Pages

31 October 2009

Alice in Chains

Dalam banyak aspek, Alice in Chains tergolong ke dalam band beraliran heavy metal. Kemunculan grup ini menandai era pasca Van Halen dengan sentuhan post-punk. Alice in Chains memiliki karakteristik bermusik grunge.
Grup in idibentuk oleh Layne Staley pada pertengahan 1980an dengan nama "Alice N Chains". Ia bertemu dengan Jerry Cantrell pada tahun 1987 di kota Seattle dan sejak saat itu mereka berdua bekerja sama, mengubah nama menjadi "Alice in Chains". Duo vokalis dan gitaris ini kemudian menggaet pemain bas Mike Starr dan penabuh drum Sean Kinney. Penampilan awal Alice in Chains ialah tampil di klub-klub musik lokal Seattle. Pada tahun 1989 Alice in Chains dikontrak oleh Columbia Records. Awal 1990an, label pertama muncul dengan nama We Die Young LP. Perkenalan album ini terjadi saat mereka tampil bersama Van Halen, Poison, dan Iggy Pop, dan ternyata menjadi hit. Di tengah persiapan album kedua, Alice in Chains mengeluarkan versi akustik EP pada tahun 1991 dan mendapat tanggapan yang luar biasa.
Menjelang peluncuran album kedua, Seattle juga dikejutkan dengan munculnya band sensasional, Nirvana. Keberadaan grup baru ini membuat Alice in Chains tidak terlalu laku pasaran baik dalam genre musik alternatif maupun metal. Namun demikian Alice in Chains tetap berproduksi dengan meluncurkan lagu berjudul "Would?". Kiprah berikutnya ialah tahun 1994 melalui EP Jar of Flies dan menjadi album EP pertama yang meraih "top chart" tangga lagi di Amerika Serikat. Akhir tahun tersebut Staley juga ikut konser bersama Gacy Bunch, sebuah supergrup asal Seattle yang berkesempatan mengiringi Mike McCready (Pearl Jam), Barrett Martin (Screaming Trees), dan John Saunders. Setelah sempat mengganti nama lagi menjadi "Mad Season" dan mengeluarkan album Above pada tahun 1995, namun akhirnya mereka kembali ke nama semula, Alice in Chains. Album ketiga mereka sukses meraih tangga teratas musik Amerika. Pada tahun 1996, Alice in Chains tampil dalam MTV Unplugged. Terlepas dari keberhasilan ini, album terakhir mereka dinilai tidak menjamin masa depan grup ini.
Dua bulan sebelum Alice in Chains meluncurkan album berikutnya, para penggemar dikejutkan oleh berita meninggalnya Layne Staley akibat overdosis kokain dan heroin pada bulan April 2002. Pasca meninggalnya Staley, Jerry Cantrell membuat album solo dan ikut dalam konser musim panas band Nickleback. Sumber photo: wallpapers.duble.com, citizendick.org, myplay.com, bandswallpapers.com

Hope Solo

Hope Amelia Solo (born 30 July 1981, in Richland, Washington) is an American soccer goalkeeper currently playing for Saint Louis Athletica of Women's Professional Soccer and is a member of the United States women's national soccer team.

Solo played soccer with the Three-River's Soccer Club in the Tri-Cities. She played forward until the end of high school, when she switched to goalkeeper. Solo played for several U.S. junior national soccer teams before joining the full U.S. national team in 2000. She was named a member of the Olympic team in 2004, making the 2004 Olympics in Athens as an alternate. Solo became the team's starting goalkeeper in 2005. She has recorded several clean sheets and once went 1,054 minutes without allowing a goal (a streak that ended in a 4-1 victory against France in the Algarve Cup).

US Women Soccer
www.olympicgirls.net
Hope Solo was the starting goalkeeper for the United States in the 2007 FIFA Women's World Cup, giving up two goals in four games including consecutive shutouts of Sweden, Nigeria and England. Heading into the semifinal match against Brazil, U.S. coach Greg Ryan benched Solo in favor of 36-year-old veteran U.S. keeper Briana Scurry, who had a strong history of performance against the Brazilians but had not played a complete game in three months.

The U.S. lost to Brazil 4-0, ending a 51-game (regulation time) undefeated streak, while playing much of the match with 10 players after midfielder Shannon Boxx received a second yellow card at the end of the first half.

On June 23, 2008, it was announced Solo would be the starting goalkeeper for the U.S. team at the 2008 Summer Olympics in Beijing. In a reversal of roles from the 2004 Olympics, Brianna Scurry did not make the team (though she was an alternate). On August 21, the U.S. women's team won the gold medal by defeating Brazil 1–0 in extra time in no small measure due to Solo's outstanding performance as she stopped an energetic Brazil attack, making save after save.

Full Name Hope Amelia Solo
P/DOB Richland, United States, 1981
Club Career
1999-2002 Washington Huskies (youth)
2003 Philadelphia Charge
2004 Kopparbergs/Goteborg FC
2005 Olympique Lyonnais
2009 Saint Louis America
International career
United States U-16
United States U-18
United States U-21
2000-2009 United States (84 caps)

