Pages

14 December 2008

Harga BBM Turun?

Saya menyaksikan dan mendengar berita tentang sinyalemen akan turunnya harga bahan bakar pada sebuah stasiun televisi, siang ini (29/10). Sayup-sayup saya dengar, tapi kemudian ditegaskan oleh beberapa pemirsa lain, bahwa harga BBM menunggu kemurahan hati Presiden (sebagai rasa hormat saya kepada kepala negara Republik Indonesia, saya enggan menyebut “SBY”, itu tidak sopan). Kemurahan hati? Sekarang Presiden itu berurusan dengan berapa orang, berapa kelompok masyarakat, berapa segmen warga negara? Seorang pemimpin negara yang naik ke tampuk kekuasaan pastinya ada yang mendukungnya. Secara otomatis pemimpin tersebut pasti akan merasa berhutang budi kepada pendukungnya tersebut. Nah, tentu saja jika ditimbang-timbang pasti ia akan lebih membela para pendukungnya tersebut. Dengan kata lain, ia akan lebih bermurah hati kepada para pendukungnya. Halah, ngaku saja, bung….memang gitu kan hukum alam yang berlaku? Sangat jarang pemimpin negara yang juga pemimpin bangsa. Maksudnya, kalau bangsa menurut saya lebih umum cakupannya dibandingkan negara. Lha kalau Presiden bermurah hati pada satu pihak, nanti pihak lain berkeberatan. Fatalnya, yang berharap kemurahan hati itu adalah mereka yang hanya mampu mendukung dengan suara, bukan…ehhmm…dengan bantuan riil berupa fasilitas finansial, transportasi, informasi, dokumentasi dan sebagainya, lan sak piturute, lan sak panunggalane… Sampai sebegitunya ungkapan yang digunakan oleh media kita dalam menyikapi kebijakan pemerintah yang terus saja menaikkan harga BBM. Sebegitu hopeless sehingga kita bersikap sebagai seorang “pengemis” yang meminta belas kasihan. Ah, saya jadi merasa sedih, terenyuh, bercampur mangkel. Ternyata kondisi bangsa telah sedemikian parahnya. Presiden sendiri pastinya tidak akan bisa berbuat apa-apa jika dikepung oleh masalah yang banyak sekali. Presiden pastinya telah berbuat semaksimal mungkin untuk bangsanya. Yah, semaksimal mungkin. Lha tapi kepentingan-kepentingan hidden agenda itu lho yang menghalangi kebijaksanaan (bukan kebijakan lho). Maksudnya wisdom, bukan policy. Kita harus maklum. Presiden juga sedang ruwet mikirke kepiye apikke. Percoyo lah. Presiden tidak seburuk itu. Meskipun saya tidak ikut memilihnya pada Pilpres lalu, tapi saya menyadari beratnya tanggung jawab seorang kepala negara memimpin sebuah negara yang sedang mengalami krisis multidimensi. Krisis yang diakibatkan oleh kepentingan segelintir oknum tak bertanggung jawab dengan tameng mahasiswa (aduh…aku dadi eling sepuluh tahun kepungkur; kok yo ono wae sengkuni-sengkuni sing manfaatake demonstrasi mahasiswa rikala iku?). Sudahlah jangan menangis anak negeri. Mereka yang kita percaya telah tidak mampu menjadi penyambung lidah kita. Bagaimanapun ini adalah sandiwara para pentolan politik yang memburu kepentingan sendiri. Tidak ada gunanya kita berkobar semangat mendukung pihak tertentu karena akhirnya ya seperti ini. Arep mbok gembar-gembor liwat tivi, radio, spanduk, internet, baliho, lha wong nyatane yen wis beres awake dhewe yo ditinggal glanggang koq. Inilah kecermatan yang harus kita miliki. Jangan terpengaruh oleh “sensasi” sesaat yang mengatasnamakan perubahan. Perubahan memang terjadi, tapi yang susah kalau perubahan itu membuat kita menjadi lebih dhedhel-dhuwel ya bagaimana? Kita harus mantap dengan prinsip sendiri sebagai bagian dari bangsa yang besar: Nusantara. Berabad-abad yang lalu nenek moyang kita berhasil membangun sebuah mahakarya monumental bernama Candi Borobudur. Itu adalah bukti kebesaran Nusantara. Kita sebenarnya mampu membuat sesuatu yang “luar biasa”, yang “extraordinary”, yang “larger than life”. Kita harus percaya bahwa bangsa kita ini hebat. Orang-orang kita ini cerdas, kuat, brilian, tekun, rajin. Percaya rak wis, ya…hmm? Mosok aku kudu ning Los Angeles, London, Milan nggo ngrekomendasi David Beckham nggo kondho yen Borobudur iku masterpiece kelas dunia? J Oops! Itu selingan saja. Biasa, kalau tidak ada iklan siaran langsung tidak akan jalan kan? Kembali ke masalah kemurahan hati Presiden. Hmm, tampaknya kita masih percaya Presiden dapat memberi suluh penyembuh luka rakyat. Itulah kebesaran bangsa kita. Mereka yang tidak memilih maupun yang memilih sewaktu Pilpres dulu mengakui bahwa Susilo Bambang Yudoyono adalah Presiden Republik Indonesia. Kebijakan-kebijakannya yang membela rakyat selalu dinanti dan diharapkan. Harga kebutuhan pokok itu sulit untuk turun. Kalau harga komputer, handphone, motor mungkin bisa. Nah, ini yang aneh di masyarakat kita. Mengapa harga barang-barang sekunder, bahkan tersier cenderung turun dari waktu ke waktu. Semakin hari semakin mudah saya orang membeli motor. Ironisnya, semakin hari semakin sulit membeli bahan bakar untuk menjalankan motor itu….Hahahaha! Sarkawut tenan! Wes, wes…ojo nglokro poro kadang. Luwih becik kito realistis wae. Utamakan kebutuhan pokok, baru mikir kebutuhan pendukung. Biyen eyang buyut, simbah, bapak ibu kito podho mlampah, tindak ngagem suku yo mboten menopo-menopo koq. Padahal gizi beliau para leluhur “cap gaplek”, bukan “cap promina’ yang mengandung AA dan DHA, hmm? Mboten gadhah handphone canggih nggih saged sami kenalan, sami bebrayan kadosna mimi lan mintuna. Ingkang baku hanggula wenthah nyekapi kabetahan sabandintenipun. Sumonggo samya kundur ing identitas bangsa kang andhap asor, sederhana, namung sugih mbrahewu ing welas asih dhumateng sesami. Okey kawan? Ah, saatnya ke kucingan Al-Barokah ni, mau ikut?

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.