Pages

2 November 2009

Teori Konflik dan Groupthink

Sumber: Theories of Conflicts and Groupthink Definisi konflik
Konflik terjadi pada saat anggota kelompok merasa tidak sependapat mengenai dua atau lebih dua buah opsi/pilihan yang dapat diambil oleh kelompok didalam usahanya membuat suatu keputusan, memecahkan suatu permasalahan, atau mencapai sebuah sasaran. Konflik juga terjadi manakala sebuah sasaran yang ingin dicapai seorang individu tidak sejalan dengan sasaran milik individu lain. Folger dan Pool mendefinisikan konflik sebagai "interaksi orang yang saling bergantung satu sama lain yang menemukan sasaran yang tidak sama dan saling mempermasalahkan sesuatu satu sama lain dalam mencapai sasaran tersebut."
Jika sebuah kelompok tidak mengalami konflik, maka akan sedikit sekali hal yang dibicarakan bersama. Satu nilai yang terkandung di dalam konflik ialah bahwa keadaan ini memberikan ujian dan tantangan ide bagi kelompok. Konflik dapat pula bersifat merusak interaksi dan pembuatan keputusan kelompok. Konflik memberikan pengaruh negatif bagi suatu kelompok jika:
(1)menghalangi penyelesaian tugas kelompok, (2)mengganggu kualitas keputusan atau produktivitas kelompok, (3)mengancam keberadaan kelompok
Apakah penyebab timbulnya konflik? Mengapa dapat timbul konflik? Konflik timbul dari perbedaan diantara anggota kelompok (perbedaan dalam kepribadian, persepsi, informasi, dan kekuasaan atau pengaruh). Karena manusia bersifat unik, maka perbedaan sikap, keyakinan, dan nilai yang mereka miliki akan senantiasa muncul ke permukaan dan menyebabkan terjadinya konflik. Tidak masalah seberapa jauh manusia mencoba untuk berempati dengan manusia lain, manusia masih memiliki persepsi individu tentang dunianya. Manusia juga berbeda dalam kadar pengetahuan mengenai berbagai topik. Di dalam kelompok, manusia menjadi semakin sadar bahwa sejumlah anggota dari kelompok tersebut lebih berpengalaman dan lebih berwawasan luas. Perbedaan informasi berperan terhadap perbedaan sikap. Manusia juga berbeda dalam kadar kekuasaan, status, dan pengaruh terhadap manusia lain. Perbedaan dapat menyebabkan konflik. Manusia yang memiliki kekuasaan terhadap manusia lain, dan sebagian besar tidak suka diberitahu apa yang harus dilakukan atau dipikirkan.
Konflik tidak hanya sekedar "terjadi" begitu saja. Kita sering membedakan tahap-tahap atau fase-fase perkembangan konflik. Fisher menemukan bahwa pemikiran kelompok dapat diatur atau dikelola melalui empat fase: orientasi, konflik, keberadaan, dan dukungan. Beberapa orang periset menemukan bahwa fase konflik di dalam kelompok sering terjadi dalam tahap-tahap yang di luar prediksi.
Terdapat tiga fase konflik. Fase pertama adalah konflik antarpersona, dipengaruhi oleh komentar, pertentangan pendapat, dan pernyataan yang kaku dan ambigu. Dalam fase pertama ini, para anggota kelompok dapat saja bersilang pendapat, namun mereka menjaga pertentangan pendapat tersebut untuk diri mereka sendiri. Fase kedua ialah konfrontasi. Pada fase ini pertentang pendapat pribadi berubah menjadi pertentangan pendapat umum; anggota kelompok mengemukakan ketidaksetujuannya di hadapan anggota lain dalam kelompok. Anggota kelompok juga bisa memilih sisi-sisi dan membentuk sub-kelompok serta menggunakan pernyataan yang ambigu untuk menandakan ketidaksepakatan mereka. Fase ketiga disebut konflik substantif, dibuktikan dengan kesepakatan dan ketidaksepakatan yang lebih seimbang; konflik yang jelas berkurang dan anggota kelompok sering lebih konstruktif dan luwes didalam mengeluarkan komentar. Fase ketiga ini sering sulit untuk dimengerti karena ketidaksepakatan tidak diungkapkan secara langsung oleh para anggota kelompok.
