Pages

19 November 2009

Lebih Dekat dengan Dialek Candiroto

Desa Candiroto terletak di Kecamatan Candiroto, termasuk ke dalam wilayah Kedu bagian Utara. Sebenarnya, dialek yang sering digunakan tidak berbeda jauh dengan daerah-daerah di sekitarnya. Tidak ada masalah dalam berkomunikasi, termasuk dalam penggunaan istilah-istilahnya. Namun, jika dibandingkan dengan kawasan lain seperti Kota Semarang, kota-kota di jajaran Pantai Utara, atau daerah Karesidenan Pati, Surakarta, dan Yogyakarta, maka akan tampak terlihat keunikannya.

Dialek bagi sebuah daerah adalah ciri khas primitif daerah tersebut. Istilah ”primitif” di sini hendaknya kita beri makna yang positif. Dengan kata lain, bukan berarti ”primitif” itu berarti ”kampungan”, melainkan masih memiliki ciri khas tradisional yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Lepas dari pada itu, komunikasi merupakan sarana utama yang menghubungkan kita dengan orang lain. Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan bahasa daerah. Untuk itu akan baik sekali jika kita melestarikannya sebagai sumbangsih kita kepada bangsa Indonesia. Boleh jadi masukan istilah dari bahasa daerah akan semakin memperkaya khasanah bahasa Indonesia.

Perbandingkan dialek berikut penggunaan istilah yang dibahas di sini meliputi penggunaan kata ganti orang, kata tunjuk, kata kerja, dan istilah-istilah khusus lain yang membedakan Candiroto dengan daerah lainnya di Jawa Tengah. Nyong, Dhewe dan Dhe’e. Terdapat sedikit persamaan saat orang Candiroto menyebut diri. Orang asli Candiroto lazimnya menyebut dirinya nyong yang berarti saya atau aku. Jika ada orang mengaku orang Candiroto dan dia tidak mengakui nyong, maka jangan percaya kalau dia itu orang asli Candiroto. Perlu diketahui bahwa nyong bukanlah Inyong yang digunakan di daerah Pantai Utara atau daerah Banyumas. Perbedaannya bahwa kita mengucapnya langsung nyong tanpa diawali huruf i-. Pemakaian nyong untuk menunjuk keterangan milik lebih ”boros” dibandingkan bahasa Jawa yang menggunakan aku. Maksudnya, jika dengan aku kita menyebutkan ”Iki bukuku” (ini buku saya), maka orang Candiroto menyebutkannya dengan ”Kiye bukune nyong” (iki bukunya saya). Dalam tata bahasa Indonesia mungkin susunan kalimat tersebut dianggap mengalami ”redundansi” atau berlebih-lebihan. Perhatikan pula bahwa kata iki berubah menjadi kiyé. Kata ganti orang pertama jamak adalah dhewe, yang sama artinya dengan ”kita”. Tentunya telah jelas penjelasannya karena istilah dhewe atau awake dhewe juga umum digunakan oleh orang Jawa.

Sementara itu kata dhe’e (sebagian orang Jawa dengan dialek lain menyebutnya dheke, awakmu atau rika), adalah kata ganti orang kedua – lazimnya tunggal. Dhe’e adalah pengganti bagi kowe (atau kon di daerah Jawa Timur). Bandingkan: "Kowe arep lungo ngendi?" (Kamu akan pergi ke mana?) dengan "Dhe’e arak (lungo) nang endi?" (Kamu akan pergi ke mana?) Contoh di atas menunjukkan perbedaan kalimat dalam Bahasa Jawa (i) dan kalimat yang sering digunakan di Candiroto (ii). Perhatikan kata arep berubah menjadi arak dan kata ngendi berubah menjadi endi dengan tambahan kata nang.

Kata dhe’e berbeda dari kata dheweke, karena kata yang kedua ini merujuk pada orang ketiga. Terkadang orang Candiroto menggunakan istilah dheknene. Artinya sama, yakni ”dia”. Contoh ”Dheweke/dheknene wis teka opo durung?” (dia sudah datang apa belum?) Jika dhe’e digunakan untuk menunjuk orang kedua yang umurnya sebaya, kawan bermain, atau orang yang usianya lebih muda, maka istilah saman digunakan untuk memanggil orang yang lebih tua, memanggil orang dengan tujuan menghormati, atau orang yang belum akrab dengan kita. Istilah saman dapat disebut sebagai bentuk slang dari kata sampeyan, sebuah istilah yang umum digunakan oleh orang Jawa. 

Kiye dan Kae. Dua kata ini adalah kata tunjuk. Kata kiye digunakan untuk menunjukkan sebuah benda yang terletak di dekat kita. Fungsinya sama dengan kata iki (yang berarti ”ini”). Sementara itu kata kae digunakan untuk menunjuk sebuah benda yang terletak jauh dari kita. Fungsinya boleh dibilang sama dengan kata iku (yang berarti ”itu”). Bandingkan: "Kiye wedange diombe dhisik? (Ini minumannya diminum dulu) dengan "Iki wedange diombe dhisik" (Ini minumannya diminum dulu) Ungkapan khusus Pada dasarnya istilah yang digunakan tidak jauh berbeda.

