Pages

11 May 2009

Menggugah Fanatisme Warga Semarang

Sudah tahu kan PSIS senior dibekukan aktivitasnya (kata 'dibubarkan' kok rasanya terlalu kasar). Sisa kompetisi Liga Indonesia akan diteruskan oleh PSIS U21. Sebuah kisah tragis bagi klub kebanggaan kota Semarang. Mengapa separah itu ya? Tak lain karena perilaku para pengelola yang tidak benar-benar mengerti sepakbola. Ngertine mung golek bathi lan balik modal. Dasar bakul ! Dengan entengnya ngomong "sudah keluar modal banyak tapi gak menang-menang". Dari sini terlihat si pemodal tadi sangat komersil. Kalo gak niat & ikhlas mbangun sepakbola Semarang, gak usah ikut-ikutan, bung. Bikin kecewa penggemar wae. Beginilah kalau pekerjaan dikelola oleh "bukan ahlinya". Tinggal nunggu kehancurannya. Saya tidak tahu SDM manajemen PSIS seperti apa, tapi melihat perjalanan selama ini tampaknya mereka tidak punya rasa "handarbeni" sehingga merasa tidak wajib "hangrungkebi". Bila mereka benar peduli PSIS, pastilah berusaha sekuatnya agar klub tetap "sehat". Bukan modal yang jadi kendalanya, bung, tetapi kemauan! Jangankan PSIS, raja Eropa Real Madrid pun terbelit hutang. Lha tapi dasar mereka Madridista tulen, ya tetap menjaga eksistensi. Mencari "patriot sejati" inilah yang sulit didapatkan di lingkungan kita. Pembekuan tim senior PSIS adalah bukti betapa jorjorannya ambisi pengurus yang tanpa perhitungan. Langkah yang selama ini mereka tempuh bukan karena fanatisme terhadap perkembangan sepakbola Semarang, tetapi karena tujuan lain. Ketika tujuan itu tidak tercapai, maka yang jadi korban adalah komoditi yang mereka kendarai (baca: PSIS). PSIS harus kembali ke rumah asalnya, dalam keluarga yang memahami benar seluruh jiwa & raganya. Jangan biarkan "kompeni" lain menguasainya. Cukup sekali ini saja. Panzer Biru dan Snex bersatulah, jangan ada perbedaan di antara kita.

Birahi yang Tertahan

Nafsu berbagai ragam mewarnai manusia. Di antara nafsu yang paling sakti, ibarat seorang pendekar sedang menghadapi dahsyatnya Ajian Serat Jiwa Tingkat X (ingat sandiwara radio "Saur Sepuh"?), nafsu birahi adalah yang paling berat dilawan. Ketika birahi menggelegak, mengamati lenggak-lenggok yang berseliweran di depan warung langganan itu bagaikan melirik mangsa untuk ditelan bulat-bulat. Malam terang namun semilir angin berhembus, gelegakkan gairah inti dari sanubari, meracaulah pikiran untuk kemudian merasa gelisah. Pesona itu semakin menggoda. Ingin menyentuhnya, ingin menjamahnya, ingin ... Menikmatinya secara lahap. Di hamparan hijau di lembah asmara birahi meraja. Bentuk sempurna calon mangsa makin menggoda, tabirkan sukma yang harusnya bersahaja. Tak pedulikan riuh sekitar bergelora. Hasrat telah mematri di ubun-ubun kepala. Segera ingin melampiaskan semua. Birahi adalah pesona dalam balutan sensualitas. Ia meraja sebagai titian menuju puncak kepuasan yang tiada tara. Ingin segera mencium, membelai, mengusap, dan mencumbunya. Namun, adalah manusia yang kala terlena oleh pesona. Tatkala gejolak makin berjaya, lepaslah kendali demi puncak nikmatnya. Birahi adalah obsesi setiap pasang mata di Gottlieb Daimler, Nou Camp, dan Giuseppe Meazza. Ada masa yang tak mau disela. Klimaks itu harus binasa, karena manusia takkan sempurna. Birahi adalah ibarat mimpi tertinggi. Ia penuh halang & rintang. Kepuasan mutlak tak mudah didapat, ia butuh percumbuan panjang. Pesona itu masih menggoda, menari-nari sebelum jatuh dalam istana raja yang ia dambakan. Sensualitasnya memang perlu lawan bercinta yang setara.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.