Konflik yang terjadi dalam kelompok dapat diarahkan menuju manusia (konflik antarpersona), ide (konflik tugas) atau baik manusia maupun ide. Sebuah kelompok riset menemukan bahwa konflik terjadi karena adanya ketidaksejajaran pemahaman; jika kita berpikir seseorang memiliki sumber daya yang lebih dari yang kita miliki atau memperoleh bagian yang tidak sama dengan yang ia dapatkan, maka akan timbullah konflik. Jika konflik diarahkan pada manusia, maka kita sering pertama-tama berusaha untuk mengatur konflik dengan menghindarkan diskusi yang memancing pertikaian. Jika konflik lebih berorientasi pada tugas, maka biasanya pertama-tama yang kita coba ialah pendekatan integrative dengan mencari solusi-solusi yang tidak disepakati oleh seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan tugas.
Mitos tentang konflik
Manusia sering memiliki kesalahan konsepsi tentang peranan konflik di dalam kelompok karena mere konsensus dan rekomendasi untuk mengatur masing-masing jenis konflik ka berpendapat bahwa konflik adalah buruk dan harus dihindari. Dengan semakin tingginya angka perceraian, kejahatan, dan ketegangan politik internasional, maka dapat dimengerti bahwa manusia memandang konflik sebagai hal yang negatif/merugikan.
Mitos #1: Didalam diskusi kelompok, konflik harus dihindari apapun yang terjadi. Apakah kita sering merasa tidak nyaman jika konflik terjadi dalam kelompok? Kita dapat percaya bahwa kelompok tidak boleh mengalami konflik, bahwa konflik itu adalah kejadian yang luar bias, dan jika seseorang mengungkapkan pandangan yang bertentangan, maka kita harus mencoba untuk menanggulangi ketidaksepakatan atau pertentangan. Akan tetapi konflik adalah sebuah produk sampingan alami dari komunikasi; kecuali jika para anggota kelompok kita berbagi sikap, keyakinan, dan nilai yang sama (dan ini merupakan situasi yang hampir tidak mungkin terjadi), akan terjadi sedikit konflik. Beberapa periset telah menemukan bahwa konflik adalah suatu bagian yang penting, dan bermanfaat didalam komunikasi kelompok. Para anggota kelompok yang percaya bahwa konflik bersifat luar biasa dan tidak sehat menjadi frustrasi manakala mereka dihadapkan oleh berbagai konflik di dalam kelompoknya. Anggota ini sebaiknya menyadari bahwa konflik mungkin akan terjadi dan bahwa konflik adalah bagian yang alami dan sehat di dalam komunikasi kelompok.
Mitos 2: Semua konflik terjadi karena manusia tidak memahami satu sama lain. Pernahkah kita berada dalam situasi pertentangan pendapat yang memanas dengan seseorang dan selanjutnya kita berteriak, "Anda hanya tidak memahami saya!" Dengan mudah dapat kita asumsikan bahwa konflik terjadi karna orang lain tidak memahami posisi kita. Tidak semua konflik terjadi Karen kesalahpahaman. Robert Doolittle menyatakan:
"…banyak konflik terjadi dikarenakan lebih dari sekedar kesalahpahaman. Sejumlah konflik yang paling serius terjadi diantara individu dan kelompok yang memahami satu sama lain dengan baik namun sangat bertentangan. Konflik dapat terjadi bukan karena kesalahpahaman namun oleh klarifikasi yang diberikan oleh seorang anggota kepada anggota lain."
