Pages

23 December 2008

Konversi Energi, Perlukah?

Konversi energi untuk kebutuhan rumah tangga mengandung maksud untuk menekan kebutuhan bahan bakar minyak yang semakin tak terkendali. Pemanfaatan besar-besaran BBM ini bahkan sampai melahirkan istilah "kelangkaan minyak". Benarkah minyak bumi Indonesia telah langka? Hingga pemerintah perlu menaikkan harga untuk konsumsinya sehari-hari? Sebenarnya cadangan minyak mentah yang terkandung di bumi masihlah banyak menurut saya. Akan tetapi, sebagian persediannya justru dinikmati oleh orang lain hingga kebutuhan rakyat sendiri menjadi terabaikan. Pemanfaatan ini belum tentu secara langsung, melainkan melalui kerjasama industri minyak dengan perusahaan asing. Keikutsertaan Indonesia di dalam organisasi negara penghasil minyak (OPEC) menurut saya juga menyumbang sebagian masalah. "Konsorsium" ini menentukan harga minyak dunia. Indonesia sendiri seolah-olah hanya menjadi "penggembira" diantara negara kuat yang lebih berkuasa dalam menentukan kebijakan harga dan sejenisnya. Keadaan sulit sekarang inilah yang mungkin tidak dirumuskan atau diperkirakan sewaktu Indonesia memutuskan untuk bergabung dengan OPEC. Akhirnya muncul ide untuk membuat alternatif bahan bakar dengan menggunakan gas, LNG maupun LPG. Ternyata, masalah menjadi semakin sulit karena pada kenyataannya harga gas lebih mahal. LPG memiliki kelemahan karena harus dibeli dalam ukuran per tabung, tidak dapat diecer sebagaimana minyak tanah petrolium. Masalah lain, tabung gas didapatkan secara mengimpor. Apa hal ini tidak mempersulit konsumen? Tentu saja harga gas bukanlah harga sebenarnya karena harus diseimbangkan dengan biaya produksi, termasuk biaya pembelian tabung impor. Belum lagi biaya keuntungan untuk produsen gas itu sendiri. Kondisi perekonomian Indonesia memang "semrawut". Banyak kebijakan yang mengada-ada. Untuk apa konversi energi jika sebenarnya konsumsi energi yang saat ini berlangsung dapat dikurangi tanpa harus membuat bahan bakar dalam bentuk lain. Terjadi konsumsi yang berlebihan pada sektor transportasi hingga merugikan sektor rumah tangga. Namun demikian, tentu saja tidak ada satu pun pihak yang mau dipersalahkan. Setiap pihak pasti memberikan alasan yang membawa kesan empatik hingga orang merasa prihatin dan terenyuh terhadp kesulitan mereka mendapatkan bahan bakar minyak. Permasalahan BBM senantiasa menjadi berita utama sepanjang masa. Alur ceritanya pun tidak berubah dari pendahuluan hingga penutupan. Setiap pihak ingin menang sendiri dengan alasan yang sedemikian rupa sehingga terasa masuk akal. Padahal pemecahannya sebenarnya masuk akal, yakni kesadaran warga untuk mendahulukan kepentingan bersama. Selama ini pemborosan bahan bakar minyak terjadi pada bidang transportasi. Hendaknya warga yang merasa lebih mampu mau mengerti akan keadaan warga yang kurang mampu, dengan salah satunya menekan diri untuk tidak menggunakan bahan bakar secara berlebihan.

22 December 2008

Fatwa Haram Bagi Rokok

Semakin aneh saja orang-orang yang sering disebut "tokoh bangsa". Dalam satu dekade ini rasanya lebih banyak menakut-nakuti ketimbang "ngayemi kawulo" yang berada di bawah. Permainan apa lagi yang hendak diperkenalkan kepada arena kehidupan berbangsa dan bernegara? Nusantara memang kaya akan banyak hal, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Kekayaan ini tentunya membuat warna negeri kita beragam sekali. Keragaman budaya dan adat istiadat menular pula pada keragaman sikap. Memang indah sekali negeri Indonesia. Banyak ide "kreatif" yang muncul; lebih tepat lagi Nusantara, yang disebut sebagai "zamrud khatulistiwa". Kita patut berbangga akan keelokan ini. Ada negara lain yang dilintasi garis ekuator, tetapi zamrud itu bersemayam pada diri kita.

Tapi... banyak ide kok malah membuat orang bingung, ya? Lucu kalau mendengar sinyalemen bahwa rokok diagendakan sebagai barang haram. Kebiasaan merokok memang membawa banyak kerugian: penyakit jantung, kanker, gangguan janin, gangguan reproduksi, batuk, pencemaran, mengganggu pergaulan, dan sejenisnya. Merokok juga membuang waktu.

