Pages

31 October 2008

Sumpah Pemuda

Jangankan pemuda, yang tua saja mengajari hal-hal yang menyimpang dari identitas bangsa Nusantara. So, jangan salahkan sepenuhnya kepada pemuda jika terjadi hal-hal yang merusak generasi muda harapan bangsa.

Lho, kok bisa penyebabnya yang tua? Maksudnya, orang tua di sini adalah mereka para pemimpin bangsa, para pengambil kebijakan pemerintah. Misalnya, dalam bidang budaya. Bila kebijakan pemerintah tidak mengijinkan budaya perusak moral bangsa masuk ke Indonesia tentu para pemuda tidak akan memiliki akses menuju ke sana. Masuknya investor asing yang membawa gaya hidup kebebasan seperti dugem, kelab malam, kebut-kebutan dan tempat hiburan membuat pemuda berminat untuk mencicipinya. Generasi muda, khususnya bagi remaja, mencoba sesuatu hal yang baru adalah "kewajiban" untuk memperkaya pengalaman. Belum lagi gaya hidup mewah tanpa aturan. Asalkan mampu membayar pajak semuanya beres. Bangga sekali menjadi pembayar pajak tertinggi di daerahnya. Tidak ada batasan sehingga jarak antara kaya dan miskin sangat jauh. Jadinya, muncullah gaya hidup edan-edanan, sok mampu, sok kuasa.

 Nah, dari sini timbul kesenjangan sosial. Generasi muda kaya tak peduli lagi dan tenggelam dalam kehidupan hedonis dan narsis; generasi muda miskin semakin "iri hati" sehingga tak sanggup lagi membela bangsa. Lha gimana, bertahan hidup saja susah kok. Kesalahan lain terjadi pada bidang pendidikan. Wes, yang ini sudah sampai capek memikirkannya. Tidak ada jaminan "pendidikan untuk semua". Memang ada beasiswa untuk pelajar yang tidak mampu. Tapi berapa persen jumlahnya. Generasi muda sekarang banyak yang malas. Banyak pula yang jaga gengsi. Opo maneh sing wes nyandang sebutan mahasiswa. Wuah, lagaknya itu lho sak kemenge. Wes, wes, koyo ngono kok dikudang-kudang dadi pilar bangsa. Hihi. Oops! jangan sewot dulu, ora kabeh ngono lho.

Pisan maneh, iku mergo wong sing luwih tuwo ora eling lan waspodo. Kalo mau jadi harapan bangsa tanggalkan dulu perilaku budaya asing. Kita kembali membumi seperti saat kemudahan-kemudahan sekarang belum ada. Jangan takut ketinggalan jaman karena tidak "go international". Biar orang asing yang "go Indonesia". Maksude, bukan untuk investasi budaya mereka tetapi untuk mencontoh budaya kita.Ultranasionalisasi juga perlu kok. Kalo itu memang perlu. Lha nanging teknologi mereka lebih canggih ki piye? Halah, wong podo-podo menungsone kok ndadak nglokro. Yo kreatip, sinau, pethel leh usaha. Nek perlu gawe inovasi teknolgo dewe.

Lha modale saka ngendi? Ah, yo mulane ojo jor-joran mburu kebutuhan sekunder, tersier, koyo to henpon kudu sing apik, komputer kudu sing paling canggih, motor kudu sing top, kabeh kudu sing paling opo kuwi istilahe, "ngetren"? Kita ini sekarang mimpi saja tidak mampu, apalagi berharap memiliki generasi muda yang hebat. Ora bakal dadi kasunyatan kang satuhu. Gombal mukiyo lah pokoke. Lha piye, wong nyandang budayane dewe ae isin, wedi yen diarani kampungan, ndeso, ora gaul. Akh...

Building A Stronger Milan

AC Milan has reached its critical period as some key players are beyond their peak performance.Such longer servers as Maldini, Nesta, Dida, Ambrosini, and Gattuso prefer using their experiences to physical strength. Once the team play quick and young opponents, clearly it is proven that stamina and endurance do matter. Carlo Ancelotti slowly responds to this circumstance. He looks frightened to put fresh players on the starting line up. In fact, new players like Antonini and Paloschi (last season) have shown their talents. The leage has been harder to climb. I Rossoneri find themselves in more breathtaking competition. Despite their emotional victory over the long lasting city rival, Internazionale, couple weeks ago, Milan, in particular Ancelotti, must make differene unless they will not get anything in the end of the 2008/2009 season.

