Pages

14 December 2008

Makna Studium Generale

Sebagai seorang mantan mahasiswa yang pernah menjadi panitia Studium General sewaktu menjadi pengurus himpunan mahasiswa (periode 1995-1996), saya ingin mengutarakan secara singkat tentang makna sebenarnya Studium General itu. Terlepas dari kemungkinan bergesernya tujuan, misi, atau definisi studium general untuk masa sekarang, sepengetahuan saya, acara ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan para mahasiswa baru tentang banyak hal mengenai kuliah yang akan mereka jalani selama tiga hingga enam tahun (waktu normal) dan memberikan gambaran secara garis besar tentang hal-hal yang menyangkut aktivitas kampus baik kuliah, kegiatan ekstra (yang digalang lewat unit-unit kegiatan mahasiswa) maupun kegiatan lain yang mengatasnamakan kampus. Studium general juga dimaksudkan untuk mendekatkan mahasiswa baru dengan seluk-beluk kehidupan akademis di kampus mereka. Dalam studium general tersebut terdapat sesi seminar yang menghadirkan pembicara. Kalau pada masa lalu biasanya para pengajar dan perwakilan dari unit kegiatan mahasiswa. Entah kalau sekarang sistemnya telah berubah.
Berdasarkan pengalaman penulis pada masa lalu, maka terasa janggal ketika mendengar bahwa studium general dihadiri oleh pembicara yang telah mengarungi dunia kerja. Ada alasan mendasar yang mendukung kekurang setujuan penulis terhadap penyertaan praktisi dunia usaha ke dalam acara studium general mahasiswa.
Arah dari studi mahasiswa di universitas maupun perguruan tinggi khusus lainnya (institut, sekolah tinggi, akademi) memang semakin tertuju pada persiapan seseorang menuju lapangan kerja. Dengan kuliah mereka berharap agar mampu lebih bersaing karena memiliki gelar sarjana atau ahli madia (yang pada faktanya menjadi ‘aturan main’ lapangan kerja Indonesia saat ini). Itu saja tidak selalu menjamin keberhasilan karir mengingat tempat yang diberikan oleh lapangan kerja tidak sebanding dengan banyaknya tawaran untuk menjadi karyawan melalui iklan lowongan di surat kabar dan media massa lainnya.
Alasan “penolakan” terhadap kehadiran praktisi usaha (baik karyawan maupun pengusaha) dalam acara studium general ialah karena langkah tersebut “terlalu pagi” bagi para mahasiswa baru. Mereka belum juga genap satu semester mengikuti kuliah, buru-buru sudah di-iming-imingi oleh orang yang telah “sukses” mendapatkan pekerjaan selesai lulus kuliah. Sekilas memang baik-baik saja, tidak ada masalah, dan boleh dibilang komentar penulis ini terlalu mengada-ada. Namun jika ditelaah dampaknya secara kumulatif dalam jangka panjang, maka dalam pola pikir mahasiswa akan terbentuk sebuah sikap yang mengesampingkan nilai akademis. Kuliah menjadi formalitas untuk meraih gelar. Mahasiswa semakin berorientasi pada pekerjaan, padahal universitas sendiri tidak berani menjanjikan apa-apa terhadap para alumninya. Kecuali kalau universitas membuat pernyataan seperti “setelah lulus mahasiswa akan dapat bekerja di perusahaan X”, dsb. Sedangkan dalam ijazah saja kurang lebih tertulis : “....dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.” Bagi mahasiswa, wawasan dan pengalaman yang ditularkan oleh pembicara yang seorang karyawan itu sangat menguntungkan. Tidak ada ruginya sama sekali. Namun, bagi universitas tidak demikian adanya. Tidaklah cukup untuk membangga-banggakan lulusannya yang telah bekerja pada sebuah perusahaan terkemuka di Indonesia, sementara kualitas anak didik saat ini semakin merosot.
Penulis berpikir dalam ruang lingkup akademis, bukan dalam ruang lingkup “entrepreneurship”, mengedepankan reputasi universitas sebagai pencetak generasi bangsa yang handal di atas reputasi individu mahasiswa. Maka dari itu, pembekalan yang terbatas pada masalah perkuliahan dalam studium general tampaknya harus dijadikan prioritas karena mahasiswa baru perlu menjalani proses yang alami. Inilah letak perbedaan antara mahasiswa generasi tahun 1990an dan generasi 2000an. Perbedaan memang tidak berlaku keseluruhan karena tidak setiap orang dapat disama-ratakan. Namun penulis merasakan bahwa penguasaan bidang akademis rata-rata mahasiswa saat ini masih kalah dibandingkan mahasiswa generasi sepuluh hingga lima tahun yang lalu. Pendapat ini tidak bermaksud untuk merendahkan atau menyinggung perasaan mahasiswa sekarang. Telah penulis tegaskan bahwa tidak semuanya berlaku demikian.
Orientasi karir mengesampingkan tujuan utamanya sebagai mahasiswa yang kewajibannya adalah belajar, menyelesaikan tugas sebaik-baiknya hingga nilai yang diperoleh memuaskan. Apalagi saat ini telah ada sistem perkuliahan “kelas eksekutif”, “kelas sore”, dsb. Penulis hingga saat ini masih terlibat dalam ‘sepak terjang’ mahasiswa, khususnya Universitas Diponegoro, ehingga dapat memberikan gambaran yang konkret tentang kualitas mahasiswa sekarang. Pengenalan dunia kerja kepada mahasiswa baru sangat penting fungsinya. Namun hal tersebut butuh waktu agar mahasiswa baru menjalani dulu tahap perkembangan satu per satu.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.