Hanna Ljungberg

Hanna Carolina Ljungberg mengawali debut bersama tim nasional Swedia pada usia 17 tahun, tanggal 6 Pebruari 1996 melawan Spanyol. Dalam pertandingan perdana itu Swedia menang dengan skor 8-0.
Ljungberg menjadi salah satu dari sedikit pemain profesional di liga sepakbola wanita Swedia, Damallsvenskan. Ia terpilih sebagai pemain terbaik swedia tahun 2002, memenangkan penghargaan Diamond Ball (Diamantbollen).
Hanna Ljungberg adalah salah satu striker terkemuka di dunia dan menjadi elemen penting bagi sukses Swedia menjadi runner-up Piala Dunia 2003 di Amerika Serikat.
Ada cerita menarik tentang legenda sepakbola wanita Swedia ini, yakni ketika ia diminati oleh klub Perugia dalam liga Serie A Italia. Namun akhirnya keinginan Perugia ini tidak diluluskan oleh FIGC, yang melarang tim pria diperkuat oleh pemain wanita.
Keunikan lainnya dari Hanna Ljungberg ialah saat ia bermain sebagai penjaga gawang. Peran baru ini ia lakukan pada tanggal 17 Mei 2007 bersama Umea SK ketika bertanding melawan AIK dalam ajang Piala Swedia. Ljungberg mengisi posisi penjaga gawang lantaran Carola Soberg mengalami cidera pada paruh terakhir babak kedua. Dalam pertandingan tersebut Ljungberg tidak kebobolan.
Ljungberg terpilih masuk ke dalam legenda sepakbola Swedia saat peringatan hari jadi ke-100 SvFF (Federasi Sepakbola Swedia). Data Diri Hanna Carolina Ljungberg Ljungan, 8 Januari 1979 Karir klub 1986-1994 Mariehem SK (yunior) 1994-1998 Sunnana SK 1998-2009 Umea IK Karir internasional 1998-2009 Swedia (129 main, 72 gol) Penghargaan perorangan Pemain Terbaik Swedia 2002 Penyerang Terbaik Swedia 2005 Pencetak Gol Terbanyak Liga Swedia 2002 Runner-up Piala Dunia 2003 Peringkat III Pemain Terbaik Dunia 2003 Penghargaan tim Juara Liga Swedia 2000, 2001, 2002, 2005, 2006, 2007, 2008 (Umea SK) Juara Piala Swedia 2003, 2004 Runner-up Piala Swedia 2002, 2007, 2008 Runner-up Piala Dunia 2003 (Swedia) Juara Piala Algarve 2001 Peringkat III Piala Algarve 2002, 2006, 2007 sumber poto: fansoccer.de

29 October 2009

Anouk Hoogendijk

Anouk Anna Hoogendijk, gelandang kelahiran Utrecht, 6 Mei 1985 ini, adalah anggota tim nasional Belanda yang berhasil lolos ke semifinal Euro 2009 di Finlandia. Dari awal karir profesionalnya hingga kini Hoogendijk membela klub tempat kelahirannya, FC Utrecht. Ia mulai dikenal saat berusia 12 tahun dalam sebuah acara televisi "Geef Noot Op". Pada acara ini bakatnya dipantau oleh pelatih Utrecht hingga ia direkrut untuk bergabung. Bersama FC Utrecht, Hoogendijk sukses meraih juara Liga Belanda 2005 dan 2006 dan Piala Super Belanda 2005 dan 2006. Debutnya bersama tim nasional terjadi pada tanggal 6 Agustus 2004. Ia menjadi salah satu bagian tim Oranye saat menembus empat besar Euro 2009 yang berlangsung di Finlandia. Selain bakat sepakbolanya yang luar biasa, Anouk Hoogendijk semakin terkenal berkat wajahnya yang jelita. Maka dari itulah, tak mengherankan jika banyak fans yang mengaguminya. Karir klub CSW (yunior) SV Argon (yunior) Legmervogels (yunior) 2004-2009 FC Utrecht Karir internasional 2004-2009 Belanda (46 penampilan, 3 gol) Prestasi Juara liga Belanda 2005, 2006 (FC Utrecht) Juara Piala Super Belanda 2005, 2006 (FC Utrecht) Semifinal Euro 2009 (Belanda)

Britta Carlson

Britta Carlson mulai menekuni sepakbola bersama klub Altenholz pada tahun 1986 dan dilanjutkan dengan menimba ilmu di klub Friedrichsort. Karir profesionalnya ia mulai saat bergabung dengan Schmalfelder SV. Pada tahun 2004 Carlson dikontrak Hamburger SV. Tak lama kemudian datanglah tawaran dari 1. FFC Turbine Potsdam. Di klub kota Berlin ini Carlson bertahan selama 3 tahun, sebelum hijrah ke VfL Wolfsburg hingga sekarang.
Debutnya bersama tim nasional Jerman terjadi pada tanggal 4 Maret 2004 melawan Cina. Setahun kemudian ia menjadi bagian dari skuad Juara Eropa 2005.
Carlson adalah seorang pemain yang dapat bermain dalam dua posisi: sebagai bek dan gelandang.
Karir klub 1986 Altenholz (yunior) Friedrichsort (yunior) Schmalfelder SV 2004 Hamburger SV 2004-2007 1. FFC Turbine Potsdam 2007-2009 VfL Wolsfurg Karir internasional 2004-2009 Jerman (31 penampilan, 4 gol) Pretasi Juara Piala UEFA 2005 (bersama Turbine Potsdam) Juara Bundesliga 2006 (bersama Turbine Potsdam) Juara Piala Jerman 2005, 2006 (bersama Turbine Potsdam) Juara Eropa 2005 Juara Dunia 2004 sumber gambar: vfl-wolfsburg.de