Tetapi dari sekian deret kerugian akibat merokok ini aktivitas merokok telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Bahkan di luar anjuran kesehatan agar perempuan tidak merokok, legenda Roro Mendut terkenal dengan rokoknya (mohon dikoreksi apabila rujukan ini keliru). Merokok rasanya begitu pas dengan situasi alam Nusantara. Jika memang tanah tempat tinggal kita tidak memungkinan untuk tumbuhnya tanaman tembakau, pasti tidak ada orang yang merokok. Iya, kan? Terus, apa gunanya diciptakan tanaman tembakau itu? Bukankah kita harus bersyukur bahwa di negeri kita ini batu saja dapat ditumbuhi rumput?

Coba mohon dijelaskan alasan apa yang paling mendasar tentang larangan merokok itu. Semakin hari semakun sulit saja hidup bebas di Indonesia. BBM langka, sembako kadang-kadang sulit, penghidupan yang layak tak kunjung menghampiri, sekarang muncul ide "pengharaman" rokok. Merokok bagi sebagian orang menjadi hiburan di kala senggang. Perlu diketahui bahwa mencari hiburan yang murah meriah saat ini lebih sulit. Mau contoh? Para pecinta sepakbola Liga Primer Inggris, dulu sangat menikmati keasyikan akhir pekan dengan menonton siaran langsung EPL. Lha sekarang, akibat dimonopoli oleh satu pihak, jadi kesulitan. Hanya orang-orang berduit saja yang dapat memasang jaringan TV kabel yang menyiarkan EPL. Praktis hiburan semakin berkurang. Bagi sebagian orang lainnya merokok adalah kegiatan "antara" atau "pengantar" di sela-sela kesibukan. Kata orang merokok dapat menghilangkan penat, stress, ketegangan, menumbuhkan percaya diri. Merokok bukan semata "unjuk kejantanan" seperti kampanye yang dilakukan oleh mahasiswa di ibukota Jakarta beberapa waktu yang lalu. Orang merokok bukan untuk memamerkan kejantanan. Sangat picik sekali pemikiran seperti itu.

Karena masalah yang bangsa kita hadapi jauh lebih besar daripada mengurusi perokok, lebih baik tidak usah ada acara "haram-haraman" merokok. Buat apa kalau ide seperti itu justru mempersulit orang-orang. Mengurusi masalah lain saja masih semrawut kok mengurusi orang merokok. Kita curahkan saja daya dan usaha untuk mengembalikan kesejahteraan sosial rakyat yang dalam satu dasawarsa ini melayang-layang tanpa tujuan. Setelah pornografi, sekarang gantian rokok "disikat". Kok sepertinya mengada-ada, sih? Sudah mendingan menghisap tembakau, bukan ganja atau marijuana.

19 December 2008

Kurangi Sampah Plastik Bungkus Nasi

Sebagai warga kos dan kontrakan di lingkungan kampus, membeli nasi dibungkus dan dibawa pulang bukanlah hal yang langka. Setiap hari kegiatan itu berlangsung, antara dua dan tiga kali frekuensinya. Dengan berbagai alasan, warga kos ada yang lebih suka membungkus nasi dengan kantong plastik (istilahnya "tas kresek") dibandingkan dimakan (istilahnya "ngirasi") langsung di warung makan. Pokoknya banyak alasannya dan alasan-alasan itu memang masuk akal sih.
Contoh kasus di kawasan kos Jalan Pleburan Barat Semarang Jawa Tengah, lokasi berdirinya Universitas Diponegoro Semarang. Anggaplah terdapat 40 rumah kos yang menghadap jalan (seberang Barat dan Timur jalan). Setiap rumah dihuni 10 orang anak kos. Misalkan dari kesepuluh orang tadi terdapat 6 orang yang lebih suka membungkus nasi, berarti total terdapat 240 orang yang membawa kantong plastik pulang ke kos dalam satu kesempatan membeli nasi. Sebagai seorang warga kos, biasanya makan besar cukup dua kali saja. Dengan demikian jumlah kantong plastik dalam sehari adalah 480 buah. Dalam sepekan jumlahnya akan mencapai 3.360 buah. Seterusnya dalam sebulan -- dengan waktu efektif menghuni kos 20 hari, dipotong mudik dan kegiatan di luar lokasi kos -- jumlahnya akan menjadi 67.200 buah. Terakhir, hitungan dalam satu tahun dengan waktu efektif kuliah 8 bulan akan mencapai 537.600 buah kantong plastik bekas bungkus nasi.
Maksudnya apa angka-angka di atas? Angka-angka tersebut adalah hitungan kasar jumlah kantong plastik yang dikonsumsi warga kos untuk membungkus nasi. Lalu masalahnya? Masalahnya kantong plastik adalah sumber pencemaran lingkungan. Kata para ahli, bahan plastik sulit untuk dicerna dalam tanah dan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menghancurkannya. Jadi masalahnya ialah Pencemaran.
Keberadaan bahan yang terbuat dari plastik sangat mendominasi. Apa mungkin kita hidup sekarang ini tanpa plastik? Kalau tanpa plastik mungkin akan sulit. Maka dari itu ikhtiar kita hanya membatasinya. Caranya yaitu dengan mengurangi jumlah kantong plastik yang digunakan. Salah satunya untuk membungkus nasi itu. Kantong plastik biasanya dibuang setelah selesai untuk membungkus. Plastik yang berserakan di tanah menghambat aliran air pada got, merusak pandangan mata, menjadi sarang tikus, dan sejenisnya. Hemat saya, karena jumlah plastik semakin banyak dari waktu ke waktu maka pada suatu masa akan muncul "gunung plastik". Jika plastik telah menggunung berarti daerah kos akan menjadi tempat penimbunan sampah. Ah, banyangan ini mungkin terlalu jauh ya...???
Warga kos pasti punya peralatan makan seperti piring, tempat nasi, rantang, tempat sayur, sendok, garpu dan sebagainya. Jika tidak punya dapat meminjam bapak/ibu kos atau warung sendiri. Dengan peralatan itu peran plastik dapat diganti. Bahkan peralatan-peralatan itu dapat dipakai ulang; tinggal dicuci bersih. Yee... pasti malu ya pergi ke warung makan sambil membawa rantang? Pasti deh, hehe. Ada alasan tidak praktis, ribet, repot, keki, gengsi, dan sejenisnya. Akibatnya lingkungan yang menjadi korban. Padahal lingkungan adalah tempat tinggal kita. Lingkungan telah bersikap baik sekali memberi ruang bagi kita untuk hidup, bergerak, berkarya, bernafas, bergaul, belajar, bekerja. Apa tidak ada ras, pun itu sedikit saja, memberi balas jasa kepada lingkungan? Apa gunanya menyerukan "stop global warming" kalau semboyan itu tak lebih dari sekadar "gombal warning"? Lho, opo gunane mikir jauh-jauh tentang lubang o-zone di atas sana, kalau got-got saluran air di sebelah rumah kita justru mampet oleh sampah plastik. Lubang o-zone itu kan menurut foto satelit yang senyatanya kita tidak tahu bagaimana. Lha, lubang got lebih nyata kita saksikan. Itu lho, banyak yang mampet gara-gara plastik. Ayoo, kita bersihkan dulu. Lakukanlah hal yang sederhana dulu. Jika plastik dapat dikurangi maka mutu tanah pun akan terjaga. Jika tanah tetap sehat maka akan baik bagi pertumbuhan tanaman. Jika lingkungan menjadi hijau oleh tanaman, maka kita dapat memulai langkah menuju pencegahan "pemanasan global".
Ora usah sok-sokan nggaya peduli lingkungan yen masalah-masalah sepele koyo plastik wae ora biso ditanggulangi.

