Pages

14 December 2008

Gender Equality kuwi opo to...?

Kesetaraan gender terus dikampanyekan untuk memperjuangkan persamaan hak dan derajat antara laki-laki dan perempuan. Dalam berbagai aktivitas dan bidang kehidupan kaum perempuan giat menggalakkan perjuangan untuk berdiri setara duduk sejajar dengan laki-laki. Mohon tinggalkan sejenak pendapat-pendapat dari para “pakar per-genderan” yang memiliki teori-teori hebat tentang kesetaraan gender. Kita ulas dengan logika sejauh kemampuan berpikir kita saja. Saya pribadi telah mengetahui istilah “perempuan karir” sejak kelas 5 sekolah dasar. Pada waktu itu terheran-heran, apa yang dimaksud “perempuan karir” itu. Sepengetahuan saya istilah “karir” saya temukan dalam dunia olahraga. Masih ingat ketika itu pesepakbola kondang Inggris, Peter Shilton, mengakhiri “karir” sebagai pemain tim nasional setelah Piala Dunia Meksiko 1986. Lha terus “perempuan karir” ki opo maksude? Lambat laun setelah saya banyak membaca berita di koran, menbaca kamus bahasa Indonesia, saya jadi tahu bahwa yang dimaksud “perempuan karir” itu ternyata, ini menurut pendapat saya saja, seorang perempuan yang bekerja di luar rumah, di luar tugas-tugas rumah tangga sebagai ibu, isteri, dan pengurus rumah tangga. O, begitu ya maksudnya. Semakin ke sini, semakin gencar istilah ini disebutkan di media massa, baik koran, majalah, radio, maupun televisi. Ternyata perempuan kini telah mengubah diri untuk tidak hanya berdiam di rumah saja, dipingit oleh orang tua, atau menjadi konco wingking bagi suami. Bagus, perkembangan yang bagus menurut saya. Artinya perempuan ikut berpartisipasi dalam pembangunan manusia, khususnya bangsa kita sendiri. Jika perempuan ikut serta dalam pembangunan maka bangsa kita pasti semakin berhasil di dalam membentuk sebuah organisasi kebangsaan yang tangguh. Tugas-tugas yang dijalankan oleh laki-laki sekarang dapat dibagi kepada perempuan. Perempuan semakin banyak yang menduduki jabatan penting dalam pemerintahan, perusahaan, dan industri-industri lainnya. Perubahan tidak berhenti sampai di situ saja. Memasuki akhir abad XX dan awal abad XXI muncul lagi istilah “kesetaraan gender”, diadopsi dari istilah ”gender equality”. Walah, ki opo maneh ya…kok tambah akeh parikan yo jaman saiki? Saya baca-baca lagi, belajar lagi, cari tahu ke sana ke mari dan akhirnya dari banyak definisi konsep tentang “kesetaraan gender” ini saya simpulkan bahwa perempuan menuntut dan memperjuangkan kesamaan menurut jenis kelamin. Antara laki-laki dan perempuan harus setara tidak boleh dibeda-bedakan. Hebat sekali perjuangan counterpart kita ini. Salut banget atas perjuangan yang tidak kenal menyerah. Perempuan jaman sekarang memiliki semangat yang luar biasa untuk maju. Sekarang lepaskan paradigma kita dari aturan-aturan keagamaan. Contohnya, dalam agama Islam laki-laki itu kan di-dhapuk menjadi imam. Imam dalam Islam itu harus laki-laki. Kalau kita mempertimbangkan sisi keagamaan ini jelas kita tidak akan mencapai kesetaraan gender. Maka dari itu kita diskusikan masalah ini dari segi kehidupan bersama di bumi saja ya? Harus itu masalahnya nanti diskusi akan berhenti sampai hak dan kewajiban antara kedua jenis kelamin ini. Saya mengamati kesetaraan gender ini masih buram bentuknya, belum jelas arah dan tujuannya. Sebenarnya apa yang dijadikan sasaran tembak keseteraan gender itu? Apakah perempuan harus memiliki status sejajar dengan laki-laki seutuhnya atau perempuan berada seiring dan sejalan dengan laki-laki dengan hak dan tanggung jawab masing-masing? “Gender equality” itu rencana besar dalam sejarah umat manusia. Kesetaraan menurut saya bukan berarti perempuan menyamai laki-laki dalam berbagai hal. Hemat saya “gender equality” itu ditafsirkan dan dimanifestasikan di dalam sikap berjalan bersama-sama tanpa adanya overlapping. Antara perempuan dan laki-laki (ini kalau mengaku normal secara seksual sih, mbuh sing ‘homoseksual’ utawa ‘lesbian’ lain soal) saling mengisi. Sehingga tercipta harmoni antara sense dan sensibility (hah, koyo judul pilem holiwud wae ya?), bukannya ngeyel-mengeyel ethok-ethok ora butuh…mengko kuwalat lha rasakno dhewe. Sebenarnya kalau dilogika posisi perempuan itu terhormat sekali lho. Bayangkan saja (eh, ugo rasakno ding): laki-laki yang menjadi kepala keluarga, tetap saja harus memberikan nafkah bagi isteri dan anak-anaknya. Padahal yang namanya “kepala” ki kan biasane printah-printah, lha wong atasan koq; nanging kenopo koq gelem panas-panasan, jungkir-balik golek pawetu kanggo kulawargo? Nah, sementara sang isteri setia di rumah mengurusi ‘persoalan dalam negeri’ seperti mengurus rumah, merawat anak, mempersiapkan segala kebutuhan di wilayah domestik. Kalau harmoni ini berlangsung betapa indahnya hidup bersama. Tapi ini sekedar pandangan. Pasti banyak yang protes dengan pendapat saya yang menurut saya sendiri terkesan feudal, kuno, konservatif. Yang jelas setiap gender itu punya tugas sendiri-sendiri yang harus dijalankan. Dari situ lahirlah kesetaraan; kesetaraan bukan kemampuan untuk melakukan hal yang sama, yang laki-laki menjadi direktur perusahaan, kemudian yang perempuan tidak mau kalah. Bukan itu, tetapi kesetaraan dalam arti menjalankan peran masing-masing dengan optimal. Dalam sebuah tim sepakbola yang bermain di lapangan, sebelas pemain starting lineups memiliki tugas masing-masing seperti penyerang, gelandang, sayap, bek, kiper. Semua berperan dan berjasa.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.