Activity-based Costing

Pendahuluan Alokasi sistem activity-based costing mencakup tiga tingkatan sebagai berikut: a) unit level, b) batch level, c) product-sustaining level dan d) facility level (general operations). Unit level mencakup jenis kegiatanyang harus dilakukan dalam setiap unit produksi. Batch level meliputi kegiatan yang harus dilakukan untuk setiap identitas produk, bukan setiap unit. Misalnya kegiatan batch-level perusahaan Patio Grill Company meliputi set-up, pembelian, penanganan material, jaminan mutu, dan pengepakan/pengiriman alokasi biaya kegiatan. Product-sustaining level adalah kegiatan yang diperlukan untuk mendukung semua garis produk, akan tetapi tidak dilakukan saat unit atau batch of produk dihasilkan. Pada perusahaan Patio Grill Company, tim proyek mencantumkan biaya desain teknis pada alokasi kegiatan product-sustaining level. Facility level meliputi kegiatan untuk membantu kelancaran proses produksi.
Mekanisme Activity-based Costing pada sektor jasa
Secara umum, tujuan diterapkannya sistem pembiayaan berbasis kegiatan (activity-based costing) pada industri jasa tidak jauh berbeda dari yang diterapkan dalam perusahaan manufaktur. Para manajer perusahaan bidang jasa menginginkan informasi yang lebih akurat tentang biaya pembuatan/produksi jasa yang mereka jual.
Contoh dari activity-based costing sektor jasa ialah yang berlangsung di perusahaan jasa Pennsylvania Blue Shield. Urutan kegiatan pada perusahaan ini ialah sebagai berikut: data klaim awal dimasukkan ke dalam komputer (unit level) > klaim dikirimkan dari satu tahap pemrosesan ke tahap pemrosesan berikutnya (batch level) > mengelola hubungan dengan paramedis dan rumah sakit yang menyediakan jasa pelayanan kesehatan kepada pemegang klaim (product-sustaining level) > menjalankan administrasi umum pada unit usaha klaim (facility level).
Kode etik dan fokus activity-based costing
Contoh kasus pada perusahaan Xavier Auto Parts, Inc., dapat digunakan untuk menunjukkan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk terlaksananya sistem activity-based costing, sebagai berikut:
1. menguraikan masalah
Bagian suku cadang mesin dan perusahaan cabang yang berada di Charlotte menunjukkan tingkat profitabilitas yang memuaskan selama dekade 1980an dan 1990an. Akan tetapi pada tahun 2000 pabrik yang berada di Charlotte mengalami penurunan profitabilitas, meskipun nilai penjualannya bertambah. Trend ini berlangsung hingga beberapa tahun kemudian. Manajemen pada kedua divisi perusahaan mengadakan rapat untuk membahas penurunan profitabilitas yang mereka alami.
2. menentukan strategi pada setiap bagian/unit usaha
Manajemen mengambil dua langkah penting, yaitu mengadakan studi activity-based costing untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang profitabilitas dan melakukan pemeriksaan tingkat tinggi untuk menentukan apakah strategi full-line-producer tepat untuk dijalankan.
3. activity-based costing
Berkurangnya profitabilitas menyebabkan inefisiensi fasilitas dan sarana yang tersedia pada perusahaan, sehingga efektivitas kerja menjadi terganggu.
4. rekomendasi tim activity-based costing
Rekomendasi yang positif diperlukan untuk mendukung perbaikan kondisi sehingga dapat menciptakan efisiensi kerja.
5. respon manajemen puncak
Manajemen memberikan respon terhadap validitas pelaksanaan sistem activity-based costing.

STAIR Approach to Government Performance

Judul: The STAIR model, a comprehensive approach for managing and measuring government performance in the post-modern era Peneliti: Mary Zeppou, Tatiana Sotirakou Tahun: 2003
STAIR = enam tahap pengukuran kinerja pemerintahan, yaitu: 1) strategi (strategy), 2) target (targets), 3) penilaian (assessment), 4) implementasi (implementation), dan 5) hasil (results)
Tujuan:
Mengetahui penggunaan pendekatan sistem komprehensif dalam mengukur kinerja sektor publik di Yunani.
Mengetahui penggunaan teori STAIR sebagai sarana modernisasi pelayanan masyarakat negara Yunani.
Metode:
Telaah perubahan kinerja pemerintah menggunakan teori STAIR, yang memuat pertanyaan yang dialamatkan kepada organisasi, sebagai berikut:
1. misi apakah yang dibawa? 2. sasaran strategi apa yang digunakan dan bagaimana cara mencapainya? 3. kinerja organisasi apa yang diukur? 4. apa sajakah yang menjadi sumber penyebab terjadinya celah kinerja? 5. bagaimana umpan balik terhadap hasil kinerja yang digunakan untuk mencapai perbaikan? Hasil
Proses perencanaan strategis perusahaan harus menentukan fokus dan sifat sistem ukuran kinerjanya.
Pada tingkat manajemen menengah, sistem ukuran kinerja membantu evaluasi sebaik apakah sistem yang sedang berlaku dapat mencapai tujuan dan mendukung evaluasi sistem-sistem alternatifnya.

