Pages

29 March 2009

Pemadaman Bersama Berani, tetapi…

darkness of the dusk
Seorang teman memberi kabar kepada saya tentang adanya “pemadaman listrik bersama” secara global pada hari Sabtu ini. Jujur saja saya ketinggalan berita yang satu ini. “Okey, boleh saja”. Pemadaman ini katanya berlaku untuk seluruh dunia. “Wah! Luar biasa!”. Bila ini benar-benar terjadi maka akan menjadi prasasti yang fenomenal sekali dalam kehidupan manusia Abad XXI. Usut-punya-usut ternyata pemadaman ini adalah usulan dari pencinta lingkungan. Tujuannya untuk memberikan kesempatan bagi bumi untuk “sedikit bernafas dan beristirahat” dari hirup-kikuk (hehe, sengaja saya bolak-balik weekk…) perlistrikan global. Adapun pemadaman itu sendiri hendaknya kita lakukan atas kesadaran diri, tanpa paksaan. “Weleh-weleh”. Siapa takut? Bagi saya bukan suatu masalah. Jika diminta memadamkan listrik selama satu jam, mari saja. Saya siap secara pribadi. Tiga jam pun siap pula. Ini kan hari Sabtu jadi memang sudah selayaknya kita istirahatkan bumi tercinta dari kegiatan “berburu dan memangsa”. Memang kasihan jika melihat nasib bumi yang senantiasa dieksploitasi oleh ulah kita. Pemadaman listrik hendaknya tidak hanya berlaku untuk pembangkit listrik berskala besar seperti tenaga listrik yang kita ambil dari PLN, tetapi juga pemadaman sumber tenaga listrik lainnya: mesin diesel (generator set) dan kendaraan bermotor. Hayoo….Mari kita kompak. Apa berani begitu? Saya pernah dengar cerita seorang teman yang lain yang bekerja di Polysindo Eka Perkasa, bahwa jika listrik pada pabriknya itu mati selama setengah jam, maka butuh waktu 3-4 hari untuk menyetel ulang (restart) mesin produksi. Dengan bahasa lain: Polysindo merugi sekian ratus juta. Hayoo…kalau memang benar-benar konsisten, mari kita padamkan bersama-sama. Satu jam saja kok demi keadilan. Kalau kita sama-sama bersikap adil, berani saja to yah. Untuk rakyat kecil yang mengkonsumsi listrik hanya untuk penerangan, ya tidak masyaalaaahh…Jangankan satu jam. Sehari semalam saja sudah biasa lagi. Coba itu pengusaha-pengusaha besar yang konsumsi listriknya besar pula, berani apa tidak??? Pemadaman listrik global, kalau memang benar-benar mau total, berat sekali lho dilakukan. Tapi saya siap. Pemadaman listrik global baik dari skala wilayahnya maupun skala bidangnya, boleh jadi termasuk memadamkan alat-alat yang berhubungan dengan listrik seperti komputer, televisi, telepon genggam, radio, penyeranta, mesin pencetak, mesin fotokopi, dan lain tak bukan kendaraan bermotor. Bagaimana…kira-kira berani tidak? Saya berani…Tapi konsisten dan konsekuen. Jangan kemudian orang-orang “biasa” seperti saya sudah memadamkan, lha kok yang orang-orang “luar biasa” tetap saja menghidupkan listrik dengan alasan ini kek, itu lah, inu kuk…blukutuk. Bagaimana? “Wara-Wayo”…Wani opo ora? Wani to yaa…!...Pettt…..