Mitos 3: Semua konflik dapat dipecahkan. Bila dipikirkan secara realistis, banyak dari pertentangan pendapat yang rumit. Perbedaan mendasar antara penganut evangelis Billy Graham dan penganut atheis Madaline Murray-O'Hare kemungkinan akan sulit untuk ditemukan jalan pemecahannya. Hal ini Karena ideologi diantara kedua orang ini sangat jauh berbeda. Jika kita berhadapan dengan konflik didalam sebuah kelompok kecil, maka hal pertama yang perlu diputuskan ialah isu atau masalah mana yang paling dapat dipecahkan. Jika kita berasumsi bahwa semua konflik dapat dipecahkan hanya dengan menjalankan teknik secara benar, maka kita dapat saja menjadi frustrasi. Pada pihak lain, kita harus waspada terhadap apa yang dikenal dengan self-fulfilling prophecy (perkiraan yang memenuhi pendapat diri?). Jika kita secara gegabah menyimpulkan bahwa konflik tidak dapat dipecahkan, maka kemungkinan perilaku kita akan menuju pada pemenuhan prediksi kita sendiri.
Mengatasi Perbedaan Jenis Konflik
Miller dan Steinberg menyebutkan bahwa terdapat tiga jenis konflik antarpersona: pseudo-konflik, konflik sederhana, dan ego-konflik. Dengan mengetahui jenis konflik apa yang terjadi di dalam sebuah kelompok maka orang akan lebih mudah mengatasinya.
Mengatasi Pseudo-konflik: Ketika Terjadi Kesalahpahaman
Sejumlah konflik terjadi karena kesalahpahaman. Pseudo-konflik terjadi jika individu sepakat, namun karena kurangnya komunikasi, maka mereka menjadi tidak sepakat. Pseudo berarti kebohongan atau kesalahan. Pseudo-konflik adalah konflik antara orang yang benar-benar sepakat terhadap permasalahan namun yang tidak memahami bahwa perbedaan yang mereka temui disebabkan oleh kesalahpahaman atau kesalahan interpretasi.
Untuk mengelola pseudo-konflik kita perlu memiliki kemampuan di dalam mendeskripsikan ide-ide serta perasaan-perasaan kepada orang lain, mendengarkan dengan cermat perkataan orang lain, dan memeriksa pemahaman kita tentang makna dari suatu pesan. Untuk menjelaskan perasaan secara tepat kepada orang lain, maka kita perlu mengembangkan iklim yang suportif (mendukung), bukan iklim yang defensif (menarik diri, misalnya). Kunci keberhasilan didalam mengatasi konflik pseudo-konflik ialah memastikan bahwa semua anggota kelompok sangat memahami isu-isu yang sedang dibahas. Kecakapan mendengarkan yang baik adalah aset yang penting didalam mengelola konflik yang menyebabkan kesalahpahaman.
Pendengaran yang aktif, sebuah teknik yang dapat membantu kita untuk memeriksa pemahaman mengenai sudut pandang orang lain, memungkinan kita untuk memeriksa kembali persepsi tentang isi pesan maupun perasaan orang lain. Untuk mempertajam kecakapan mendengar yang aktif, kita perlu untuk:
(1)berhenti, (2)mengamati, (3)mendengarkan, (4)menanyakan, (5)menjabarkan/memparafrasekan isi pesan, dan (6)menjabarkan/memparafrasekan perasaan. Mengelola Konflik Sederhana: Pertentangan pendapat mengenai masalah
Konflik sederhana terjadi pada saat dua orang sama-sama mengetahui apa yang diinginkan orang lain, namun tidak seorangpun yang mampu mencapai sasaran tanpa harus mencegah orang lain agar tidak mencapai sasaran. "konflik sederhana melibatkan seseorang mengatakan, "Saya ingin melakukan X", dan orang lain mengatakan, "Saya ingin melakukan Y", pada saat X dan Y memiliki bentuk perilaku yang tidak sama.
