Pages

23 December 2008

Konversi Energi, Perlukah?

Konversi energi untuk kebutuhan rumah tangga mengandung maksud untuk menekan kebutuhan bahan bakar minyak yang semakin tak terkendali. Pemanfaatan besar-besaran BBM ini bahkan sampai melahirkan istilah "kelangkaan minyak". Benarkah minyak bumi Indonesia telah langka? Hingga pemerintah perlu menaikkan harga untuk konsumsinya sehari-hari? Sebenarnya cadangan minyak mentah yang terkandung di bumi masihlah banyak menurut saya. Akan tetapi, sebagian persediannya justru dinikmati oleh orang lain hingga kebutuhan rakyat sendiri menjadi terabaikan. Pemanfaatan ini belum tentu secara langsung, melainkan melalui kerjasama industri minyak dengan perusahaan asing. Keikutsertaan Indonesia di dalam organisasi negara penghasil minyak (OPEC) menurut saya juga menyumbang sebagian masalah. "Konsorsium" ini menentukan harga minyak dunia. Indonesia sendiri seolah-olah hanya menjadi "penggembira" diantara negara kuat yang lebih berkuasa dalam menentukan kebijakan harga dan sejenisnya. Keadaan sulit sekarang inilah yang mungkin tidak dirumuskan atau diperkirakan sewaktu Indonesia memutuskan untuk bergabung dengan OPEC. Akhirnya muncul ide untuk membuat alternatif bahan bakar dengan menggunakan gas, LNG maupun LPG. Ternyata, masalah menjadi semakin sulit karena pada kenyataannya harga gas lebih mahal. LPG memiliki kelemahan karena harus dibeli dalam ukuran per tabung, tidak dapat diecer sebagaimana minyak tanah petrolium. Masalah lain, tabung gas didapatkan secara mengimpor. Apa hal ini tidak mempersulit konsumen? Tentu saja harga gas bukanlah harga sebenarnya karena harus diseimbangkan dengan biaya produksi, termasuk biaya pembelian tabung impor. Belum lagi biaya keuntungan untuk produsen gas itu sendiri. Kondisi perekonomian Indonesia memang "semrawut". Banyak kebijakan yang mengada-ada. Untuk apa konversi energi jika sebenarnya konsumsi energi yang saat ini berlangsung dapat dikurangi tanpa harus membuat bahan bakar dalam bentuk lain. Terjadi konsumsi yang berlebihan pada sektor transportasi hingga merugikan sektor rumah tangga. Namun demikian, tentu saja tidak ada satu pun pihak yang mau dipersalahkan. Setiap pihak pasti memberikan alasan yang membawa kesan empatik hingga orang merasa prihatin dan terenyuh terhadp kesulitan mereka mendapatkan bahan bakar minyak. Permasalahan BBM senantiasa menjadi berita utama sepanjang masa. Alur ceritanya pun tidak berubah dari pendahuluan hingga penutupan. Setiap pihak ingin menang sendiri dengan alasan yang sedemikian rupa sehingga terasa masuk akal. Padahal pemecahannya sebenarnya masuk akal, yakni kesadaran warga untuk mendahulukan kepentingan bersama. Selama ini pemborosan bahan bakar minyak terjadi pada bidang transportasi. Hendaknya warga yang merasa lebih mampu mau mengerti akan keadaan warga yang kurang mampu, dengan salah satunya menekan diri untuk tidak menggunakan bahan bakar secara berlebihan.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.