Pages

14 December 2008

Perjanjian Bermaterai untuk Bimbingan Skripsi

Menanggapi keluhan yang sering diungkapkan oleh beberapa mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi atau tugas akhir mereka, saya menemukan satu simpul yang bermuara pada persoalan yang sama: para mahasiswa tersebut merasa resah karena urusan mereka yang berhubungan dengan skripsi tidak kunjung selesai. Tertundanya penyelesaian masalah ini disebabkan oleh sikap dosen pembimbing yang sering membebani pikiran mereka. Dalam posisi yang boleh dikatakan “bergantung”, seorang mahasiswa seakan tidak dapat berbuat apa-apa terhadap keputusan dosen yang sulit ditemui, enggan untuk ditemui untuk berkonsultasi karena ada urusan lain, dan sebagainya. Terlihat bahwa sikap ini menjurus ke sifat “otoriter” karena mahasiswa sedang membutuhkan dosen.

Terkadang saya mendengar keluh-kesah mahasiswa yang merasa tidak dihargai meskipun telah berusaha keras untuk memenuhi keinginan dosen. Pernah saya mendengar kejadian bahwa seorang dosen dengan santainya membatalkan janji yang telah ia buat dengan mahasiswa bimbingannya karena ada urusan yang katanya “lebih penting”. Sikap ini jelas merugikan waktu, tenaga, bahkan biaya mahasiswa. Seorang dosen pembimbing hendaknya menyadari kedudukannya sebagai seorang “supervisor”. Membimbing berarti mengarahkan, memberikan masukan, menuntun dengan “kasih sayang” agar mahasiswa yang dibimbingnya mendapatkan kemudahan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Status sebagai dosen pembimbing malah seperti dimanfaatkan untuk “menindas” mahasiswa bimbingannya. Sikap merugikan ini juga pernah saya alami ketika masa kuliah dulu. Meskipun jenis kasusnya berbeda, yakni “draft” tugas akhir saya hilang di tangan dosen pembimbing, namun jelas bahwa hilangnya dokumen yang bagi saya sangat penting ini menunjukkan kelalaian tanggung jawab dosen pembimbing terhadap mahasiswa bimbingannya. Akhirnya saya ketik lagi draft tugas akhir tersebut. Padahal waktu itu saya belum tahu apa-apa tentang komputer. Tentu saja memakan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Kedudukan mahasiswa memang sangat lemah di mata dosen.

Keputusan untuk “cari aman” dan menuruti petunjuk dosen meskipun petunjuk itu dapat saja keliru (dosen juga manusia biasa yang tidak selamanya benar) membuat pihak mahasiswa tertekan. Apa daya, karena tampaknya begitulah “aturan main” dunia perkuliahan zaman sekarang (khususnya yang sering saya amati di lingkungan saya sekarang). Periode penyusunan skripsi, tugas akhir, atau thesis, adalah periode krusial yang penuh warna. Seorang mahasiswa dapat saja menjadi “orang lain” dari seperti biasanya karena tekanan yang membebaninya sangatlah berat. Maksud hati ingin segera menyelesaikan studi, dengan maksud untuk secepatnya lulus dan tidak lagi membebani orang tua, namun malah merugi. Rugi waktu, tenaga, kesempatan, biaya, dan momentum hidup. Kerugian ini mungkin tidak dirasakan oleh dosen pembimbing. Apakah ini tidak disadari oleh para dosen tersebut? Tentunya, sebagai seorang yang status intelektualnya lebih tinggi, mereka pasti mengerti. Apakah sikap “arogan” terhadap mahasiswa bimbingan ini merupakan wujud dari “politik balas dendam” karena pada masa mereka menjadi mahasiswa juga “dibantai” oleh dosen mereka? Hanya para dosen tersebut yang mengetahui.

