Pages

29 October 2009

Peran Informasi Anggaran dalam Evaluasi Kinerja

Sumber: Michael Briers & Mark Hirst. Pengembangan Teori
Kajian tentang teori proses penganggaran menuju pada penyempurnaan statistik penelitian empiris. Meskipun terdapat sejumlah pengecualian (misal, penelitian oleh Brownell 1982), namun kecenderungan ini tampak terlihat jelas dalam perkembangan teori dari dulu hingga sekarang. Dari sekian banyak permasalahan yang dibahas, antara lain dengan memasukkan hipotesis variabel-variabel dengan penjelasan yang tidak sepenuhnya mendukung teori. Sebagai contoh, beberapa penelitian menggunakan diagram balok dengan panah yang menunjukkan variabel-variabel yang terlibat dalam hubungan sebab-akibat. Meskipun cara ini tergolong sebagai cara yang terlalu teliti untuk mengkomunikasikan persaingan, namun argumen pendukung dalam beberapa penelitian hanya memuat uraian yang sifatnya sugestif (Kenis, 1979).
Selain hal di atas, bidang lain yang dibahas ialah kebergantungan penelitian pada argumen dan/atau bukti yang mendukung hipotesis. Sebagai contoh, hipotesis Brownell (1982) disusun menggunakan analisis operan dan teori keseimbangan (balance theory). Analisis operan adalah sebuah teori motivasi yang mengasumsikan perilaku sebagai sesuatu hal yang dibentuk oleh lingkungan, merupakan hasil dari proses kognitif. Analisis operan telah menjadi inti dari sejumlah kontroversi dan oleh sebab itu tidaklah wajar bila Brownell tidak menyinggung teori ini dalam kritisinya (Locke, 1977). Namun demikian, Brownell (1982) tidak berusaha untuk membedakan atau membahas hubungan antara analisis operan dan teori keseimbangan. Sekali lagi hal ini tidak wajar karena jika seseorang percaya akan pengkodisian operan, maka referensi kepada kejadian-kejadian kognitif internal (seperti yang tercantum dalam teori perilaku) tidak akan tepat untuk membuat prediksi mengenai perilaku (Mitchell 1976, 1979). Tidak jauh berbeda, Govindarajan (1984) menggunakan teori kontinjensi untuk mendukung proposisinya tentang efektivitas unit-unit bisnis. Namun dalam kajiannya, ia tidak menyinggung kritik terhadap teori ini (misal, Wood 1979; Schoonhoven 1981; Otley 1980; Hopwood 1983).
Seperti yang dikemukakan di atas, jika argumen-argumen dasar diberikan untuk mendukung hipotesis, maka argumen tersebut akan cenderung sekilas saja sifatnya, tanpa adanya usaha yang maksimal untuk menghubungkan rasional baru dan yang sedang ada sekarang untuk mempengaruhi. Sebagai misal, Brownell & Hirst (1986) berusaha menghubungkan dua penelitian terdahulu, satu dipengaruhi oleh teori motivasi untuk mengembangkan hipotesis, dan satunya lagi dipengaruhi oleh teori peran dan penelitian terkait. Namun, Brownell & Hirst tidak melakukan pengamatan tentang hubungan antara teori-teori tersebut. Meskipun sedikit perkembangan mungkin terjadi dalam hal norma pada banyak displin ilmu sosial, namun proses ini menimbulkan masalah karena tujuan diadakannya penelitian adalah untuk merekonsiliasi riset.
Untuk melengkapi penjelasan tentang hubungan antar variabel, pengembangan teori memerlukan seleksi atas hasil atau variabel-variabel terikat. Meskipun seleksi ini dibatasi oleh variabel-variabel bebas (dan dalam hal ini, supervisory style), namun para periset individu juga memiliki sejumlah diskresi. Penelitian-penelitian terdahulu (Argyris 1952; Hofstede 1968; Onsi 1973; Hopwood 1973) membahas tentang berbagai hasil sikap, psikologis, dan perilaku yang berhubungan dengan sistem pengendalian anggaran. Kemudian penelitian selanjutnya oleh Kenis (1979), Brownell (1982), Brownell & Hirst (1986), dan Hirst (1987) membahas tentang penampilan kerja (job performance) secara menyeluruh. Terdapat banyak alasan mengapa penelitian-penelitian ini menimbulkan masalah.
