca untuk menangkal hujan jika orang ketakutan akan bahaya banjir. Ritual puasa para vegetarian (kelompok orang bukan pemakan daging) dilakukan oleh para biksu untuk memulihkan kesehatan atau memperpanjang umur sehingga jiwanya akan suci dan murni jika nanti dipanggil pulang ke nirwana. Konfusianisme hanya disebutkan sedikit dalam pembahasan ini. Konfusianisme muncul melalui sebuah proses rasionalisasi yang dapat diperbandingkan dengan yang kita bahas tentang Shinto dan Buddhisme. Arthur Waley menganggap transisi dari tahap "pengorbanan auguristik" ke tahap "moralistik" adalah bentuk transisi yang mulai ada sekitar tahun 400 SM atau lebih awal lagi dan disempurnakan ketika memasuki zaman Hsiin Tzu (298-238 SM). Pentingnya proses rasionalisasi ialah bahwa proses-proses tersebut menciptakan kemungkinan tindakan religius berdasarkan sejumlah premis dan diaplikasikan secara sistematis dalam berbagai konteks. Tindakan religius yang berpengaruh besar bagi orang Jepang adalah usaha untuk mencari "Keagungan yang Mutlak" (Great Ultimate) atau Tao. Kita dapat membedakannya ke dalam dua bagian. Pertama, usaha untuk mencapai kesatuan/keesaan melalui tindakan-tindakan atau pengalaman-pengalaman pribadi. Kedua, melalui praktek paham Taoisme berdasarkan filosofi bangsa Cina. Menurut Fung Yu-lan, Taoisme Chuang Tzu adalah contoh dari jenis Konfusianisme pertama dan Mencius adalah contoh Konfusianisme jenis kedua. Mencius boleh dibilang sebagai sumber utama munculnya ide yang menyebutkan bahwa keesaan mistis (mystical unity) dapat dicapai melalui tindakan moral atau tindakan kasih sayang. Konfusianisme Jepang menurut versi ajaran Chu Hsi dan Wang Yang Ming (1472-1529) memiliki pandangan kultivasi-diri spiritual yang beragam bentuknya.

Konfusianisme lebih melekat pada pemikiran religius orang Jepang. Banyak teori, khususnya para penganut rasionalisasi Shinto, memberikan kesimpulan demikian. Antara Buddhisme dan Konfusianisme menciptakan hubungan-hubungan partikularistik dengan atasan/pemimpin dalam ikatan yang sakral dan memaksakan kinerja kewajiban tingkat tinggi pada pemimpin demi keadilan atau pengorbanan kepada agama. Keduanya memberikan landasan metafisik, sebuah pandangan tentang alam manusia dan ketuhanan, yang membuat nilai-nilai sentral menjadi bermakna pada sejumlah aspek yang penting. Tindakan religius menjanjikan pengorbanan dan pencerahan, kemenangan makna atas puncak frustrasi jika nilai-nilai dipersatukan, dan kesedihan dalam dasar keegoan jika tidak ada nilai yang melekat. Dalam periode Tukogawa, tindakan religius mendorong munculnya nilai-nilai sentral. Dalam pandangan ketuhanan nilai-nilai kinerja dan partikularisme dipahami sebagai pendefinisian objek religi. Ketuhanan menjalankan tindakan yang mulia terkait dengan siapa yang berada pada hubungan partikularistik dengannya. Di dalamnya mencakup kewajiban timbal-balik kesetiaan dan rasa hutang budi. Pandangan tentang ketuhanan sebagai "landasan keberadaan" (ground of being) mendefinisikan objek religius dengan nilai-nilai partikuralisme dan kualitas. Objek religius tidak "bertindak". Ia bukanlah sebuah objek senyatanya karena kedudukannya berada di luar objek dan subjek, namun cenderung sebagai sebagai identitas diri dan identitas lain yang dapat dicapai oleh aktor/pelakunya. Referensi: Tokugawa Religion: The Values of Pre-Industrial Japan.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.