Pages

1 April 2009

Pamer Hegemoni a la Britania Raya

David Joseph Robert Beckham baru saja mengukir rekor baru penampilan di tim nasional Inggris. Angka 109 berarti melampaui capaian Sir Bobby Moore. Sebanyak kali itulah Beckham membela tim nasional dalam pertandingan resmi internasional yang tercatat dalam statistik FIFA. Mengawali karir internasional pada pertengahan 1990an dan masuk dalam roosters skuad St. George’s Cross untuk Euro 1996, Beckham semakin mewarnai sepak terjang The Three Lions selama lebih kurang satu dekade terakhir. Kini tinggal Peter Shilton yang mengalahkannya (125 caps). Sukses atau tidaknya Beckham menyentuh angka historis ini bergantung pada banyak situasi, baik diri Becks sendiri maupun faktor luar. Biarkan saja, kita lihat apakah ia dapat menjadi England’s most capped. David Joseph Robert Beckham, yang meniti pendidikan sepakbola di SSB West Ham United, London, adalah seorang Londoner asli. Kemunculannya di “blantika” sepakbola Inggris khususnya, dan internasional khususnya, seperti membawa “berkah” bagi United Kingdom sepeninggal salah satu ikonnya, Princess of Welsh Diana Spencer-Mountbatten. Buckingham Palace kebingungan untuk mencari figur yang tepat yang akan diberi tongkat estafet “hegemoni Britania Raya”. Beberapa saat setelah bingung, akhirnya bendera the Union Jack berkibar. Tidak tanggung-tanggung, kini tidak perlu merekrut orang dari Wales tetapi dari London sendiri. Ia berarti benar-benar Englishman seperti yang diidamkan oleh Istana (mungkin ya, hehe). Suksesor itu berasal bukan dari kalangan istana. Ia adalah seorang rakyat biasa dengan bakat sepakbola. Mengapa sepertinya Beckham “disiapkan” untuk menjadi “penyambung lidah” kemahadirajaan Inggris atas dunia? Ternyata Kerajaan Inggris masih tetap haus akan dominasi ini. Dari dulu sampai sekarang, tak terkecuali Amerika Serikat pun harus tunduk atas perintah. Ketika sebuah unsur penting ekonomi bernama mata uang tidak mau tunduk oleh mata uang “panutan” global, maka kita dapat lihat betapa “arogannya” mereka itu. Benar-benar benar deh… Seperti Lady Diana, Beckham diramu sedemikian rupa. Namun kali ini tampaknya Istana tidak mau membuat “blunder” dengan mendelegasikan “orang di luar London” yang notabene paling dekat dengan Buckingham Palace. Kali ini mereka pilih Londoner. Itu mungkin alasan mengapa bukan Paul Scholes, Robbie Fowler, Steve McManaman, atau malah Michael Owen (seorang kelahiran Wales). Tidak pula Alan Shearer, karena ia telanjur diparap “Angel of the North”, sebuah julukan yang mungkin tabu bagi orang ibukota. Sungai Tyne memang tidak semegah Sungai Thames. Saking sayangnya Inggris kepada Beckham hingga segala pernak segala pernik dipersiapkan untuk menjadikannya seorang pangeran, penerus “takhta imperium terkemuka di dunia”, yang menyebut diri sebagai “the country of the rising sun; when you speak English, the sun never sets…” Dua atau tiga tahun berselang setelah debut internasional, maka tibalah saatnya mengikuti ujian yang sesungguhnya. Tidak tanggung-tanggung, sebuah napak tilas perjalanan yang penuh dengan luka teramat mendalam. Kala itu malaikat maut menjemput Sang Putri di badan jalan sebuah subway di Prancis. Terbayang kesadisannya merenggut “sang fenomenal” yang dikagumi seantero jagad. Terbayang onak dan duri yang harus diterjang oleh pemuda London itu. Ironi, tetapi juga fakta. Bahwasanya ujian terberat tadi terjadi di….ahh…Prancis. Imperium dunia lain yang menjadi pesaing berat Great Britain dalam penaklukan wilayah. Yah, Prancis lagi. Saint-Etienne, 3 Juli 1998. Di sanalah Beckham diambil sumpahnya sebagai “pewaris takhta fenomenal Lady Diana”. Indah sekali kisahnya, tidak masuk akal namun itulah yang terjadi. Bayangan kesakitan semakin nampak ketika ujian tadi Beckham lalui bersama…Argentina. Indah sekali bukan? Tidak perlu dijelaskan dengan rangkaian kata tentang apa yang terjadi antara kedua sejoli ini. Dari Malvinas hingga Mexico City semua sudah tahu. David Joseph Robert Beckham, OSB Benar-benar ujian, benar-benar pentahbisan yang sempurna. Becks hanyalah seorang pemuda lugu yang kurang paham tentang Piala Dunia waktu itu. Kurang mengerti apa arti sebuah strategi. Umpan dahsyatnya yang berlanjut menjadi gol spektakuler Michael Owen seketika sirna, musnah. Becks muda ternyata belum cukup umur untuk meladeni “kelihaian” Diego Pablo Simeone. Simeone memang provokator kelas kakap, tetapi yang namanya menyerang bagian tubuh