Pertama, jika kinerja anggaran merupakan komponen pokok dari penampilan kerja menyeluruh (baca Hopwood, 1973), maka akan muncul pertanyaan tentang status penampilan kerja sebagai variabel terikat. Sebagai contoh, Otley (1978) dalam analisisnya berpendapat bahwa hubungan yang kuat terjadi antara supervisory style (gaya kepemimpinan) dan kinerja anggaran, dengan realisme/akurasi anggaran mempengaruhi kedua variabel. Sementara itu, Merchant (1985) mengemukakan bahwa kinerja anggaran barangkali merupakan variabel terikat bagi semua penelitian yang membahas tentang pengendalian (baca pula Collins et al. 1987). Kedua, meskipun kinerja anggaran bukanlah komponen pokok dari penampilan kerja menyeluruh, namun pertanyaan tentang status variabel terikat yang disandang oleh penampilan kerja tetaplah dipertahankan. Sebagai contoh, Brownell (1982) mengakui bahwa supervisory style mungkin dapat memerankan fungsi penampilan kerja. Ketiga, terlepas dari permasalahan yang ada hubungannya dengan status, penampilan kerja menyeluruh merupakan sebentuk konstruk yang ambigu yang memuat banyak sekali dimensi (Otley, 1980). Karena dimensi-dimensi berikut hubungannya diperbandingkan (Hopwood 1973; Brownell 1982; Govindarajan 1984; Luckett & Hirst 1989) dan selalu berubah dari waktu ke waktu (Hopwood 1979; Chua & Lowe 1984), penentuan hubungan yang spesifik namun umum antara penampilan kerja menyeluruh dan gaya kepemimpinan adalah hal yang sulit.
Mengingat bahwa penelitian-penelitian terakhir belum membahas isu-isu baik tentang status variabel terikat penampilan kerja maupun tentang tidak adanya kejelasan konseptual, maka kontribusi teoretikalnya masih sangat terbatas. Akan tetapi, jika kinerja anggaran bukanlah komponen pokok dari penampilan kerja menyeluruh, maka isu-isu tentang kejelasan konseptual menghasilkan pertanyaan tentang nilai pemfokusan penampilan kerja menyeluruh di dalam penelitian-penelitian tentang supervisory style.
Untuk menjelaskan penampilan kerja menyeluruh, telah dilakukan penelitian tentang sifat multidimensi yang dimliki oleh supervisory style. Meskipun Argyris (1952) meneliti gaya kepemimpinan tersebut dalam lingkup penggunaan anggaran secara berbeda-beda, namun Hopwood (1973) lah yang menguraikan gaya kepemimpinan dalam lingkup batasan dan cara penggunaan anggaran dalam evaluasi kinerja. Terdapat kecocokan dua dimensi ini dalam penelitian Hopwood, khususnya, gaya kepemimpinan “yang terikat oleh anggaran” yang dimasukkan dalam evaluasi “pencapaian anggaran” serta penggunaan kriteria ini di dalam evaluasi. Sebaliknya, profit conscious style meliputi kebergantungan pada “masalah biaya” (bersama dengan kriteria non-anggaran) dan penggunaan kriteria di dalam pemecahan masalah (pengajuan pertanyaan). Teori Hopwood (1973) mengasumsikan pencocokan ini. Lebih penting lagi, pencocokan ini masih menyisakan pertanyaan mendasar. Namun pencocokan semacam ini tidak perlu harus terjadi pada semua situasi. Misalnya, pencocokan antara tingginya kebergantungan dan pemecahan masalah adalah hal yang mungkin terjadi. Pengaruh-pengaruh apakah yang kemungkinan ditemukan dalam gaya kepemimpinan ini seperti ini? Cara penggunaan anggaran dalam evaluasi kinerja dapat meluas hingga di luar dimensi pemecahan masalah/evaluasi sehingga mencakup penggunaan anggaran sebagai “needlers” dan sebagai sarana untuk strukturisasi tindakan dan mendorong kinerja (Argyris, 1952; De Coster & Fertakis, 1968; Hopwood, 1973). Pengaruh dan hubungan yang terpisah diantara berbagai jenis supervisory style masih belum pasti.