Lebih lanjut, kita perlu mengenal istilah-istilah yang lebih sering digunakan oleh orang Candiroto antara lain sebagai berikut:
- Madhang/madhangan. Adalah kata pengganti mangan yang berarti ”makan”. Memang antara madhang, madhangan, dan mangan sering silih berganti pemakaiannya, namun demikian madhang dan madhangan lebih khas terdengar di Candiroto. Sedangkan penggunaan istilah mangan sifatnya lebih umum bagi orang Jawa;
- Rempon. Pada daerah tertentu istilah rempon ini mengalami peyorasi (pemburukan makna), mengarah kegiatan untuk mendekati lawan jenis yang lebih mendekat pada tindakan seksual. Namun, di Candiroto, kata rempon tidak lebih dari duduk berkumpul membicarakan sesuatu hal. Kata ini sama artinya dengan jagongan atau duduk mengobrol.
- Ngangsag. Istilah ngangsag digunakan oleh pekerja perkebunan (cengkeh atau kopi). Kurang lebih maknanya adalah kegiatan untuk memetik hasil kebun (cengkeh atau kopi).
- Ngliyep. Istilah ini mengandung arti ”tidur sebentar untuk melepas lelah”. Seperti dalam kalimat, ”Nyong tak ngliyep sedhelok ah” (Saya akan tidur sebentar ah).
- Nglempus. Istilah nglempus mungkin digunakan pula oleh penduduk selain Candiroto, akan tetapi pengalaman saya jarang sekali istilah nglempus di daerah luar Candiroto. Artinya adalah ”tertidur pulas” – karena mengantuk berat atau kelelahan sehingga tidak dapat diganggu. Contoh kalimatnya ”Lha kae bocahe gek nglempus” (Itu lho, anaknya sedang tertidur pulas).
- Nglempoweng/nglempoeng. Ini sebuah istilah langka yang penulis sendiri tidak mengetahui dari mana asal-usulnya, tetapi yang jelas sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Istilah nglempoweng/nglempoeng memiliki arti ”lemas, lunglai, tidak berdaya”. Biasanya karena kekelahan atau tidak bertenaga. Misalnya dalam kalimat ”Bali-bali kok nglempoeng” (pulang-pulang kok jadi lemas tak bertenaga). Dapat pula diartikan sebagai ”kondisi badan yang kurang sehat.” contoh kalimatnya ”lha kiye Pak Dhe agek nglempoeng” (Ini Pak Dhe sedang tidak enak badan).
- Mberuh. Istilah mberuh terkesan lucu karena jarang ditemukan di daerah yang letaknya jauh dari kawasan Candiroto. Lebih lazimnya orang Jawa menggunakan kata mbuh/embuh. Artinya adalah ”tidak tahu/tidak mengerti”.
- Jidhor. Istilah jidhor memiliki arti ”masa bodoh” atau ”tidak peduli” terhadap sesuatu hal. Tujuannya kurang lebih sama dengan istilah karepmu, atau sak karepmu.
- Nda’an. Istilah nda’an digunakan dalam bentuk interogatif. Kedudukan nda’an setara dengan benarkah atau apa benar. Adapun letaknya biasanya berada di bagian akhir kalimat. Contoh: "Mas Guru arak mrene saiki, nda’an?" (Apakah Mas Kliwon akan kemari sekarang?) Istilah nda’an juga dapat langsung ungkapkan untuk menegaskan apakah pernyataan lawan bicara kita itu benar atau salah. Biasanya orang mengatakannya masih diliputi keraguan akan kebenaran informasi dari lawan bicara tersebut. Contoh: X: "Eh, mengko nek ora melu kumpulan, dhewe ora entuk jatah beras lho" (Eh, jika nanti kita tidak ikut rapat, maka kita tidak akan mendapatkan jatah beras, ho) Y: "Nda’an?"
- Arak. Istilah arak sering menjadi bahan candaan di daerah yang mengartikan kata arak sebagai ”jenis minuman beralkohol”. Seringkali ada ada seloroh ”Nyong arak mangkat saiki” ditanggapi dengan ”Arak? Ya diombe...”. Sebagian besar orang Jawa lebih sering menggunakan kata arep. Lebih lanjut, terdapat satu lagi ungkapan, yakni apak. Istilah ini dapat pembaca jumpai di Kecamatan Bejen (Kab. Temanggung) dan sebagian wilayah Kabupaten Kendal dan Batang.

Istilah yang tidak kalah menarik dibahas adalah sumpah serapah. Ungkapan-ungkapan yang oleh sebagian orang dianggap sebagai hal yang tabu untuk dikemukakan kepada khalayak ramai, adalah sebenarnya kekayaan daerah yang jika dikaji secara positif akan bermakna lebih dari sekedar sumpah serapah. Kelompok ungkapan ini memang mengandung makna vulgar, namun demikian penduduk Candiroto dapat ”menghaluskannya” dengan memperkenalkan ungkapan-ungkapan seperti cepet, cemet untuk kata ”celeng”, dan asem untuk kata ”asu”.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.