Rindu Lagu Perjuangan

Menyimak lagu-lagu karya Gombloh (Almarhum) semangat kebangsaan muncul kembali. "Berita Cuaca", "Merah Putih", dan "Kebyar Kebyar", tiga lagu ini begitu merasuk ke hati sanubari. Hati sering bergetar dan bulu kuduk sering berdiri jika mendengarnya. Gombloh memang seniman besar yang pernah kita kenal. Karya-karyanya menunjukkan kecintaan terhadap negeri. Kapan lagi kita pejuang seperti Gombloh itu? Kangen rasanya dengan masa-masa bergelora seperti dulu. Masih ingat ketika RI merayakan ulang tahun proklamasi kemerdekaan ke-50 beberapa penyanyi membuat rekaman bersama, menyanyikan lagu "Merah Putih". Wah, hati ini masih bergetar jika ada kesempatan untuk mendengarnya.
Lagu-lagu yang beredar sekarang kok gitu ya? Minim visi dan misi. Maunya sih lagu yang mendorong semangat "percaya diri" sebagai orang Indonesia. Di samping balutan syair yang indah, musik yang bermutu pula. Harapannya tema yang dibawakan mewakili keberadaan bangsa Indonesia. Dulu sewaktu zaman perjuangan pra-kemerdekaan tercipta ratusan, bahkan mungkin ribuan lagu perjuangan. Tujuannya yaitu untuk menyemangati rakyat untuk dapat memerdekakan diri. Lagu-lagu "masterpiece" itu sukses memberi ruh kepada perjuangan bangsa. Nah, sekarang kita boleh dibilang sedang berjuang lagi, memerdekakan diri dari tekanan pihak luar bukan dalam bentuk invasi fisik, melainkan dalam bentuk invasi ekonomi, akhlak, sosial, dan budaya. Maka dari itu ada baiknya para musisi memberikan sumbangsih sesuai profesi mereka dengan menciptakan lagu-lagu bernuansa kebangsaan dan kecintaan terhadap tanah air.

14 December 2008

Harga BBM Turun?

