Pages

12 December 2009

Anatomi Fraud Akuntansi Komputer

Kata kunci: fraud, Korupsi, Pelaporan keuangan, Whistleblowing, Pengendalian internal, Kepemimpinan perusahaan. Pendahuluan Fraud dalam akuntansi adalah sebentuk tindakan, yang menyebabkan kesalahan pelaporan dalam laporan keuangan. Menurut Webster’s New Dictionary, fraud (fraud) diartikan sebagai “fraud yang dilakukan secara sengaja yang menyebabkan seseorang menyerahkan hak milik atau haknya yang sah menurut hukum”. Agen Federal Bureau of Invesigation (FBI) menjelaskan fraud sebagai “konversi fraud dan usaha untuk mendaptkan uang atau hak milik dengan mengungkapkan pretensi yang keliru: termasuk di dalamnya pencurian menggunakan cek palsu, kecuali pemalsuan.” (Farrell dan Franco, 1999). Fraud menyebabkan kerugian besar bagi dunia bisnis dan menimbulkan masalah sosial di tempat kerja. Tujuan Deteksia fraud adalah tindakan pengamatan terhadap fakta-fakta untuk mengetahui indikator-indikator fraud. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesadaran keamanan perusahaan dalam rangka merencanakan dan memfasilitasi usaha bersama guna menanggulangi fraud. Permasalahan Fraud dalam akuntansi komputer merupakan masalah yang secara praktis berpengaruh terhadap perusahaan. Banyak sekali jenis fraud yang terjadi pada berbagai tingkat manajemen. Dari fraud ini muncul permasalahan sebagai berikut: kesulitan dalam mengestimasi kerugian finansial yang diderita oleh dunia usaha karena fraud biasanya tidak dilaporkan atau tidak dipublikasikan; tidak ada satupun uji langsung terhadap fraud yang mampu mengusut tuntas setiap kasus ini; prosedur yang kompleks yang harus dijalankan untuk mendeteksi fraud; kesalahan akuntansi komputer. Landasan Teori Fraud dalam bidang akuntansi komputer pertama kali dikemukakan dalam sebuah newsletter terbitan Commercial Angles (2001a). Di dalam newsletter tersebut terdapat beberapa kelompok pelaku tindakan fraud. Diantara mereka terdapat pihak ketiga, karyawan perusahaan, jajaran manajemen perusahaan, supplier dan konsumen. Apostolou (2000c) menjelaskan tentang bagaimana memahami fraud dan penyalahgunaan jabatan para auditor dan pengawas. Ia menjelaskan tentang latar belakang terjadinya fraud, yang terbagi atas skema tipikal, elemen hukum fraud, teknik deteksi dan pencegahan. Dengan mengacu pada temuan statistik "2002 Report to the Nation on Occupational Fraud and Abuse", Apostolou (2000c) mengemukakan bahwa fraud dan penyalahgunaan wewenang membuat perusahaan-perusahaan Amerika Serikat menderita kerugian sebesar USD 400 miliar/tahun. McNamee (1999) membahas tentang penilaian resiko sebagai sarana untuk membantu mendeteksi dan mengatasi fraud dalam operasi perusahaan. Ia menegaskan bahwa para manajer harus menjalankan tanggung jawab untuk menguraikan adanya fraud. Penilaian resiko dapat pula digunakan untuk membantu pembuatan keputusan yang membantu manajer untuk menguraikan dan memilah-milah tanggung jawab, dari yang teringan hingga terberat. Dalam penelitiannya, McNamee (1999) menganalisis tiga elemen penilaian resiko: identifikasi resiko untuk menentukan bidang-bidang beresiko tinggi; pengukuran resiko untuk menentukan konsekuensi resiko dan kecenderungan terjadinya resiko; dan pemilihan prioritas resiko untuk menentukan sumber terjadinya fraud. Riahi-Belkaoui dan Picur (2001) mengemukakan bahwa perusahaan saat ini semakin rawan terhadap fraud, khususnya dalam lingkungan akuntansi. Kerangka dasar yang berguna untuk mengidentifikasi keadaan yang paling kondusif atas terjadinya fraud menjadi sasaran penelitian kedua pakar ini. Kerangka dasar tersebut dilandasi oleh teori-teori ilmu kriminologi, termasuk pendekatan konflik dan konsensus, teori ekologi, teori transmisi budaya, dan teori anomie. Teori-teori ini memuat penjelasan alternatif tentang fraud korporat, kejahatan kerah putih, fraud dalam laporan keuangan dan kegagalan audit. Bowe dan Jobome (2001) mengadakan penelitian tentang penyusunan kerangka manajerial untuk mengendalikan resiko operasional dan fokus pada fraud perdagangan yang ilegal. Sebuah sampel terdiri atas 37 kasus diamati dari lembaga-lembaga keuangan yang berasal dari 8 negara dalam periode 1984-1989. Sampel menunjukkan bahwa pengendalian