Peran Informasi Anggaran dalam Evaluasi Kinerja

Sumber: Michael Briers & Mark Hirst. Pengembangan Teori
Kajian tentang teori proses penganggaran menuju pada penyempurnaan statistik penelitian empiris. Meskipun terdapat sejumlah pengecualian (misal, penelitian oleh Brownell 1982), namun kecenderungan ini tampak terlihat jelas dalam perkembangan teori dari dulu hingga sekarang. Dari sekian banyak permasalahan yang dibahas, antara lain dengan memasukkan hipotesis variabel-variabel dengan penjelasan yang tidak sepenuhnya mendukung teori. Sebagai contoh, beberapa penelitian menggunakan diagram balok dengan panah yang menunjukkan variabel-variabel yang terlibat dalam hubungan sebab-akibat. Meskipun cara ini tergolong sebagai cara yang terlalu teliti untuk mengkomunikasikan persaingan, namun argumen pendukung dalam beberapa penelitian hanya memuat uraian yang sifatnya sugestif (Kenis, 1979).
Selain hal di atas, bidang lain yang dibahas ialah kebergantungan penelitian pada argumen dan/atau bukti yang mendukung hipotesis. Sebagai contoh, hipotesis Brownell (1982) disusun menggunakan analisis operan dan teori keseimbangan (balance theory). Analisis operan adalah sebuah teori motivasi yang mengasumsikan perilaku sebagai sesuatu hal yang dibentuk oleh lingkungan, merupakan hasil dari proses kognitif. Analisis operan telah menjadi inti dari sejumlah kontroversi dan oleh sebab itu tidaklah wajar bila Brownell tidak menyinggung teori ini dalam kritisinya (Locke, 1977). Namun demikian, Brownell (1982) tidak berusaha untuk membedakan atau membahas hubungan antara analisis operan dan teori keseimbangan. Sekali lagi hal ini tidak wajar karena jika seseorang percaya akan pengkodisian operan, maka referensi kepada kejadian-kejadian kognitif internal (seperti yang tercantum dalam teori perilaku) tidak akan tepat untuk membuat prediksi mengenai perilaku (Mitchell 1976, 1979). Tidak jauh berbeda, Govindarajan (1984) menggunakan teori kontinjensi untuk mendukung proposisinya tentang efektivitas unit-unit bisnis. Namun dalam kajiannya, ia tidak menyinggung kritik terhadap teori ini (misal, Wood 1979; Schoonhoven 1981; Otley 1980; Hopwood 1983).
Seperti yang dikemukakan di atas, jika argumen-argumen dasar diberikan untuk mendukung hipotesis, maka argumen tersebut akan cenderung sekilas saja sifatnya, tanpa adanya usaha yang maksimal untuk menghubungkan rasional baru dan yang sedang ada sekarang untuk mempengaruhi. Sebagai misal, Brownell & Hirst (1986) berusaha menghubungkan dua penelitian terdahulu, satu dipengaruhi oleh teori motivasi untuk mengembangkan hipotesis, dan satunya lagi dipengaruhi oleh teori peran dan penelitian terkait. Namun, Brownell & Hirst tidak melakukan pengamatan tentang hubungan antara teori-teori tersebut. Meskipun sedikit perkembangan mungkin terjadi dalam hal norma pada banyak displin ilmu sosial, namun proses ini menimbulkan masalah karena tujuan diadakannya penelitian adalah untuk merekonsiliasi riset.
Untuk melengkapi penjelasan tentang hubungan antar variabel, pengembangan teori memerlukan seleksi atas hasil atau variabel-variabel terikat. Meskipun seleksi ini dibatasi oleh variabel-variabel bebas (dan dalam hal ini, supervisory style), namun para periset individu juga memiliki sejumlah diskresi. Penelitian-penelitian terdahulu (Argyris 1952; Hofstede 1968; Onsi 1973; Hopwood 1973) membahas tentang berbagai hasil sikap, psikologis, dan perilaku yang berhubungan dengan sistem pengendalian anggaran. Kemudian penelitian selanjutnya oleh Kenis (1979), Brownell (1982), Brownell & Hirst (1986), dan Hirst (1987) membahas tentang penampilan kerja (job performance) secara menyeluruh. Terdapat banyak alasan mengapa penelitian-penelitian ini menimbulkan masalah.
Pertama, jika kinerja anggaran merupakan komponen pokok dari penampilan kerja menyeluruh (baca Hopwood, 1973), maka akan muncul pertanyaan tentang status penampilan kerja sebagai variabel terikat. Sebagai contoh, Otley (1978) dalam analisisnya berpendapat bahwa hubungan yang kuat terjadi antara supervisory style (gaya kepemimpinan) dan kinerja anggaran, dengan realisme/akurasi anggaran mempengaruhi kedua variabel. Sementara itu, Merchant (1985) mengemukakan bahwa kinerja anggaran barangkali merupakan variabel terikat bagi semua penelitian yang membahas tentang pengendalian (baca pula Collins et al. 1987). Kedua, meskipun kinerja anggaran bukanlah komponen pokok dari penampilan kerja menyeluruh, namun pertanyaan tentang status variabel terikat yang disandang oleh penampilan kerja tetaplah dipertahankan. Sebagai contoh, Brownell (1982) mengakui bahwa supervisory style mungkin dapat memerankan fungsi penampilan kerja. Ketiga, terlepas dari permasalahan yang ada hubungannya dengan status, penampilan kerja menyeluruh merupakan sebentuk konstruk yang ambigu yang memuat banyak sekali dimensi (Otley, 1980). Karena dimensi-dimensi berikut hubungannya diperbandingkan (Hopwood 1973; Brownell 1982; Govindarajan 1984; Luckett & Hirst 1989) dan selalu berubah dari waktu ke waktu (Hopwood 1979; Chua & Lowe 1984), penentuan hubungan yang spesifik namun umum antara penampilan kerja menyeluruh dan gaya kepemimpinan adalah hal yang sulit.
Mengingat bahwa penelitian-penelitian terakhir belum membahas isu-isu baik tentang status variabel terikat penampilan kerja maupun tentang tidak adanya kejelasan konseptual, maka kontribusi teoretikalnya masih sangat terbatas. Akan tetapi, jika kinerja anggaran bukanlah komponen pokok dari penampilan kerja menyeluruh, maka isu-isu tentang kejelasan konseptual menghasilkan pertanyaan tentang nilai pemfokusan penampilan kerja menyeluruh di dalam penelitian-penelitian tentang supervisory style.