Saya menyaksikan dan mendengar berita tentang sinyalemen akan turunnya harga bahan bakar pada sebuah stasiun televisi, siang ini (29/10). Sayup-sayup saya dengar, tapi kemudian ditegaskan oleh beberapa pemirsa lain, bahwa harga BBM menunggu kemurahan hati Presiden (sebagai rasa hormat saya kepada kepala negara Republik Indonesia, saya enggan menyebut “SBY”, itu tidak sopan). Kemurahan hati? Sekarang Presiden itu berurusan dengan berapa orang, berapa kelompok masyarakat, berapa segmen warga negara? Seorang pemimpin negara yang naik ke tampuk kekuasaan pastinya ada yang mendukungnya. Secara otomatis pemimpin tersebut pasti akan merasa berhutang budi kepada pendukungnya tersebut. Nah, tentu saja jika ditimbang-timbang pasti ia akan lebih membela para pendukungnya tersebut. Dengan kata lain, ia akan lebih bermurah hati kepada para pendukungnya. Halah, ngaku saja, bung….memang gitu kan hukum alam yang berlaku? Sangat jarang pemimpin negara yang juga pemimpin bangsa. Maksudnya, kalau bangsa menurut saya lebih umum cakupannya dibandingkan negara. Lha kalau Presiden bermurah hati pada satu pihak, nanti pihak lain berkeberatan. Fatalnya, yang berharap kemurahan hati itu adalah mereka yang hanya mampu mendukung dengan suara, bukan…ehhmm…dengan bantuan riil berupa fasilitas finansial, transportasi, informasi, dokumentasi dan sebagainya, lan sak piturute, lan sak panunggalane… Sampai sebegitunya ungkapan yang digunakan oleh media kita dalam menyikapi kebijakan pemerintah yang terus saja menaikkan harga BBM. Sebegitu hopeless sehingga kita bersikap sebagai seorang “pengemis” yang meminta belas kasihan. Ah, saya jadi merasa sedih, terenyuh, bercampur mangkel. Ternyata kondisi bangsa telah sedemikian parahnya. Presiden sendiri pastinya tidak akan bisa berbuat apa-apa jika dikepung oleh masalah yang banyak sekali. Presiden pastinya telah berbuat semaksimal mungkin untuk bangsanya. Yah, semaksimal mungkin. Lha tapi kepentingan-kepentingan hidden agenda itu lho yang menghalangi kebijaksanaan (bukan kebijakan lho). Maksudnya wisdom, bukan policy. Kita harus maklum. Presiden juga sedang ruwet mikirke kepiye apikke. Percoyo lah. Presiden tidak seburuk itu. Meskipun saya tidak ikut memilihnya pada Pilpres lalu, tapi saya menyadari beratnya tanggung jawab seorang kepala negara memimpin sebuah negara yang sedang mengalami krisis multidimensi. Krisis yang diakibatkan oleh kepentingan segelintir oknum tak bertanggung jawab dengan tameng mahasiswa (aduh…aku dadi eling sepuluh tahun kepungkur; kok yo ono wae sengkuni-sengkuni sing manfaatake demonstrasi mahasiswa rikala iku?). Sudahlah jangan menangis anak negeri. Mereka yang kita percaya telah tidak mampu menjadi penyambung lidah kita. Bagaimanapun ini adalah sandiwara para pentolan politik yang memburu kepentingan sendiri. Tidak ada gunanya kita berkobar semangat mendukung pihak tertentu karena akhirnya ya seperti ini. Arep mbok gembar-gembor liwat tivi, radio, spanduk, internet, baliho, lha wong nyatane yen wis beres awake dhewe yo ditinggal glanggang koq. Inilah kecermatan yang harus kita miliki. Jangan terpengaruh oleh “sensasi” sesaat yang mengatasnamakan perubahan. Perubahan memang terjadi, tapi yang susah kalau perubahan itu membuat kita menjadi lebih dhedhel-dhuwel ya bagaimana? Kita harus mantap dengan prinsip sendiri sebagai bagian dari bangsa yang besar: Nusantara. Berabad-abad yang lalu nenek moyang kita berhasil membangun sebuah mahakarya monumental bernama Candi Borobudur. Itu adalah bukti kebesaran Nusantara. Kita sebenarnya mampu membuat sesuatu yang “luar biasa”, yang “extraordinary”, yang “larger than life”. Kita harus percaya bahwa bangsa kita ini hebat. Orang-orang kita ini cerdas, kuat, brilian, tekun, rajin. Percaya rak wis, ya…hmm? Mosok aku kudu ning Los Angeles, London, Milan nggo ngrekomendasi David Beckham nggo kondho yen Borobudur iku masterpiece kelas dunia? J Oops! Itu selingan saja. Biasa, kalau tidak ada iklan siaran langsung tidak akan jalan kan? Kembali ke masalah kemurahan hati Presiden. Hmm, tampaknya kita masih percaya Presiden dapat memberi suluh penyembuh luka rakyat. Itulah kebesaran bangsa kita. Mereka yang tidak memilih maupun yang memilih sewaktu Pilpres dulu mengakui bahwa Susilo Bambang Yudoyono adalah Presiden Republik Indonesia. Kebijakan-kebijakannya yang membela rakyat selalu dinanti dan diharapkan. Harga kebutuhan pokok itu sulit untuk turun. Kalau harga komputer, handphone, motor mungkin bisa. Nah, ini yang aneh di masyarakat kita. Mengapa harga barang-barang sekunder, bahkan tersier cenderung turun dari waktu ke waktu. Semakin hari semakin mudah saya orang membeli motor. Ironisnya, semakin hari semakin sulit membeli bahan bakar untuk menjalankan motor itu….Hahahaha! Sarkawut tenan! Wes, wes…ojo nglokro poro kadang. Luwih becik kito realistis wae. Utamakan kebutuhan pokok, baru mikir kebutuhan pendukung. Biyen eyang buyut, simbah, bapak ibu kito podho mlampah, tindak ngagem suku yo mboten menopo-menopo koq. Padahal gizi beliau para leluhur “cap gaplek”, bukan “cap promina’ yang mengandung AA dan DHA, hmm? Mboten gadhah handphone canggih nggih saged sami kenalan, sami bebrayan kadosna mimi lan mintuna. Ingkang baku hanggula wenthah nyekapi kabetahan sabandintenipun. Sumonggo samya kundur ing identitas bangsa kang andhap asor, sederhana, namung sugih mbrahewu ing welas asih dhumateng sesami. Okey kawan? Ah, saatnya ke kucingan Al-Barokah ni, mau ikut?