internal adalah pertahanan terdepan untuk mencegah akibat dari fraud, dan bawah hukuman yang berlaku sangatlah penting dalam memastikan penanganan efektif atas kerugian yang disebabkan oleh adanya fraud. Metodologi Penelitian Informasi untuk menyelidiki fraud akuntansi komputer dihimpun dari berbagai sumber dalam bentuk data sekunder. Sebagian data dikumpulkan lewat search engine Internet, seperti Google dan Altavista. Makalah-makalah online juga diperoleh dari beberapa website yang relevan, seperti Emerald Newsletter, Business Week, dan Managerial Auditing Journal. Pelaku Fraud Siapakah sebenarnya pelaku fraud (perpretators) itu? Ialah orang yang terlibat dalam aksi fraud. Apakah hubungan kepribadian pelaku fraud dengan ukuran kerugian yang diderita perusahaan? Peneliti mengamati kepribadian melalui kajian umur, jenis kelamin, jabatan, latar belakang pendidikan, dan faktor kolusi. Temuan Dari segi umur, dalam survei tahun 2002 ACFE menemukan bahwa jika pelaku fraud semakin tua umurnya, maka semakin mahal pula skema yang merekabuat. Kerugian yang disebabkan oleh karyawan pelaku fraud yang lebih tua adalah 27 kali dari kerugian yang disebabkan oleh karyawan pelaku fraud yang lebih muda. Dari segi gender, survei membuktikan bahwa laki-laki mendominasi kasus fraud. Hal ini mengingat sebagian besar jabatan manajerial dipegang oleh laki-laki. Jumlahnya tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan perempuan. Dari segi jabatan, semakin tinggi jabatan, semakin tinggi pula resiko terlibat dalam fraud. Dari segi tingkat pendidikan, ACFE melaporkan bahwa mereka yang bergelar sarjana dapat menyebabkan kerugian yang besarnya 3,5 kali kerugian fraud yang dilakukan oleh orang yang berpendidikan lebih rendah, misalnya diploma atau SLTA. Dengan demikian, jika tingkat pendidikan semakin tinggi, maka semakin tinggi pula resiko terjadinya fraud. Terakhir, dari aspek kolusi, tampaknya aspek ini sangat sulit untuk diselidiki. Kolusi adalah kolaborasi ilegal yang sangat sulit dicegah. Terkhusus lagi jika kolusi terjadi antara manajer dan karyawan. Pencegahan Fraud Nilai dari pengendalian internal terdapat baik dalam pencegahan maupun deteksi fraud karena mencegah pada hakekatnya lebih dari pada mengobati. Pengendalian internal yang lemah menciptakan peluang munculnya fraud dan sekitar separuh jumah tindak fraud terjadi dalam bidang keuangan (Vanasco, 1998). Sistem pengendalian internal memiliki empat tujuan: menyelamatkan aset perusahaan; memastikan akurasi dan reliabilitas pencatatan dan informasi akuntansi; meningkatkan efisiensi dalam operasi perusahaan; dan menilai kesesuaian dengan kebijakan dan prosedur manajemen (Haugen dan Selin, 1999). Efektivitas pengendalian internal sebagian besar bergantung pada integritas manajerial. Prosedur mencegahan fraud diharapkan memiliki tiga sasaran terukur dan realistis, yaitu: (1) mengurangi kerugian yang disebabkan oleh fraud; (2) menanggulangi tindak fraud melalui kebijakan proaktif; dan (3) meningkatkan inisiatif deteksi awal terhadap tindak fraud. Teknologi dapat digunakan sebagi alat pencegah dan penanggulang tindak fraud. Salah satunya dikenal sebagai strategi “Logic bomb”, yakni sebuah piranti lunak yang dapat melacak pembajakan di Internet. Kesimpulan Perkembangan teknologi komputer dalam lingkungan perusahaan telah sedemikian rupa mendorong kemampuan manusia untuk menanggulangi tindak fraud. Kerugian yang disebabkan oleh fraud hanya dapat diestimasi, seperti halnya banyak kasus yang tak terlaporkan atau tidak dipublikasikan secara terang-terangan. Namun, kerugian yang diderita jelas sangat besar dan menyusahkan. Perlu ada usaha bersama dari semua pihak untuk menanggulangi dan memerangi tindak fraud dalam dunia bisnis. Pencegahan meliputi tindakan-tindakan yang memaksa pelaku untuk tidak leluasa lagi dalam bergerak. Tidak seorang pun yang menjamin bahwa fraud tidak akan terjadi. Pengendalian internal, praktek ketenagakerjaan yang baik, pelatihan program yang teratur dapat membantu perusahaan untuk mencegah terjadinya tindak fraud. Sumber : A. Seetharaman, M. Senthilvelmuguran dan Rajan Periyanayagam (Faculty of Management, Multimedia University, Malaysia)

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.