Wong Urip Iku Bareng-Bareng (Part 1)

Kontributor: Siswanto, SE LA Computer Pleburan Semarang Maksude opo? Seneng yo bareng-bareng, susah yo bareng-bareng. Wong kuwi fitrah kok ra iso dilawan. Kenyataane opo, nek ono wong sing pengen penak terus midak liyane mesti dekne yo kepidak. Kasus meneh...lha wes cetho tho nek dongane wong apes/anioyo iku makbul. Iso wae sing lagi sugih/penak didongakne dadi apes. Dadine podo apese. Mangkane ning Islam iku disaranke nek lagi nduwe ee...yo...ngamal kanggo sing ra nduwe kan podo senenge. Timbang dipangan dewe mesti podo susahe. Mangkane wong urip iku ojo mikir awake dewe thok, enake dewe thok.

On Indonesian Media

Indonesia is a nation that has experienced many turmoils since it has been proclaimed as an independent country in 1945. The year of 1998 was a turning point of the wind of change (I am unsure whether it was breeze or storm winds). After having been "paralyzed" for somewhat three decades due to the "iron fist" of the New Order Government, Indonesian media found grips to get freedom in press. Many unsoved mysteries revealed since then. Those previously prohibited to be published, such as army violence, corruption, and monopoly of particular parties on others in social, political, and economic aspects. Years pass and now is the first decade of the new wave of nation. The existence of mass media as an agent of change truly plays an important role. The media develop as a vast growing industry. The needs for information have driven the media to produce news in vary segments in order to fulfill demands from the audience. People's expectation was finally answered. However, some new problems come as the media gain more freedom. Initially, they would like to deliver actual information, but the impact is unexpectable. Looking to the development of the national press in Indonesia it seems that they had rather pursue benefits than give good news to their audience. The information provided sometimes looks too overwhelming. For instance, the media produce much violence and controversies. You ccan take a look at television news, in which most information are dominated by violence-related cases, such as, riots, unrest, crime, murder, distress, accident, protest, and the like. There has not been equality between bad news and good news. It is true that the media bring to the audience illustrate reality happening around us. Yet, they become more and more skeptical with the strength of the nation in efforts of reshaping the situation after hard times. As an agent of change, Indonesian media give more hesitation than motivation. News brought to the audience only make them anxious.

Menunggu David Beckham

David Beckham harusnya datang ke Milan 9-10 tahun yang lalu. Saya berandai-andai umpan hebatnya akan memanjakan Oliver Bierhoff atau Andriy Shevchenko. Jika berada di sana saat itu pasti I Rossoneri akan lebih ditakuti lawan. Namun waktu dan tempat tidak mengijinkan. Padahal saya sebagai Milanista sangat berharap Beckham menjadi Englishman yang sukses di Milan. Beckham adalah salah satu pemain saat ini yang menjadi idola saya. Pekan ini beredar kabar Beckham ikut berlatih bersama squadra Rossoneri. Rumor dari media-media Eropa mengabarkan bahwa Beckham akan merumput bersama Milan mulai Januari 2009 dengan status "on loan" dari Los Angeles Galaxy. Biarpun jangka pendek, betapa senangnya hati saya sekarang. Kedatangannya membuat saya seperti mengalami deja-vu. Beckham akhirnya jadi juga berseragam merah-hitam. Semoga rencana tidak berubah. Dengan ini saya sampaikan "Welcome to Milanello, Becks!". Performanya memang telah menurun, tetapi kelasnya tetap ada. Kata Liverpudlians di Anfield sana "Form is temporary, but Class is permanent."

Fixing A Broken (White) Hart (Lane)

Tottenham Hotspur sedang dilanda nestapa. Keputusan melepas pemain-pemain kunci pada awal musim ini membawa petaka. Datangnya bintang baru ternyata belum dapat bermain kompak. Sangat disayangkan jika nanti pada akhir kompetisi The Spurs harus terdegradasi. Klub ini termasuk tim teras yang secara reguler menghuni liga tertinggi Inggris, baik saat bernama English First Division maupun setelah berganti nama English Premier League. Sebagai informasi, Spurs adalah klub yang termasuk jagoan di Piala FA sepanjang masa. Musim ini terasa berat untuk mereka jalani. Padahal materi tim lumayan menjanjikan. Kedatangan pelatih Juande Ramos yang sukses bersama Sevilla ternyata tidak menjamin masa depan. Menyedihkan sekali bagi klub sekelas Tottenham menghuni dasar klasemen dan memiliki rekor 11 kali pertandingan pertama tanpa kemenangan. Situasi lemah mental dan semangat ini harus segera berakhir. Kabar terakhir Spurs berhasil meraih 4 poin dalam dua pertandingan terakhir. Pertama mengalahkan Bolton Wanderers 2-0 dan kedua menahan The Gunners Arsenal 4-4 setelah ketinggalan 1-3, dan 2-4. Tottenham harus bangkit untuk mengobati luka hati penggembarnya. Kemenangan atas Bolton harus menjadi menjadi momentum bagi Spurs untuk lolos dari ancaman degradasi.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.