Gender Equality kuwi opo to...?

Kesetaraan gender terus dikampanyekan untuk memperjuangkan persamaan hak dan derajat antara laki-laki dan perempuan. Dalam berbagai aktivitas dan bidang kehidupan kaum perempuan giat menggalakkan perjuangan untuk berdiri setara duduk sejajar dengan laki-laki. Mohon tinggalkan sejenak pendapat-pendapat dari para “pakar per-genderan” yang memiliki teori-teori hebat tentang kesetaraan gender. Kita ulas dengan logika sejauh kemampuan berpikir kita saja. Saya pribadi telah mengetahui istilah “perempuan karir” sejak kelas 5 sekolah dasar. Pada waktu itu terheran-heran, apa yang dimaksud “perempuan karir” itu. Sepengetahuan saya istilah “karir” saya temukan dalam dunia olahraga. Masih ingat ketika itu pesepakbola kondang Inggris, Peter Shilton, mengakhiri “karir” sebagai pemain tim nasional setelah Piala Dunia Meksiko 1986. Lha terus “perempuan karir” ki opo maksude? Lambat laun setelah saya banyak membaca berita di koran, menbaca kamus bahasa Indonesia, saya jadi tahu bahwa yang dimaksud “perempuan karir” itu ternyata, ini menurut pendapat saya saja, seorang perempuan yang bekerja di luar rumah, di luar tugas-tugas rumah tangga sebagai ibu, isteri, dan pengurus rumah tangga. O, begitu ya maksudnya. Semakin ke sini, semakin gencar istilah ini disebutkan di media massa, baik koran, majalah, radio, maupun televisi. Ternyata perempuan kini telah mengubah diri untuk tidak hanya berdiam di rumah saja, dipingit oleh orang tua, atau menjadi konco wingking bagi suami. Bagus, perkembangan yang bagus menurut saya. Artinya perempuan ikut berpartisipasi dalam pembangunan manusia, khususnya bangsa kita sendiri. Jika perempuan ikut serta dalam pembangunan maka bangsa kita pasti semakin berhasil di dalam membentuk sebuah organisasi kebangsaan yang tangguh. Tugas-tugas yang dijalankan oleh laki-laki sekarang dapat dibagi kepada perempuan. Perempuan semakin banyak yang menduduki jabatan penting dalam pemerintahan, perusahaan, dan industri-industri lainnya. Perubahan tidak berhenti sampai di situ saja. Memasuki akhir abad XX dan awal abad XXI muncul lagi istilah “kesetaraan gender”, diadopsi dari istilah ”gender equality”. Walah, ki opo maneh ya…kok tambah akeh parikan yo jaman saiki? Saya baca-baca lagi, belajar lagi, cari tahu ke sana ke mari dan akhirnya dari banyak definisi konsep tentang “kesetaraan gender” ini saya simpulkan bahwa perempuan menuntut dan memperjuangkan kesamaan menurut jenis kelamin. Antara laki-laki dan perempuan harus setara tidak boleh dibeda-bedakan. Hebat sekali perjuangan counterpart kita ini. Salut banget atas perjuangan yang tidak kenal menyerah. Perempuan jaman sekarang memiliki semangat yang luar biasa untuk maju. Sekarang lepaskan paradigma kita dari aturan-aturan keagamaan. Contohnya, dalam agama Islam laki-laki itu kan di-dhapuk menjadi imam. Imam dalam Islam itu harus laki-laki. Kalau kita mempertimbangkan sisi keagamaan ini jelas kita tidak akan mencapai kesetaraan gender. Maka dari itu kita diskusikan masalah ini dari segi kehidupan bersama di bumi saja ya? Harus itu masalahnya nanti diskusi akan berhenti sampai hak dan kewajiban antara kedua jenis kelamin ini. Saya mengamati kesetaraan gender ini masih buram bentuknya, belum jelas arah dan tujuannya. Sebenarnya apa yang dijadikan sasaran tembak keseteraan gender itu? Apakah perempuan harus memiliki status sejajar dengan laki-laki seutuhnya atau perempuan berada seiring dan sejalan dengan laki-laki dengan hak dan tanggung jawab masing-masing? “Gender equality” itu rencana besar dalam sejarah umat manusia. Kesetaraan menurut saya bukan berarti perempuan menyamai laki-laki dalam berbagai hal. Hemat saya “gender equality” itu ditafsirkan dan dimanifestasikan di dalam sikap berjalan bersama-sama tanpa adanya overlapping. Antara perempuan dan laki-laki (ini kalau mengaku normal secara seksual sih, mbuh sing ‘homoseksual’ utawa ‘lesbian’ lain soal) saling mengisi. Sehingga tercipta harmoni antara sense dan sensibility (hah, koyo judul pilem holiwud wae ya?), bukannya ngeyel-mengeyel ethok-ethok ora butuh…mengko kuwalat lha rasakno dhewe. Sebenarnya kalau dilogika posisi perempuan itu terhormat sekali lho. Bayangkan saja (eh, ugo rasakno ding): laki-laki yang menjadi kepala keluarga, tetap saja harus memberikan nafkah bagi isteri dan anak-anaknya. Padahal yang namanya “kepala” ki kan biasane printah-printah, lha wong atasan koq; nanging kenopo koq gelem panas-panasan, jungkir-balik golek pawetu kanggo kulawargo? Nah, sementara sang isteri setia di rumah mengurusi ‘persoalan dalam negeri’ seperti mengurus rumah, merawat anak, mempersiapkan segala kebutuhan di wilayah domestik. Kalau harmoni ini berlangsung betapa indahnya hidup bersama. Tapi ini sekedar pandangan. Pasti banyak yang protes dengan pendapat saya yang menurut saya sendiri terkesan feudal, kuno, konservatif. Yang jelas setiap gender itu punya tugas sendiri-sendiri yang harus dijalankan. Dari situ lahirlah kesetaraan; kesetaraan bukan kemampuan untuk melakukan hal yang sama, yang laki-laki menjadi direktur perusahaan, kemudian yang perempuan tidak mau kalah. Bukan itu, tetapi kesetaraan dalam arti menjalankan peran masing-masing dengan optimal. Dalam sebuah tim sepakbola yang bermain di lapangan, sebelas pemain starting lineups memiliki tugas masing-masing seperti penyerang, gelandang, sayap, bek, kiper. Semua berperan dan berjasa.