Uraian yang saya kemukakan di atas tentu saja tidak mencakup semua konflik yang terjadi antara dosen pembimbing dan mahasiswa bimbingan. Mungkin masih banyak lagi kasus lain yang bahkan lebih menyedihkan bagi mahasiswa. Akan tetapi, dari kejadian-kejadian yang saya dengarkan, perhatikan, dan amati, tampaknya telah tiba waktunya untuk diadakannya “Surat Perjanjian dengan Materai” antara dosen pembimbing dan mahasiswa bimbingan. Jika dosen sering mengungkapkan istilah “profesionalisme” maka kinilah saatnya untuk mewujudkan kampanye tersebut. Dosen pembimbing memiliki tanggung jawab moral yang sangat besar untuk membimbing mahasiswanya hingga ia selesai skripsi. Kewajiban bukan “melulu” berada di tangan mahasiswa, namun kewajiban lebih besar berada di tangan dosen. Limpahan wewenang sebagai pembimbing ini tidak boleh dijadikan permainan. Tanggung jawab sebagai dosen pembimbing adalah salah satu bentuk “amanat” dari orang tua mahasiswa secara tidak langsung.

Adapun isi dari perjanjian dosen pembimbing-mahasiswa bimbingan tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. - Kesanggupan dosen untuk membimbing mahasiswanya hingga selesai tanpa diganggu oleh urusan-urusan yang sekiranya tidak ada hubungannya dengan soal akademis (kecuali peristiwa luar biasa di luar kemampuan manusia);
  2. - Kesediaan dosen untuk mengaku “tidak mampu” untuk melanjutkan bimbingan karena waktu, tenaga, dan pikirannya tersita oleh masalah-masalah di luar bimbingan skripsi;
  3. - Pengertian yang mendalam dari kata “membimbing” yang maksudnya ialah memberikan pengarahan, wejangan, masukan, tuntunan, dan jalan keluar atas masalah pengerjaan skripsi mahasiswa bimbingan;
  4. - Kesanggupan untuk berkomunikasi dengan cara apapun dengan mempertimbangkan kemampuan mahasiswa bimbingan. Terkadang ada seorang dosen yang menilai mahasiswanya tidak sopan karena sekedar menelpon atau mengirim pesan singkat untuk bertemu. Sikap ini jelas menunjukkan arogansi dosen oleh karena kedudukannya terbilang “di atas” mahasiswa;
  5. - Kerelaan untuk meluangkan waktu seperlunya di luar jadual bimbingan jika mahasiswa bimbingan menemukan kesulitan yang tidak dapat ia pecahkan sendiri. Di sinilah nilai dari seorang pembimbing;
  6. - Seorang pembimbing bukanlah seorang komandan pasukan yang seenaknya memberikan komando ini dan itu tanpa memperhatikan kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa;
  7. - Kesediaan untuk menanggalkan perbedaan-perbedaan, gesekan-gesekan, dan pertentangan-pertentangan pendapat, prinsip, dan ideologi yang sekiranya dapat mengganggu kelancaran bimbingan. Persyaratan ini saya kemukakan karena pernah terjadi kasus dua orang dosen pembimbing saling bersitegang, saling menjatuhkan karena ternyata dua dosen tersebut saling bersaing sehingga mahasiswa bimbingannya sampai tidak tahu harus berbuat apa, hingga jatuh sakit karena memikirkan nasib skripsinya;
  8. - Dosen pembimbing harus menjamin bahwa hasil pengerjaan skripsi/tugas akhir mahasiswa tersebut adalah hasil murni pemikiran mahasiswa bimbingan, bukan karena misi tertentu yang dibawa oleh dosen tersebut. Saya pernah mendengar cerita bahwa judul skripsi terpaksa diganti. Ternyata penggantian judul skripsi tersebut disesuaikan dengan proyek yang sedang dilakukan oleh dosen tersebut. Dengan kata lain, dosen melakukan aksi “sambil menyelam minum air”. Daripada mengadakan penelitian sendiri, lebih baik “memanfaatkan” mahasiswanya yang sedang menyusun skripsi.