Untuk menjelaskan penampilan kerja menyeluruh, telah dilakukan penelitian tentang sifat multidimensi yang dimliki oleh supervisory style. Meskipun Argyris (1952) meneliti gaya kepemimpinan tersebut dalam lingkup penggunaan anggaran secara berbeda-beda, namun Hopwood (1973) lah yang menguraikan gaya kepemimpinan dalam lingkup batasan dan cara penggunaan anggaran dalam evaluasi kinerja. Terdapat kecocokan dua dimensi ini dalam penelitian Hopwood, khususnya, gaya kepemimpinan “yang terikat oleh anggaran” yang dimasukkan dalam evaluasi “pencapaian anggaran” serta penggunaan kriteria ini di dalam evaluasi. Sebaliknya, profit conscious style meliputi kebergantungan pada “masalah biaya” (bersama dengan kriteria non-anggaran) dan penggunaan kriteria di dalam pemecahan masalah (pengajuan pertanyaan). Teori Hopwood (1973) mengasumsikan pencocokan ini. Lebih penting lagi, pencocokan ini masih menyisakan pertanyaan mendasar. Namun pencocokan semacam ini tidak perlu harus terjadi pada semua situasi. Misalnya, pencocokan antara tingginya kebergantungan dan pemecahan masalah adalah hal yang mungkin terjadi. Pengaruh-pengaruh apakah yang kemungkinan ditemukan dalam gaya kepemimpinan ini seperti ini? Cara penggunaan anggaran dalam evaluasi kinerja dapat meluas hingga di luar dimensi pemecahan masalah/evaluasi sehingga mencakup penggunaan anggaran sebagai “needlers” dan sebagai sarana untuk strukturisasi tindakan dan mendorong kinerja (Argyris, 1952; De Coster & Fertakis, 1968; Hopwood, 1973). Pengaruh dan hubungan yang terpisah diantara berbagai jenis supervisory style masih belum pasti.
Terakhir, karena adanya pengaruh supervisory style, maka tidaklah mengejutkan bahwa penelitian telah pula mengamati keadaan yang mampu menjembatani pengaruh dari berbagai gaya dan akibat dari gaya yang digunakan. Penelitian-penelitian tersebut di atas pada umumnya menggunakan teori kontinjensi sebagai dasar pengembangan hipotesis (Merchant, 1981, 1984; Govindarajan, 1984; Brownell, 1985; dan Jaworski, 1988). Akan tetapi, ada kontroversi muncul melingkupi teori kontinjensi, mulai dari tidak adanya kejelasan konseptual (Otley, 1980; Schoonhoven, 1981) hingga masalah-masalah fundamental tentang sifat perubahan, dan peran pilihan, dalam sistem desain organisasi dan pengendalian (Wood, 1979; Burrell & Morgan, 1979). Dengan sedikit pengecualian (Brownell, 1985) para periset bidang akuntansi belum menemukan ambiguitas di dalam konstruk dasar seperti “ketidakpastian lingkungan” (Boyd, 1984). Selain itu, meskipun periset akuntansi telah mulai mengakui adanya peranan pilihan strategis di dalam desain sistim pengendalian (Govindarajan dan Gupta, 1985; Simons, 1987; Govindarajan, ), proses yang digunakan untuk memilih supervisory style belum dibahas secara mendalam (Dent, 1986). Tanpa adanya pengetahuan tentang proses-proses ini akan terlalu dini kiranya untuk menyimpulkan apakah perubahan langsungm aupun tidak langsung gaya kepemimpinan merupakan sarana untuk mempengaruhi perilaku organisasi.
Secara ringkas dapat dikemukakan bahwa, perkembangan terakhir teori gaya kepemimpinan terpusat pada variabel-variabel moderator dan anteseden. Perkembangan ini memperluas lingkup teori. Namun, analisis terdahulu menyimpulkan perlunya perluasan lebih lanjut untuk mengetahui sifat multidimensi sejumalh variabel termasuk gaya kepemimpinan, lingkungan, teknologi dan sebagainya. Terlebih lagi, kedalaman pemahaman telah sedikit bertambah sejak dilakukannya penelitian awal. Lebih spesifik, misalnya, kita sekarang mengetahui sedikit lagi hal tentang proses yang digunakan oleh gaya kepemimpinan untuk mempengaruhi perilaku. Pengembangan teori tidak hanya memperluas pemahaman kita tentang fenomena ini, namun juga menambah informasi tentang pilihan-pilihan desain studi empiris, termasuk pemilihan metode pengumpulan data, ukuran variabel dan prosedur analisis data (Schoonhoven, 1981; Kidder, 1981).
Kajian empiris
Penelitian terdahulu dalam bidang gaya kepemimpinan cenderung menyertakan studi-studi kasus deskriptif (misal, Argyris, 1952; Schiff & Lewin, 1968; Lowe & Shaw, 1968). Sebaliknya penelitian sekarang cenderung berupa survei kuesioner cross-sectional yang memuat pengujian hipotesis (Kenis, 1979; Govindarajan, 1984; Govindarajan & Gupta, 1983; Brownel & Hirst, 1986; Govindarajan, 1984; Jaworski, 1988). Perlu diperhatikan bahwa ada beberapa pula penelitian survei yang juga memuat komponen studi kasus (Hopwood, 1973; Otley, 1978; Brownell, 1987a).
Kelebihan dan keterbatasan survei kuesioner telah dikenal oleh banyak kalangan. Intinya, survei kuesioner menukarkan validitas internal dengan validitas eksternal dan memuat data dalam bentuk yang pas untuk analisis (Campbell & Stanley, 1966; Kidder, 1981). Meskipun demikian, ada landasan permasalahan tentang studi empiris dalam bidang gaya kepemimpinan. Yaitu penelitian “yang didorong oleh metode (method-driven)” sebagai kebalikan dari penelitian “yang didorong oleh fenomena” dan sejumlah faktor yang menyebabkan pemisahan hubungan antara pernyataan teori dan uji empiris.
Kegunaan nyata dari survei kuesioner cross-sectional membatasi jenis fenomena dan hubungan yang digunakan untuk penelitian. Misalnya, studi-studi cross-sectional membandingkan studi-studi lingitudinal jika fokus ditujukan pada proses-proses yang digunakan di dalam desain, penggunaan, dan pengaruh sistem pengendalian anggaran. Perlu diperhatikan bahwa kesemua proses memiliki dimensi temporal. Terlebih lagi, survei-survei kuesioner cenderung tidak memberikan informasi yang valid tentang variabel-variabel yang sifatnya rahasia dan sensitif seperti yang terkait dengan perilaku politik, irasional dan/atau disfungsional (Moser & Kalton, 1979; Collins et al. 1987).