Perjanjian Bermaterai untuk Bimbingan Skripsi

Menanggapi keluhan yang sering diungkapkan oleh beberapa mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi atau tugas akhir mereka, saya menemukan satu simpul yang bermuara pada persoalan yang sama: para mahasiswa tersebut merasa resah karena urusan mereka yang berhubungan dengan skripsi tidak kunjung selesai. Tertundanya penyelesaian masalah ini disebabkan oleh sikap dosen pembimbing yang sering membebani pikiran mereka. Dalam posisi yang boleh dikatakan “bergantung”, seorang mahasiswa seakan tidak dapat berbuat apa-apa terhadap keputusan dosen yang sulit ditemui, enggan untuk ditemui untuk berkonsultasi karena ada urusan lain, dan sebagainya. Terlihat bahwa sikap ini menjurus ke sifat “otoriter” karena mahasiswa sedang membutuhkan dosen.

Terkadang saya mendengar keluh-kesah mahasiswa yang merasa tidak dihargai meskipun telah berusaha keras untuk memenuhi keinginan dosen. Pernah saya mendengar kejadian bahwa seorang dosen dengan santainya membatalkan janji yang telah ia buat dengan mahasiswa bimbingannya karena ada urusan yang katanya “lebih penting”. Sikap ini jelas merugikan waktu, tenaga, bahkan biaya mahasiswa. Seorang dosen pembimbing hendaknya menyadari kedudukannya sebagai seorang “supervisor”. Membimbing berarti mengarahkan, memberikan masukan, menuntun dengan “kasih sayang” agar mahasiswa yang dibimbingnya mendapatkan kemudahan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Status sebagai dosen pembimbing malah seperti dimanfaatkan untuk “menindas” mahasiswa bimbingannya. Sikap merugikan ini juga pernah saya alami ketika masa kuliah dulu. Meskipun jenis kasusnya berbeda, yakni “draft” tugas akhir saya hilang di tangan dosen pembimbing, namun jelas bahwa hilangnya dokumen yang bagi saya sangat penting ini menunjukkan kelalaian tanggung jawab dosen pembimbing terhadap mahasiswa bimbingannya. Akhirnya saya ketik lagi draft tugas akhir tersebut. Padahal waktu itu saya belum tahu apa-apa tentang komputer. Tentu saja memakan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Kedudukan mahasiswa memang sangat lemah di mata dosen.

