Pages

23 July 2009

Comodo park now ranks 8th in campaign

The Komodo National Park now ranks eighth in Group E (for forests, national parks and nature reserves), after more than 3,000 Indonesians voted online Sunday for the park to become one of the New Seven Wonders of Nature (N7WN).

During a road show in Bandung, West Java, to campaign for the park, at least 3,076 people in the city voted online for it to be recognized as one of the new seven natural wonders of the world.

These votes increased the ranking of the park, located in East Nusa Tenggara (NTT), to eighth on the list of 56 nominees across the globe, the culture and tourism ministry's director general of marketing, Sapta Nirwandar said in Bandung.

The support from Bandung, he hoped, would increase after the road show on Monday, when the status of the Komodo park's ranking will be made known to the public.

Sapta said by July 7 this year, the park must be second on the list in Group E in order to contest the final round of the competition, sponsored by the New Open World Foundation.

"If it wins as one of the New Seven Wonders of Nature, it will be a good boost for Indonesia's image as an international tourist destination," he told a press conference during the road show.

The Sunday event featured a music concert in the Cihampeulas area to lure young voters. The campaign started on June 15, 2009, with the ministry opening the online voting booth and offering souvenirs and door prizes for visitors.

Sapta said the government is targeting an additional 20,000 votes for the Komodo park to add to the 10,000 votes collected since January this year.

From Bandung, the ministry will take the road show to Yogyakarta, Surabaya, Makassar and Medan.

Source: The Jakarta Post

Tanggapan dari Tiyo Widodo:

Pulau Komodo sedang diorbitkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Entah mengapa saya merasa tidak sepakat, sehingga cenderung menolak.
Adalah sebuah kebanggaan menyaksikan kekayaan bangsa menjadi monumen dunia. Namun, setelah mempertimbangkan, eksposisi Pulau Komodo kepada dunia akan membuahkan dampak negatif jangka panjang.
Di antara keuntungan yang datang dalam bentuk imateri (kebanggaan) dan materi (devisa), seringkali muncul praktek komersialisasi. Pelaku yang terlibat dalam kegiatan lokasi Pulau Komodo, yang notabene pasti menjadi objek wisata, tidak tertib dalam menjalankan tugasnya. Pasti akan terjadi pula pencemaran lingkungan sekitar. Pokoknya benahi dulu lah tiap pendukung pengembangan Pulau Komodo. Pungutan liar juga saya khawatirkan akan terjadi dengan dalih perawatan lokasi, harga makanan yang mahal jauh di atas harga normal, dan sejenisnya.
Okey deh, mungkin saya telah mengambil keputusan yang keliru. Tetapi menurut saya lebih baik kita biarkan apa adanya Pulau Komodo. Biarkan hewan langka itu hidup tenang. Hendaknya jangan kita "jual" mereka demi keuntungan kita. Saya yakin pasti itu tujuannya. Sangat sulit untuk memisahkan misi pencantuman Pulau Komodo ke dalam "the seven wonders" dari orientasi uang. Baik, kita masyarakat biasa pasti bangga. Nah, para pengelola itu lah yang saya khawatirkan dan sangsikan ketulusannya. Apakah benar-benar ingin mengharumkan nama bangsa? Atau justru sebaliknya, melakukan pembusukan baik langsung maupun tidak langsung, baik sengaja maupun tanpa sengaja.
Bottom line, kita tetap masih dapat mempopulerkan Pulau Komodo dengan menjaga "keperawanannya" dari eksploitasi.
Protect our natural resources!

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.