Pages

29 October 2009

Activity-based Costing

Pendahuluan Alokasi sistem activity-based costing mencakup tiga tingkatan sebagai berikut: a) unit level, b) batch level, c) product-sustaining level dan d) facility level (general operations). Unit level mencakup jenis kegiatanyang harus dilakukan dalam setiap unit produksi. Batch level meliputi kegiatan yang harus dilakukan untuk setiap identitas produk, bukan setiap unit. Misalnya kegiatan batch-level perusahaan Patio Grill Company meliputi set-up, pembelian, penanganan material, jaminan mutu, dan pengepakan/pengiriman alokasi biaya kegiatan. Product-sustaining level adalah kegiatan yang diperlukan untuk mendukung semua garis produk, akan tetapi tidak dilakukan saat unit atau batch of produk dihasilkan. Pada perusahaan Patio Grill Company, tim proyek mencantumkan biaya desain teknis pada alokasi kegiatan product-sustaining level. Facility level meliputi kegiatan untuk membantu kelancaran proses produksi.
Mekanisme Activity-based Costing pada sektor jasa
Secara umum, tujuan diterapkannya sistem pembiayaan berbasis kegiatan (activity-based costing) pada industri jasa tidak jauh berbeda dari yang diterapkan dalam perusahaan manufaktur. Para manajer perusahaan bidang jasa menginginkan informasi yang lebih akurat tentang biaya pembuatan/produksi jasa yang mereka jual.
Contoh dari activity-based costing sektor jasa ialah yang berlangsung di perusahaan jasa Pennsylvania Blue Shield. Urutan kegiatan pada perusahaan ini ialah sebagai berikut: data klaim awal dimasukkan ke dalam komputer (unit level) > klaim dikirimkan dari satu tahap pemrosesan ke tahap pemrosesan berikutnya (batch level) > mengelola hubungan dengan paramedis dan rumah sakit yang menyediakan jasa pelayanan kesehatan kepada pemegang klaim (product-sustaining level) > menjalankan administrasi umum pada unit usaha klaim (facility level).
Kode etik dan fokus activity-based costing
Contoh kasus pada perusahaan Xavier Auto Parts, Inc., dapat digunakan untuk menunjukkan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk terlaksananya sistem activity-based costing, sebagai berikut:
1. menguraikan masalah
Bagian suku cadang mesin dan perusahaan cabang yang berada di Charlotte menunjukkan tingkat profitabilitas yang memuaskan selama dekade 1980an dan 1990an. Akan tetapi pada tahun 2000 pabrik yang berada di Charlotte mengalami penurunan profitabilitas, meskipun nilai penjualannya bertambah. Trend ini berlangsung hingga beberapa tahun kemudian. Manajemen pada kedua divisi perusahaan mengadakan rapat untuk membahas penurunan profitabilitas yang mereka alami.
2. menentukan strategi pada setiap bagian/unit usaha
Manajemen mengambil dua langkah penting, yaitu mengadakan studi activity-based costing untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang profitabilitas dan melakukan pemeriksaan tingkat tinggi untuk menentukan apakah strategi full-line-producer tepat untuk dijalankan.
3. activity-based costing
Berkurangnya profitabilitas menyebabkan inefisiensi fasilitas dan sarana yang tersedia pada perusahaan, sehingga efektivitas kerja menjadi terganggu.
4. rekomendasi tim activity-based costing
Rekomendasi yang positif diperlukan untuk mendukung perbaikan kondisi sehingga dapat menciptakan efisiensi kerja.
5. respon manajemen puncak
Manajemen memberikan respon terhadap validitas pelaksanaan sistem activity-based costing.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.