Keputusan untuk “cari aman” dan menuruti petunjuk dosen meskipun petunjuk itu dapat saja keliru (dosen juga manusia biasa yang tidak selamanya benar) membuat pihak mahasiswa tertekan. Apa daya, karena tampaknya begitulah “aturan main” dunia perkuliahan zaman sekarang (khususnya yang sering saya amati di lingkungan saya sekarang). Periode penyusunan skripsi, tugas akhir, atau thesis, adalah periode krusial yang penuh warna. Seorang mahasiswa dapat saja menjadi “orang lain” dari seperti biasanya karena tekanan yang membebaninya sangatlah berat. Maksud hati ingin segera menyelesaikan studi, dengan maksud untuk secepatnya lulus dan tidak lagi membebani orang tua, namun malah merugi. Rugi waktu, tenaga, kesempatan, biaya, dan momentum hidup. Kerugian ini mungkin tidak dirasakan oleh dosen pembimbing. Apakah ini tidak disadari oleh para dosen tersebut? Tentunya, sebagai seorang yang status intelektualnya lebih tinggi, mereka pasti mengerti. Apakah sikap “arogan” terhadap mahasiswa bimbingan ini merupakan wujud dari “politik balas dendam” karena pada masa mereka menjadi mahasiswa juga “dibantai” oleh dosen mereka? Hanya para dosen tersebut yang mengetahui.

Uraian yang saya kemukakan di atas tentu saja tidak mencakup semua konflik yang terjadi antara dosen pembimbing dan mahasiswa bimbingan. Mungkin masih banyak lagi kasus lain yang bahkan lebih menyedihkan bagi mahasiswa. Akan tetapi, dari kejadian-kejadian yang saya dengarkan, perhatikan, dan amati, tampaknya telah tiba waktunya untuk diadakannya “Surat Perjanjian dengan Materai” antara dosen pembimbing dan mahasiswa bimbingan. Jika dosen sering mengungkapkan istilah “profesionalisme” maka kinilah saatnya untuk mewujudkan kampanye tersebut. Dosen pembimbing memiliki tanggung jawab moral yang sangat besar untuk membimbing mahasiswanya hingga ia selesai skripsi. Kewajiban bukan “melulu” berada di tangan mahasiswa, namun kewajiban lebih besar berada di tangan dosen. Limpahan wewenang sebagai pembimbing ini tidak boleh dijadikan permainan. Tanggung jawab sebagai dosen pembimbing adalah salah satu bentuk “amanat” dari orang tua mahasiswa secara tidak langsung.

Adapun isi dari perjanjian dosen pembimbing-mahasiswa bimbingan tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. - Kesanggupan dosen untuk membimbing mahasiswanya hingga selesai tanpa diganggu oleh urusan-urusan yang sekiranya tidak ada hubungannya dengan soal akademis (kecuali peristiwa luar biasa di luar kemampuan manusia);
  2. - Kesediaan dosen untuk mengaku “tidak mampu” untuk melanjutkan bimbingan karena waktu, tenaga, dan pikirannya tersita oleh masalah-masalah di luar bimbingan skripsi;
  3. - Pengertian yang mendalam dari kata “membimbing” yang maksudnya ialah memberikan pengarahan, wejangan, masukan, tuntunan, dan jalan keluar atas masalah pengerjaan skripsi mahasiswa bimbingan;
  4. - Kesanggupan untuk berkomunikasi dengan cara apapun dengan mempertimbangkan kemampuan mahasiswa bimbingan. Terkadang ada seorang dosen yang menilai mahasiswanya tidak sopan karena sekedar menelpon atau mengirim pesan singkat untuk bertemu. Sikap ini jelas menunjukkan arogansi dosen oleh karena kedudukannya terbilang “di atas” mahasiswa;
  5. - Kerelaan untuk meluangkan waktu seperlunya di luar jadual bimbingan jika mahasiswa bimbingan menemukan kesulitan yang tidak dapat ia pecahkan sendiri. Di sinilah nilai dari seorang pembimbing;
  6. - Seorang pembimbing bukanlah seorang komandan pasukan yang seenaknya memberikan komando ini dan itu tanpa memperhatikan kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa;
  7. - Kesediaan untuk menanggalkan perbedaan-perbedaan, gesekan-gesekan, dan pertentangan-pertentangan pendapat, prinsip, dan ideologi yang sekiranya dapat mengganggu kelancaran bimbingan. Persyaratan ini saya kemukakan karena pernah terjadi kasus dua orang dosen pembimbing saling bersitegang, saling menjatuhkan karena ternyata dua dosen tersebut saling bersaing sehingga mahasiswa bimbingannya sampai tidak tahu harus berbuat apa, hingga jatuh sakit karena memikirkan nasib skripsinya;
  8. - Dosen pembimbing harus menjamin bahwa hasil pengerjaan skripsi/tugas akhir mahasiswa tersebut adalah hasil murni pemikiran mahasiswa bimbingan, bukan karena misi tertentu yang dibawa oleh dosen tersebut. Saya pernah mendengar cerita bahwa judul skripsi terpaksa diganti. Ternyata penggantian judul skripsi tersebut disesuaikan dengan proyek yang sedang dilakukan oleh dosen tersebut. Dengan kata lain, dosen melakukan aksi “sambil menyelam minum air”. Daripada mengadakan penelitian sendiri, lebih baik “memanfaatkan” mahasiswanya yang sedang menyusun skripsi.