Jika konflik kelihatan jauh dari sederhana, maka tetap saja konflik tersebut dianggap sebagai konflik sederhana mengingat permasalahannya telah jelas dan masing-masing pihak memahami permasalahan tersebut. Jika kita terlibat di dalam pertentangan pendapat didalam suatu kelompok, maka pertama-tama yang harus dilakukan ialah memastikan bahwa kita benar-benar mengerti sudut pandang orang lain dan konflik ini bukanlah pseudo-konflik. Tetaplah jaga pokok permasalahan pada isu yang sebenarnya menjadi topik pembahasan dibandingkan pada kepribadian masing-masing anggota. Cobalah mencapai kesepakatan mengenai sasaran yang masing-masing pihak ingin dicapai. Perlakukan perbedaan pendapat sebagai suatu masalah yang akan dipecahkan. Lakukan pengamatan ulang terhadap proses pemecahan masalah pada tahap akhir. Tentukan permasalahan, kaji permasalahan, tetapkan kriteria, kenali pilihan-pilihan yang mungkin diambil, terapkan kriteria didalam memilih pilihan terbaik, dan lakukan pemecahan masalah. Kemampuan untuk memilih konflik-konflik mana yang dianggap penting dan konflik-konflik mana yang tidak penting merupakan langkah penting didalam mengelola silang-pendapat. Andalkan pada fakta-fakta untuk mendukung kesepakatan kita bukan hanya berdasarkan opini pribadi. Buatlah konflik dalam suatu kelompok sebagai tanggung jawab bersama, bukan tanggung jawab pribadi. Jika konflik tidak dapat dipecahkan atau tidak perlu dipecahkan dengan segera, maka lakukan periode pendinginan (cooling-off) dan bahas masalah yang sama pada pertemuan berikutnya.
Mengelola Ego-Konflik: Mengatasi Pertentangan antar Pribadi
Ego-konflik terjadi ketika individu-individu menjadi defensif terhadap kedudukan mereka karena mereka berpendapat bahwa mereka sedang diserang secara pribadi. Ego-konflik melibatkan emosi, dan sikap difensif didalam diri seseorang sering menyebabkan sikap defensif pada orang lain.
Untuk menengahi ego-konlik, maka cobalah mencari isu-isu yang dipertentangkan oleh individu-individu yang berseberangan pendapat. Kenali dan tekankan landasan bersama yang menghubungkan mereka yang bersilang-pendapat dan dorong mereka untuk menjelaskan urutan kejadian yang menyebabkan konflik.
Miller dan Steinberg berpendapat bahwa pihak-pihak yang bersilang pendapat perlu mengungkapkan kepentingan mereka, karena bila tidak demikian maka akan terjadi kejadian saling serang.
Doronglah pendengaran aktif dan cobalah menjaga permasalahan tetap pada intinya. Ubah konflik menjadi suatu permasalahan yang dapat dipecahkan Jika perbedaan-perbedan kepribadian menjadi semakin menegangkan dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk meredakan ego-konflik, maka kelompok dapat menerapkan prosedur atau aturan yang memperbolehkan adanya perbedaan.Adapun teknik-teknik yang dapat meredakan ketegangan ego-konflik antara lain:
1.Pengenalan dan pemahaman terhadap perasaan orang lain 2.Penentuan perilaku khusus apa yang menyebabkan ketegangan 3.Kemampuan dalam menemukan intensitas dan pentingnya suatu masalah 4.Keputusan mengundang orang lain untuk bergabung dan bekerja sama dalam memecahkan masalah 5.Membuat pernyataan relasional yang positif.
Fokus pada Kepentingan Bersama. Gaya kooperatif dipengaruhi oleh fokus terhadap wilayah-wilayah kesepakatan dan hal-hal yang ada pada semua pihak. Konflik dipengaruhi oleh sasaran. Individu yang terlibat ke dalam konflik menginginkan sesuatu. Kecuali jika sasaran (atau sasaran-sasaran) tersebut jelas bagi semua individu maka akan sulit untuk mengelola konflik dengan baik. Jika kita terlibat ke dalam konflik maka kita perlu menentukan sasaran kita itu apa. Identifikasi sasaran dengan rekan kelompok. Terakhir, kenali sasaran mana yang terlewatkan dan perbedaan apa yang terjadi.