25 October 2009

Pengaruh Desentralisasi Fiskal Terhadap Belanja Negara

Ringkasan Jurnal Penulis: Osung Kwon Latar Belakang
  1. Dalam beberapa tahun terakhir ini, desentralisasi fiskal telah menjadi tema pembicaraan di seluruh dunia. Contoh-contoh dapat kita lihat di pemerintahan Presiden Reagan di Amerika Serikat, desentralisasi fiskal pembuatan keputusan fiskal dan administrasi pemerintahan di negara-negara Amerika Latin, dan reformasi ekonomi (dari sentralisasi menuju desentralisasi) di negara kawasan Asia.
  2. Teori tentang federalisme fiskal menyatakan bahwa untuk barang atau jasa publik tertentu seperti barang publik daerah, desentralisasi dapat meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas alokasi sumber daya karena (1) pemerintah daerah dapat lebih baik dikelola menurut daerah dan letak geografisnya, (2) pemerintah daerah memiliki posisi yang lebih baik untuk mengenali preferensi dan kebutuhan daerah, dan (3) tekanan dari persaingan jurisdiksi yang mendorong pemerintah daerah untuk menjadi inovatif dan memiliki akuntabilitas bagi warga dan penduduknya (Oates, 1972).
  3. Hasil penelitian terakhir menyebutkan bahwa kebijaksanaan konvensional seperti ini dapat berlaku di negara-negara maju, namun belum tentu berlaku di negara-negara yang sedang berkembang.
  4. Sebagian besar negara berkembang belum memenuhi asumsi eksplisit maupun implisit yang diungkapkan dalam teori federalisme fiskal. Di negara berkembang, preferensi pemilih daerah belum tentu dapat direfleksikan secara langsung di dalam laporan hasil anggaran daerah seperti halnya di negara berkembang. Pemerintah daerah tidak memiliki kemampuan administrasi yang kuat untuk membuat keputusan-keputusan fiskalnya sendiri.
  5. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah untuk mempromosikan desentralisasi fiskal akan efektif bagi negara maju (Bahl dan Linn, 1992).
  6. Sebagian besar studi empiristentang desentralisasi fiskal terbatas bagi penggunaan di negara-negara maju. Namun demikian, desentralisasi fiskal bukan hanya terjadi di negara maju, tetapi juga di negara berkembang.
Metodologi
Penelitian ini menggunakan analisis korelasi sederhana antara variabel terikat dan tiga ukuran variabel bebas. Selanjutnya dilakukan analisis regresi terhadap variabel terikat dan masing-masing ukuran variabel bebas dengan maupun tanpa variabel kontrol. Hasil
Hubungan antara ukuran sektor publik dan state revenue share dan state expenditure share diharapkan positif dan hubungan antara variabel terikat dan jumlah pemerintah daerah yang terlibat diharapkan negatif jika hasil ini sesuai dengan hipotesis desentralisasi. Sektor pemerintahan daerah yang lebih tersentralisasi cenderung berhubungan dengan sektor pemerintahan daerah yang lebih kecil yang tidak sesuai dengan hipotesis desentralisasi. Kesimpulan
Desentralisasi fiskal dianggap memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan kinerja sektor pemerintah. Teori federalisme fiskal menyatakan bahwa regulasi terdesentralisasi atas barang publik dapat meningkatkan efisiensi dalam alokasi sumber daya karena pemerintah lokal dapat dikelola secara lebih baik menurut letak geografis tempat beradanya barang publik tersebut. Perkembangan terakhir desentralisasi fiskal dan otonomi daerah di Korea menunjukkan efisiensi sektor publik dengan adanya modifikasi bentuk desentralisasi fiskal.

