Pages

22 December 2008

Fatwa Haram Bagi Rokok

Semakin aneh saja orang-orang yang sering disebut "tokoh bangsa". Dalam satu dekade ini rasanya lebih banyak menakut-nakuti ketimbang "ngayemi kawulo" yang berada di bawah. Permainan apa lagi yang hendak diperkenalkan kepada arena kehidupan berbangsa dan bernegara? Nusantara memang kaya akan banyak hal, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Kekayaan ini tentunya membuat warna negeri kita beragam sekali. Keragaman budaya dan adat istiadat menular pula pada keragaman sikap. Memang indah sekali negeri Indonesia. Banyak ide "kreatif" yang muncul; lebih tepat lagi Nusantara, yang disebut sebagai "zamrud khatulistiwa". Kita patut berbangga akan keelokan ini. Ada negara lain yang dilintasi garis ekuator, tetapi zamrud itu bersemayam pada diri kita.

Tapi... banyak ide kok malah membuat orang bingung, ya? Lucu kalau mendengar sinyalemen bahwa rokok diagendakan sebagai barang haram. Kebiasaan merokok memang membawa banyak kerugian: penyakit jantung, kanker, gangguan janin, gangguan reproduksi, batuk, pencemaran, mengganggu pergaulan, dan sejenisnya. Merokok juga membuang waktu.

Tetapi dari sekian deret kerugian akibat merokok ini aktivitas merokok telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Bahkan di luar anjuran kesehatan agar perempuan tidak merokok, legenda Roro Mendut terkenal dengan rokoknya (mohon dikoreksi apabila rujukan ini keliru). Merokok rasanya begitu pas dengan situasi alam Nusantara. Jika memang tanah tempat tinggal kita tidak memungkinan untuk tumbuhnya tanaman tembakau, pasti tidak ada orang yang merokok. Iya, kan? Terus, apa gunanya diciptakan tanaman tembakau itu? Bukankah kita harus bersyukur bahwa di negeri kita ini batu saja dapat ditumbuhi rumput?

Coba mohon dijelaskan alasan apa yang paling mendasar tentang larangan merokok itu. Semakin hari semakun sulit saja hidup bebas di Indonesia. BBM langka, sembako kadang-kadang sulit, penghidupan yang layak tak kunjung menghampiri, sekarang muncul ide "pengharaman" rokok. Merokok bagi sebagian orang menjadi hiburan di kala senggang. Perlu diketahui bahwa mencari hiburan yang murah meriah saat ini lebih sulit. Mau contoh? Para pecinta sepakbola Liga Primer Inggris, dulu sangat menikmati keasyikan akhir pekan dengan menonton siaran langsung EPL. Lha sekarang, akibat dimonopoli oleh satu pihak, jadi kesulitan. Hanya orang-orang berduit saja yang dapat memasang jaringan TV kabel yang menyiarkan EPL. Praktis hiburan semakin berkurang. Bagi sebagian orang lainnya merokok adalah kegiatan "antara" atau "pengantar" di sela-sela kesibukan. Kata orang merokok dapat menghilangkan penat, stress, ketegangan, menumbuhkan percaya diri. Merokok bukan semata "unjuk kejantanan" seperti kampanye yang dilakukan oleh mahasiswa di ibukota Jakarta beberapa waktu yang lalu. Orang merokok bukan untuk memamerkan kejantanan. Sangat picik sekali pemikiran seperti itu.

Karena masalah yang bangsa kita hadapi jauh lebih besar daripada mengurusi perokok, lebih baik tidak usah ada acara "haram-haraman" merokok. Buat apa kalau ide seperti itu justru mempersulit orang-orang. Mengurusi masalah lain saja masih semrawut kok mengurusi orang merokok. Kita curahkan saja daya dan usaha untuk mengembalikan kesejahteraan sosial rakyat yang dalam satu dasawarsa ini melayang-layang tanpa tujuan. Setelah pornografi, sekarang gantian rokok "disikat". Kok sepertinya mengada-ada, sih? Sudah mendingan menghisap tembakau, bukan ganja atau marijuana.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.