Kita tidak boleh membingungkan sasaran dengan strategi untuk mencapai apa yang kita dan teman yang bersitegang dengan kita inginkan. Klarifikasi landasan sasaran merupakan jalan yang terbaik untuk merunut kembali kepentingan bersama berdasarkan keuntungan kelompok.
Ciptakan banyak opsi untuk memecahkan permasalahan. Sejumlah kelompok yang saling bersitegang dapat diuraikan melalui lebih dari satu pendekatan. Ada kalanya bahwa anggota kelompok yang bertarung memiliki kedudukan yang sama kuat sehingga akan sangat sulit menyatukan kehendak mereka. Di sinilah peranan dari opsi pemecahan permasalahan. Fokus kita tidak boleh pada satu pendekatan saja, melainkan harus kreatif mengadakan pendekatan positif yang lain.
Groupthink: Tidak terjadi konflik
Groupthink adalah sebuah ilusi kesepakatan. Groupthink terjadi manakala sebuah kelompok berusaha untuk mengurangi konflik dan mencapai suatu konsensus tanpa adanya pengujian, pengkajian, dan evaluasi ide secara kritis. Jika sebuah kelompok mencapai keputusan terlalu cepat, maka kelompok tersebut tidak menganggap implikasi dari keputusan tersebut secara benar. Groupthink menyebabkan konsensus yang tidak efektif; terlalu sedikit konflik akan merendahkan kualitas keputusan kelompok. Jika sebuah kelompok tidak memiliki waktu untuk menguji konsekuensi positif dan negatif dari keputusan-keputusan alternatif maka kualitas dari keputusan tersebut akan cenderung lebih buruk. Irving Janis berpendapat bahwa banyak keputusan kebijakan pemerintah ia nilai kurang berkualitas karena dihasilkan oleh groupthink.
Gejala-gejala Groupthink
Pemikiran kritis tidak terwujud dan tidak dihargai. Jika kita sedang bekerja pada sebuah kelompok yang menganggap bahwa pertentangan pendapat atau kontroversi adalah sebuah sifat yang kontraproduktif, maka peluang munculnya groupthink akan lebih besar.
Anggota percaya baywa kelompok dapat melakukan apa saja. Individu menghilangkan ancaman yang potensial terhadap kelompok dengan menganggapnya sebagai masalah yang kecil. Jika kelompok secara konsisten terlalu percaya diri dalam menghadapi permasalahan maka kelompok tersebut menderita gejala Groupthink.
Anggota kelompok terlalu perhatian pada penilaian tindakan mereka. Anggota kelompok berpendapat bahwa mereka sedang menjalankan sesuatu dengan bentuk terbaiknya dan demi hal yang terbaik bagi kelompok. Maka dari itu, kelompok yang mengalami groupthink memiliki kebiasaan merasionalisasi kedudukan mereka dalam suatu permasalahan.
Anggota memberi tekanan bagi siapa saja yang tidak mendukung kelompok. Ada bahasa persatuan yang menyebutkan kontroversi dan konflik yang dipicu oleh anggota yang tidak sepakat akan mengancam kesatuan kelompok dan semangat kelompok (esprit de corps). Maka dari itu anggota tersebut tidak diberi kesempatan untuk berpendapat melainkan dihukum.
Anggota kelompok sering percaya bahwa mereka telah mencapai konsensus yang benar. Satu permasalahan yang signifikan didalam yang menderita groupthink ialah bahwa para anggota tidak waspada akan terjadinya groupthink. Mereka berpednapat bahwa konsensus yang benar telah berhasil diraih.
Anggota kelompok terlalu memberi dukungan kepada pemimpin kelompok. Pemimpin kelompok kecil sering terpilih karena mereka memiliki ide terbaik, dapat memotivasi anggota kelompok, atau mengabdikan dirinya untuk sasaran kelompok lebih dari orang lain. Jika anggota kelompok memberikan penekanan terlalu berat pada kredibilits atau 'kesucian' pemimpin mereka, maka akan terjadilah groupthink.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.