Kristine Lilly

Kristine Marie Lilly lahir di Wilton, Connecticut, Amerika Serikat pada tanggal 22 Juli 1971, adalah pesepakbola yang sarat dengan rekor. Prestasi pertama dalam karir sepakbolanya ia raih di University of North California at Chapel Hill dengan meraih penghargaan "Hermann Trophy" pada tahun 1991. Karir sepakbolanya seterusnya antara lain bermain di Tyreso FC, Washington Warthogs, Delaware Genies, KF Orebro DFF, dan Boston Breakers. Lilly melewati rekor penampilan internasional terbanyak untuk tim nasional secara keseluruhan, 151 kali, yang sebelumnya dipegang oleh pemain Norwegia, Heidi Store. Rekor berikutnya ialah menjadi pesepakbola (putra maupun putri) yang memperkuat tim nasional terbanyak di dunia, menggungguli rekor Adnan Al Talyani (Uni Emirat Arab, 164 kali). Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 Januari 1999. Kemudian, penampilan ke-300 Kristine Lilly ditorehkan pada pertandingan melawan Norwegia pada tanggal 18 Januari 2006. Dalam pertandingan tersebut ia juga menyamai raihan gol Michelle Akers untuk Amerika Serikat dengan 105 gol. Pada tahun yang sama, berkat prestasinya yang monumental, Kristine Lilly masuk tiga besar nominasi (bersama Marta dan Renate Lingor) Pemain Terbaik Dunia pilihan FIFA (Marta yang terpilih akhirnya). Namun, kegagalan terpilih sebagai Pemain Terbaik Dunia ia obati dengan meraih penghargaan Pesepakbola Perempuan Terbaik Amerika Serikat tahun 2006. Ketika bertanding melawan Korea Utara, 11 September 2007, Kristine Lilly menjadi perempuan pertama (atau pesepakbola ketiga secara keseluruhan; selain Lothar Matthaus dan Antonio Carbajal) yang tampil dalam 5 Piala Dunia. Golnya ke gawang Inggris menjadikannya sebagai pencetak gol tertua sepanjang sejarah FIFA Women World Cup. Karir klub 1991 University of North Carolina at Chapel Hill 1994 Tyreso FC 1995 Washington Warthogs 1998 Delaware Genies 2001-2003 Boston Breakers 2005 KIF Orebro DFF 2009 Boston Breakers Karir internasional 1987-2009 Amerika Serikat (340 penampilan, 129 gol) Prestasi Juara NCAA 1989, 1990, 1991, 1992 bersama University of North Carolina Juara Dunia 1991 Peringkat III Piala Dunia 1995, 2001

22 October 2009

Brandi Chastain

Brandi Denise Chastain lahir di San Jose, California, Amerika Serikat, pada tanggal 21 Juni 1968. Memulai karir sepakbola bersama Archbishop Mitty High School. Pada tahun 1986 Chastain mendapatkan penghargaan "Soccer America Freshmen Player of the Year" dari University of Berkeley California. Ia sempat absen sepanjang musim 1987-1988 karena menjalani operasi lutut.
Brandi Chastain bergabung dengan Santa Clara University pada tahun 1989 dan membawa tim ini ke "Final Four NCAA". Debut internasionalnya terjadi pada tanggal 1 Juni 1988 melawan Jepang. Sedangkan gol pertama (dan hingga gol ke-5!) ia cetak saat Amerika Serikat mengalahkan Meksiko 12-0 dalam kualifikasi Piala Dunia 1991 Zona Concacaf, tanggal 18 April 1991.
Dari total 192 penampilan internasional, Chastain berperan sebagai bek sebanyak 103 kali dan gelandang sebanyak 89 kali.
Satu cerita yang tak terlupakan dari Brandi Chastain ialah "insiden bra" di Stadion Rosebowl, Pasadena, tanggal 10 Juli 1999. Kala itu ia merayakan gol penaltinya ke gawang Cina dengan melepas kaos hingga terlihat bra-nya. Insiden ini diabadikan dalam sampul majalah Time, Newsweek, dan Sports Illustrated. Menanggapi aksinya yang dianggap "gila" tersebut, Chastain hanya berujar,"Aksi saya Itu kegilaan sesaat. Saya tidak bermaksud apa-apa (selain meluapkan kegembiraan). Momentum itu adalah hal yang terindah dalam sepanjang karir saya sebagai pemain sepakbola."
Karir klub 1986 University of California Berkeley 1989 Santa Clara University 1993 Shiroku FC Serena 2001 Bay Arena Cyber Rays 2002 San Jose Cyber Rays 2009 FC Gold Price Karir Internasional 1988-2004 Amerika Serikat (192 penampilan, 160 gol) sumber foto: www.siliconvalleysoccercomplex.org

Blue Cheer

Blue Cheer terbentuk pada akhir dekade 1960an di San Francisco. Mereka lebih terkenal dengan julukan "power trio". Band ini digawangi oleh pemain bas/vokalis Dickie Person, pemain drum Paul Whaley, dan gitaris Leigh Stephens. Mereka mengusung aliran musik heavy metal dan membuat debut penampilan pada bulan Januari 1968 dengan album Vincebus Eruptum. Sebuah penampilan yang menjanjikan karena berhasil menduduki Top 40 bersama lagu hit Eddice Cochran, "Summertime Blues". Namun tak lama setelah penampilan perdana yang sukses ini, Blue Cheer mengalami pergantian personil. Leigh Stephens keluar digantikan Randy Holden setelah album kedua, Outsideinside (1968). Holden ternyata tidak betah lama dan keluar dari band setelah merampungkan album ketiga. Blue Cheer kemudian merekrut vokalis dan gitaris Bruce Stephens dan pemain keybord Ralph Burns Kelloggs untuk pembuatan album New! Improved! Blue Cheer (1969). Whaley mengundurkan diri dan digantikan oleh Norman Mayell, sehingga Dickie Person menjadi satu-satunya pionir Blue Cheer yang masih tersisa. Setelah itu Bruce Stephens keluar di tengah pembuatan album keempat, Blue Cheer (1969) dan digantikan oleh Gary L. Yoder. Formasi Peterson, Kellogg, Mayell, dan Yoder kemudian membuat album The Original Human Being (1970) dan Oh! Pleasant Hope (1971). Setelah album terakhir ini, Blue Cheer membubarkan diri. Pada tahun 1979, Dickie Peterson berusaha untuk menghidupkan lagi band yang ia bentuk hampir dua dekade lalu, dan usaha ini ternyata berhasil pada tahun 1985. Dengan formasi baru: Peterson, Whaley, dan gitaris Tony Rainer, Blue Cheer meluncurkan album bertitle The Beast Is Back. Personil Band: Dickie Person, Paul Whaley, Leigh Stephens, Randy Holden, Bruce Stephens, Ralph Burns Kellogs, Norman Mayell, Gary L. Yoder, Tony Rainer. sumber foto: www.pooterland.com