14 March 2009

Civil servants’ salary rise to discount local finance

Central government has been defined as inconsistent due o its salary rise policy for the civil servants, in spite of lacing general allocation funds (DAU = Dana Alokasi Umum). The government has extended the salary 15% higher. Local House of Representatives member, Jauhari Thontowi (from Partai Amanat Nasional), stated that some regions have been troubled by the policy as they have to rearrange their budgets to accommodate the policy. Complaints arose from some local governments of Central Java Province. In Wonosobo Regency, allocation for routine adjusted costs due to the 15% rise touched IDR 61 billions. It is far beyond the IDR 4 billions DAU. In Boyolali Regency, the increase of the salary is as much as IDR 54 billions notwithstanding the IDR 16 billions DAU. In Kudus Regency, where the DAU allocation costs IDR 15 billions, have to make available of as much as IDR 56 billions due to the salary rise. “The President’s lip service; how can the civil servants’salary rise be accommodated without additional DAU budgets?,” said Thontowi on Friday (13/3). Such mismatch possibly affects local governments in general. The central government issues a policy, which leads to controversy. It is surprising, then, if they make their own policies, for instance, by cutting-throat the DAU budgets. “There will not be any desirable development. The DAU must be discounted and we cannever make the homerun,” Thontowi explained. Considering this recent condition, Thontowi suggests the Central Java Governor to coordinate with the central government in order to prevent the similar case in 2010 budget plan. Source: Suara Merdeka, March 14th, 2009.

13 March 2009

Artis ke Jalur Votegetters Saja

Panggung politik tanah air sekarang berubah jadi panggung hiburan. Para artis, orang bilang selebriti (saya lebih suka menyebutnya penghibur) rame-rame jadi caleg, bahkan caleks (eksekutif). Rame-rame "belah duren" :)
Dari kebiasaan keseharian saja sudah tidak cocok dengan pola hidup rakyat. Mengapa nekat nyalon? Enak sekali mereka? Tanpa belajar ilmu politik tiba-tiba "nongol". Tidak tau malu.
Penghibur tugasnya menghibur. Menggalang massa membantu "yang berhak" nyaleg, bukan malah jadi caleg. Lihat saja Oprah Winfrey. Dia cukup mendukung Obama karena dia tau dunianya di panggung hiburan. Padahal Oprah populer lho.
Tolong para penghibur minggir semua. Apapun alasannya, saudara itu pantasnya menghibur. Jangan semua "diuntal dewe". Banyak sarjana ilmu politik nganggur gara-gara "kere ra gableg duwit", "cubluk mergo akses dihambat". Mohon tau diri. Adalah sebuah "kesalahan terbesar sepanjang masa" bila saudara para penghibur naik jadi anggota legislatif.

Membuat Keputusan

Keputusan. Banyak orang yang dibuat bimbang karenanya (LA Galaxy terhadap David Beckham, Roberto Baggio thd Arrigo Sacchi, etc.). Banyak pula yang dibuat gentar karenanya (Hitler thd Raja George dlm Battle of Britain). Setiap keputusan membawa akibat: positif atau negatif, bagi pelaku maupun bagi pihak yang terkena dampak. Seperti Russian Roulette saja :) Saat anda memutuskan sesuatu pasti telah siap dengan akibatnya. Ini seperti pilihan. Jadi, karena telah memilih anda sebaiknya memperjuangkannya, suka atau tidak.
Keputusan tak jarang berujung pada penyesalan. Yah, menyesal sekali apalagi anda membuat keputusan itu secara emosional, atas dasar sakit hati, terlalu gembira, atau karena "hasutan" pihak-pihak berpengaruh dalam keseharian anda. Ketika telah diputuskan, yang berarti menunjuk pilihan, semuanya seperti selesai.
Baru-baru ini saya memutuskan keluar dari sebuah perkumpulan. Mau tau alasannya? Karena saya sakit hati :p Keputusan tadi saya buat secara emosional dan saya menyesal sekali. Sangat picik dan bodoh diri saya hingga meninggalkan hal yang mungkin akan memberikan manfaat kelak, hanya karena secuil masalah personal. Saya merasa bersalah dengan pilihan ini. Banyak juga yang menyesalkan. Well, trimakasih atas atensinya. Tapi, semua telah berakhir. Saya tak boleh menjilat ludah (ihh jijik kan? Wakakak)
Okey saya nyesal. Terlalu diliputi amarah waktu itu. Konsekuensinya saya bisa kehilangan segala hal dari perkumpulan itu. Hmm... Trus bagaimana coba mengatasi penyesalan ini ya? Saya sendiri tak tau pasti. Kecuali berprinsip "apa yang saya lakukan pada suatu masa adalah pilihan terbaik yang mampu saya ambil pada masa itu." Bagi orang lain pasti ada solusi lebih baik & afdhal ketimbang keluar dari perkumpulan. Sayangnya bagi saya waktu itu tidak ada. Saya hanya "menuruti kata hati."
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.