Terakhir, karena adanya pengaruh supervisory style, maka tidaklah mengejutkan bahwa penelitian telah pula mengamati keadaan yang mampu menjembatani pengaruh dari berbagai gaya dan akibat dari gaya yang digunakan. Penelitian-penelitian tersebut di atas pada umumnya menggunakan teori kontinjensi sebagai dasar pengembangan hipotesis (Merchant, 1981, 1984; Govindarajan, 1984; Brownell, 1985; dan Jaworski, 1988). Akan tetapi, ada kontroversi muncul melingkupi teori kontinjensi, mulai dari tidak adanya kejelasan konseptual (Otley, 1980; Schoonhoven, 1981) hingga masalah-masalah fundamental tentang sifat perubahan, dan peran pilihan, dalam sistem desain organisasi dan pengendalian (Wood, 1979; Burrell & Morgan, 1979). Dengan sedikit pengecualian (Brownell, 1985) para periset bidang akuntansi belum menemukan ambiguitas di dalam konstruk dasar seperti “ketidakpastian lingkungan” (Boyd, 1984). Selain itu, meskipun periset akuntansi telah mulai mengakui adanya peranan pilihan strategis di dalam desain sistim pengendalian (Govindarajan dan Gupta, 1985; Simons, 1987; Govindarajan, ), proses yang digunakan untuk memilih supervisory style belum dibahas secara mendalam (Dent, 1986). Tanpa adanya pengetahuan tentang proses-proses ini akan terlalu dini kiranya untuk menyimpulkan apakah perubahan langsungm aupun tidak langsung gaya kepemimpinan merupakan sarana untuk mempengaruhi perilaku organisasi.
Secara ringkas dapat dikemukakan bahwa, perkembangan terakhir teori gaya kepemimpinan terpusat pada variabel-variabel moderator dan anteseden. Perkembangan ini memperluas lingkup teori. Namun, analisis terdahulu menyimpulkan perlunya perluasan lebih lanjut untuk mengetahui sifat multidimensi sejumalh variabel termasuk gaya kepemimpinan, lingkungan, teknologi dan sebagainya. Terlebih lagi, kedalaman pemahaman telah sedikit bertambah sejak dilakukannya penelitian awal. Lebih spesifik, misalnya, kita sekarang mengetahui sedikit lagi hal tentang proses yang digunakan oleh gaya kepemimpinan untuk mempengaruhi perilaku. Pengembangan teori tidak hanya memperluas pemahaman kita tentang fenomena ini, namun juga menambah informasi tentang pilihan-pilihan desain studi empiris, termasuk pemilihan metode pengumpulan data, ukuran variabel dan prosedur analisis data (Schoonhoven, 1981; Kidder, 1981).
Kajian empiris
Penelitian terdahulu dalam bidang gaya kepemimpinan cenderung menyertakan studi-studi kasus deskriptif (misal, Argyris, 1952; Schiff & Lewin, 1968; Lowe & Shaw, 1968). Sebaliknya penelitian sekarang cenderung berupa survei kuesioner cross-sectional yang memuat pengujian hipotesis (Kenis, 1979; Govindarajan, 1984; Govindarajan & Gupta, 1983; Brownel & Hirst, 1986; Govindarajan, 1984; Jaworski, 1988). Perlu diperhatikan bahwa ada beberapa pula penelitian survei yang juga memuat komponen studi kasus (Hopwood, 1973; Otley, 1978; Brownell, 1987a).
Kelebihan dan keterbatasan survei kuesioner telah dikenal oleh banyak kalangan. Intinya, survei kuesioner menukarkan validitas internal dengan validitas eksternal dan memuat data dalam bentuk yang pas untuk analisis (Campbell & Stanley, 1966; Kidder, 1981). Meskipun demikian, ada landasan permasalahan tentang studi empiris dalam bidang gaya kepemimpinan. Yaitu penelitian “yang didorong oleh metode (method-driven)” sebagai kebalikan dari penelitian “yang didorong oleh fenomena” dan sejumlah faktor yang menyebabkan pemisahan hubungan antara pernyataan teori dan uji empiris.
Kegunaan nyata dari survei kuesioner cross-sectional membatasi jenis fenomena dan hubungan yang digunakan untuk penelitian. Misalnya, studi-studi cross-sectional membandingkan studi-studi lingitudinal jika fokus ditujukan pada proses-proses yang digunakan di dalam desain, penggunaan, dan pengaruh sistem pengendalian anggaran. Perlu diperhatikan bahwa kesemua proses memiliki dimensi temporal. Terlebih lagi, survei-survei kuesioner cenderung tidak memberikan informasi yang valid tentang variabel-variabel yang sifatnya rahasia dan sensitif seperti yang terkait dengan perilaku politik, irasional dan/atau disfungsional (Moser & Kalton, 1979; Collins et al. 1987).

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.