lawan tanpa bola itu tetaplah: pelanggaran keras. Ah, ternyata pengambilan sumpah Beckham itu memberinya gelar “One Stupid Boy”. Jadilah ia bernama David Joseph Robert Beckham, OSB. Gelar satu-satunya yang diberikan oleh seluruh anggota skuad The Three Lions yang berjuang di France 1998, karena hanya dia yang menyandangnya, sementara yang lain diberi gelar Somebody, TLH (Ten Lion’s Hearts). Inggris marah dan murka. Bodoh! Bodoh! Memuakkan! Tetapi mereka marah, murka, dan muak bukan karena tanpa alasan. Mengapa bukan Paul Ince atau David Batty yang dihukum; mengapa harus Beckham? Cacian dan makian itu lebih kejam dibandingkan umpatan yang mereka alamatkan kepada Gareth Southgate, Chris Waddle dan Stuart Pearce. Cacian dan makian itu kelak juga lebih menyakitkan ketimbang teriakan “Romaniak, sungguh memuakkan!” yang diumpatkan kepada Philip Neville pada tahun 2000. Lebih bodoh dibandingkan blunder David Seaman pada tahun 2002, dan lebih kekanak-kanakan daripada sikap Wayne Rooney pada tahun 2006. Don’t Cry For Me, Argentina Semilir angin Timur Jauh berhembus sepoi-sepoi. Kota Niigata telah sesak oleh suporter Tango dan Engerlands. The Moment of Truth. Ujian kedua pun datang. Sebelumnya, aral menghadang ketika tulang kakinya remuk akibat tackling seorang….Argentina (ugh..lagi-lagi) bernama Aldo Duscher. Cidera yang membawa berkah kiranya. Menjadi jarang turun dalam pertandingan liga, membuat Juan Sebastian Veron kecapaian karena harus bermain terus-menerus. Satu titik berhasil dilemahkan. Sungguh strategi “pintar” di tengah kekhawatiran. Becks lupa akan teknik tendangan lengkungnya yang mematikan di sudut-sudut jauh gawang lawan. Becks telah lupa itu semua. Lesatan peluruh ganas ia muntahkan sejadi-jadinya tepat di tengah Pablo Cavallero berada dan …. Payback time! Itu gol terburuk sepanjang sejarah karir Beckham yang pernah saya saksikan. Apapun, Inggris tetap bersorak, penderitaan seolah sirna seketika pada diri Beckham. Semua orang pasti tahu, jikalau Inggris mendapatkan hadiah penalti, maka pengambil tendangan itu pastilah Beckham, bukan yang lain. Dan memang itu yang terjadi. Sebuah skema yang sekali lagi, “pintar” dari Michael Owen. Owen tenyata seorang yang tahu berbalas budi. Ingatan 1998 benar-benar direkamnya secara cermat dan tepat. “This is the time to give you something; I have owed you a big deal, brother”, mungkin itu yang menari-nari dalam benak Owen. When the child cried Sebuah laga penuh dendam berlangsung di AOL Arena, Hamburg. Luka laga di Lisbon, dua tahun sebelumnya, masih membekas. Sore itu pertandingan begitu ketat. Secara permainan Inggris memang kalah kelas dibandingkan Portugal yang dipandu oleh Cristiano Ronaldo. Deja-vu karena Ronaldo adalah Manchester United Number Seven setelah Beckham pergi ke Madrid. Benar-benar sebuah fairy tale. Becks menyerah pada situasi, pada strategi dan menuruti kehendak Eriksson. Ia berjalan lunglai ke bangku pemain pengganti, melepas sepatu adidasnya yang termashur sambil berurai air mata. Sangat mengharukan. Cibiran sinis datang, menyebutnya “Ia tidak menangis untuk Inggris; ia meratapi nasibnya sendiri…” Betapa sayangnya Inggris, khususnya media, kepada Beckham hingga berlaku seperti itu. Istilah “benci” semakin akrab dengan ungkapan “benar-benar cinta”. Que sera sera, whatever will be, will be. Seperti lantunan lagu yang berkumandang di stadion sebelum laga adu penalti di gelar kala itu. Inggris kembali berduka. Beckham kembali dicerca. Mungkin ia sampai capai merasakannya. Mengapa bukan Gerrard, Lampard, dan Carragher? Mengapa harus Beckham? Sekali lagi: England only needs you, Becks! What the country gives you is a TRUE LOVE; what it gives to the rest is just LOVE. The flag displays upon your door, not upon the others’. It’s the most beautiful scenery the Englishmen ever seen since the late Princess of Welsh. Begitulah kiranya Inggris menilai Beckham. Seninggal Princess Diana Inggris seperti perlu untuk membentuk figur yang menjaga eksistensi bangsa tersebut di mata dunia. Maka jadilah Beckham. Sebuh produk mutakhir yang sarat berita dan kontroversi. Media Inggris pasti sengaja membuatnya demikian agar Englishman menjadi orang yang paling banyak disorot oleh dunia. Kurang dan lebihnya boleh dikomentari atau mungkin dikoreksi. Hanya sebuah ilustrasi naratif tentang eksploitasi Beckham sebagai usaha penaklukan Inggris terhadap dunia.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.