20 October 2009

Ane Stangeland Horpestad

Lahir di Stavanger, 2 Juni 1980. Stangeland adalah kapten nasional Norwegia yang saat ini bermain di kompetisi liga Toppserien Norwegia bersama klub Klepp. Sebelum bergabung dengan Klepp, ia memulai kiprah sepakbolanya pada usia 16 tahun dengan tim sepakbola anak laki-laki.
Pada tahun 2000 Stangeland melanjutkan studi ke University of Mobile, Alabama, Amerika Serikat dan masuk ke dalam 1st Team NAIA All-American, All-Conference dan All-Region. Ia juga terpilih sebagai Region XVVV Player of the Year pada tahun yang sama dan ikut memperkuat timnya dalam NAIA National Tournament.
Ane Stangeland mulai menjadi kapten nasional Norwegia sejak tahun 2005 dan kejuaraan besar pertama yang ia ikuti ialah Piala Eropa 2005 yang diselenggarakan di Inggris, dimana Norwegia berhasil menjadi finalis. Akhir 2005, Stangeland terpilih menjadi salah satu dari 20 nominasi peraih Pemain Terbaik Dunia. Ia pindah ke klub Kolbotn, Oslo pada tahun 2003, dengan prestasi menjadi finalis Piala UEFA 2007 (mengalahkan favorit 1 FFC Frankfurt di perempat final). Pada bulan Juni 2006, Stangeland menikah dengan Steffen Horpestad dan sejak saat itu nama suaminya ditambahkan pada namanya.
Prestasi unik yang ia sandang ialah bahwa selama membela tim nasional senior, Stangeland baru menerima 2 (dua) kartu kuning, sebuah kelebihan yang langka mengingat posisi bermainnya adalah sebagai bek sentral. Prestasi lainnya ialah dalam bidang akademis. Palang pintu Norges ini adalah penyandang gelar sarjana Ilmu Ekonomi dan Administrasi, serta bekerja di Klepp Sparebank sebagai "customer adviser". Sumber foto: fotballmagasinet.no

Silke Rottenberg

Silke Rottenberg lahir di Euskirchen tanggal 25 Januari 1972. Terakhir kali bermain membela 1 FFC Frankfurt. Rothenberg mengumumkan pengunduran dirinya dari tim nasional pada tanggal 27 Mei 2008. Setelah pertandingan antara Jerman dan Wales tanggal 29 Mei 2008, Rottenberg resmi mengundurkan diri dari sepakbola internasional. Pada tahun 1998 ia terpilih sebagai Pesepakbola Wanita Terbaik Jerman.
Karir klub 1976-1984 SC Enzen-Duerscheven (yunior) 1984-1988 VfL Euskirchen (yunior) 1988-1991 Gruen-Weiss Brauweiler 1991-1996 TSV Siegen 1996-2000 Sportfreunde Siegen 2000-2003 FFC Brauweiler Pulheim 2003-2006 FCR 2001 Duisburg 2006-2008 1 FFC Frankfurt Karir internasional 1993-2008 Jerman, 125 penampilan. Sumber gambar: foto.ki-co.de

Renate Lingor

Lingor, Lahir di Karlsruhe, 11 Oktober 1975, memulai karir sepakbola dalam usia yang sangat belia, 6 tahun, ketika ia bergabung dengan SV Blankenloch. Tahun 1983 ia menimba ilmu sepakbola di klub Karlsruher FC. Memasuki usia ke-14, Renate Lingor mengawali karirnya sebagai pemain sepakbola profesional ketika bergabung dengan SC Klinge Seckach dan bermain di Bundesliga. Banyak tawaran dari klub terkenal namun ia tetap bertahan di SC Klinge Seckach hingga tahun 1997. Tahun inilah Lingor bergabung dengan 1 FFC Frankfurt hingga akhir karirnya. Renate Lingor adalah gelandang sentral yang memiliki kemampuan teknis, membaca permainan lawan, dan memiliki keahlian dalam mengambil tendangan bebas. Sebelum menghuni skuad senior tim nasional Jerman, terlebih dahulu ia membela tim U-20 sebanyak 19 kali. Penampilan pertamanya bersama tim nasional ialah pada tahun 1995. Sejak saat itu Renate Lingor menjadi penghuni tetap tim nasional. Pada tahun 2006 ia dinominasikan sebagai Pemain Terbaik Dunia bersama Marta (Brasil) dan Kristine Lilly (Amerika Serikat). Salah satu penampilannya yang patut diingat ialah saat mencetak gol kemenangan ke gawang Swedia dalam perebutan medali Perunggu Olimpiade Athena 2004. Lingor menutup karirnya yang gemilang pada akhir musim kompetisi 2007-2008 atau seusai Jerman meraih Medali Perunggu pada Olimpiade Beijing 2008. Karir Klub: 1984-1990 FC Kalbach (yunior) 1992-1997 FSV Franfurt 1998-2001 FCR Duisburg 2001-2005 FSV Frankfurt 2005-2008 1 FFC Frankfurt Karir Tim Nasional 1995-2008 Jerman, 147 penampilan 35 Gol Prestasi Pribadi Bersama 1 FFC Frankfurt: Juara Piala UEFA 2002, 2006; Juara Liga Jerman 1999, 2001, 2002, 2003, 2005; Juara Piala Jerman 1999, 2000, 2001, 2002, 2003. Bersama Tim Nasional: Juara Dunia 2003, 2007; Juara Eropa 2001, 2005; Medali Perunggu Olimpiade 2004, 2008. Sumber foto: www.fansoccer.de (Beate Wolter)
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.