Butir-butir di atas tidak memuat kewajiban yang harus dipenuhi oleh mahasiswa bimbingan karena pada umumnya mahasiswa hanyalah “pion” yang menunggu perintah pimpinan. Mahasiswa yang bersikap radikal biasanya akan “ditumpas” habis dan dipersulit proses studinya dengan alasan “tidak sopan” terhadap dosen. Semacam itulah skenario yang sering terjadi. Tindakan mempersulit proses penyelesaian skripsi/tugas akhir membawa akibat yang fatal. Ada kasus seorang mahasiswa mengajukan permasalahan skripsi yang “aneh”. Aneh di sini berarti permasalahan yang tidak umum diajukan oleh sebagian besar mahasiswa. Beberapa kali saya mendengar cerita rekan mahasiswa bahwa permasalahan “aneh” tersebut kemungkinan besar ditolak. Dari sini saya mengamati bahwa dosen pembimbing merasa enggan untuk menghadapi masalah-masalah yang mereka anggap “sulit” dan “tidak sewajarnya”.

Padahal, di balik permasalahan “aneh” tersebut boleh jadi muncul teori baru. Apakah kita harus terus menganut teori lama jika ada teori baru yang lebih baik? Karya ilmiah memang sebuah karya yang disertai dengan referensi dan daftar pustaka sehingga karya tersebut diakui keabsahannya. Akan tetapi kita harus berpikir luas, seberapa jauh ilmu yang telah kita dapatkan di Indonesia dengan buku-buku yang beredar di sini? Sementara mahasiswa dapat saja mendapatkan buku teori yang lebih maju hasil pencariannya dari, misalnya, internet, atau bahkan mendapatkannya dari kiriman luar negeri.

Dosen seharusnya bersikap membuka diri dengan terobosan-terobosan baru yang “mungkin” belum pernah ia dapatkan. Bukan berarti seorang dosen akan lebih pintar dan berilmu dibandingkan mahasiswanya. Saya sangat yakin bahwa pendapat saya ini pasti mendapatkan komentar yang sangat pedas dari pihak-pihak bersangkutan yang merasa dirugikan.

Boleh dikatakan, pendapat ini sangat “ekstrim” dan “radikal”. Hampir tidak mungkin jika seorang dosen bersedia berada sejajar dengan mahasiswanya dalam lingkungan komunikasi yang setara, saling bertatap muka selayaknya dua orang sahabat yang saling bercurah hati, saling memberi masukan. Sebagian besar dosen berusaha untuk menjaga “status quo”, menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan mahasiswanya. Jika paradigma ini telah terbentuk, maka hubungan dosen dengan mahasiswa akan selayaknya hubungan majikan dengan pembantu. Sikap arogan ini mengajari mahasiswa menjadi seorang penjilat yang mau berbuat apapun asalkan dosennya senang. Apakah ini yang diinginkan? Apakah ini ciri khas bangsa Indonesia yang katanya saling menghormati, saling menghargai sesama. Apakah ini sesuai dengan kemanusiaan yang adil dan beradab?

Opini di atas saya sampaikan sebagai pengejawantahan suara-suara yang saya dengarkan dari rekan-rekan mahasiswa yang merasa “tidak enak” dengan kondisi yang mereka hadapi terkait dengan penyusunan skripsi/tugas akhir. Pada dasarnya mereka “takut” untuk unjuk rasa, untuk memberontak, untuk membela diri, karena kedudukan mereka yang “lemah”. Mereka hanyalah mahasiswa yang tahunya patuh mengerjakan tugas, mengisi presensi, melaksanakan perintah-perintah dosen yang terkadang keterlaluan. Dari sinilah saya pandang perlu dibuat surat perjanjian resmi di atas kertas bermaterai. Maksudnya, agar perjanjian ini dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila ada tindakan-tindakan yang menyimpang dari butir-butir ketentuan yang tertulis, maka seorang dosen dapat dituntut atas kelalaiannya selama membimbing mahasiswa bimbingannya.

A simple tribute to some good friends of mine who have been in troubles during their road to graduation.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.