Butir-butir di atas tidak memuat kewajiban yang harus dipenuhi oleh mahasiswa bimbingan karena pada umumnya mahasiswa hanyalah “pion” yang menunggu perintah pimpinan. Mahasiswa yang bersikap radikal biasanya akan “ditumpas” habis dan dipersulit proses studinya dengan alasan “tidak sopan” terhadap dosen. Semacam itulah skenario yang sering terjadi. Tindakan mempersulit proses penyelesaian skripsi/tugas akhir membawa akibat yang fatal. Ada kasus seorang mahasiswa mengajukan permasalahan skripsi yang “aneh”. Aneh di sini berarti permasalahan yang tidak umum diajukan oleh sebagian besar mahasiswa. Beberapa kali saya mendengar cerita rekan mahasiswa bahwa permasalahan “aneh” tersebut kemungkinan besar ditolak. Dari sini saya mengamati bahwa dosen pembimbing merasa enggan untuk menghadapi masalah-masalah yang mereka anggap “sulit” dan “tidak sewajarnya”.

Padahal, di balik permasalahan “aneh” tersebut boleh jadi muncul teori baru. Apakah kita harus terus menganut teori lama jika ada teori baru yang lebih baik? Karya ilmiah memang sebuah karya yang disertai dengan referensi dan daftar pustaka sehingga karya tersebut diakui keabsahannya. Akan tetapi kita harus berpikir luas, seberapa jauh ilmu yang telah kita dapatkan di Indonesia dengan buku-buku yang beredar di sini? Sementara mahasiswa dapat saja mendapatkan buku teori yang lebih maju hasil pencariannya dari, misalnya, internet, atau bahkan mendapatkannya dari kiriman luar negeri.

Dosen seharusnya bersikap membuka diri dengan terobosan-terobosan baru yang “mungkin” belum pernah ia dapatkan. Bukan berarti seorang dosen akan lebih pintar dan berilmu dibandingkan mahasiswanya. Saya sangat yakin bahwa pendapat saya ini pasti mendapatkan komentar yang sangat pedas dari pihak-pihak bersangkutan yang merasa dirugikan.

Boleh dikatakan, pendapat ini sangat “ekstrim” dan “radikal”. Hampir tidak mungkin jika seorang dosen bersedia berada sejajar dengan mahasiswanya dalam lingkungan komunikasi yang setara, saling bertatap muka selayaknya dua orang sahabat yang saling bercurah hati, saling memberi masukan. Sebagian besar dosen berusaha untuk menjaga “status quo”, menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan mahasiswanya. Jika paradigma ini telah terbentuk, maka hubungan dosen dengan mahasiswa akan selayaknya hubungan majikan dengan pembantu. Sikap arogan ini mengajari mahasiswa menjadi seorang penjilat yang mau berbuat apapun asalkan dosennya senang. Apakah ini yang diinginkan? Apakah ini ciri khas bangsa Indonesia yang katanya saling menghormati, saling menghargai sesama. Apakah ini sesuai dengan kemanusiaan yang adil dan beradab?

Opini di atas saya sampaikan sebagai pengejawantahan suara-suara yang saya dengarkan dari rekan-rekan mahasiswa yang merasa “tidak enak” dengan kondisi yang mereka hadapi terkait dengan penyusunan skripsi/tugas akhir. Pada dasarnya mereka “takut” untuk unjuk rasa, untuk memberontak, untuk membela diri, karena kedudukan mereka yang “lemah”. Mereka hanyalah mahasiswa yang tahunya patuh mengerjakan tugas, mengisi presensi, melaksanakan perintah-perintah dosen yang terkadang keterlaluan. Dari sinilah saya pandang perlu dibuat surat perjanjian resmi di atas kertas bermaterai. Maksudnya, agar perjanjian ini dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila ada tindakan-tindakan yang menyimpang dari butir-butir ketentuan yang tertulis, maka seorang dosen dapat dituntut atas kelalaiannya selama membimbing mahasiswa bimbingannya.

A simple tribute to some good friends of mine who have been in troubles during their road to graduation.

Makna Studium Generale

Sebagai seorang mahasiswa yang pernah menjadi panitia Studium Generale sewaktu menjadi pengurus himpunan mahasiswa (periode 1995-1996), saya ingin mengutarakan secara singkat tentang makna sebenarnya Studium Generale itu. Terlepas dari kemungkinan bergesernya tujuan, misi, atau definisi studium generale untuk masa sekarang, sepengetahuan saya, acara ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan para mahasiswa baru tentang banyak hal mengenai kuliah yang akan mereka jalani selama tiga hingga enam tahun (waktu normal) dan memberikan gambaran secara garis besar tentang hal-hal yang menyangkut aktivitas kampus baik kuliah, kegiatan ekstra (yang digalang lewat unit-unit kegiatan mahasiswa) maupun kegiatan lain yang mengatasnamakan kampus. Studium generale juga dimaksudkan untuk mendekatkan mahasiswa baru dengan seluk-beluk kehidupan akademis di kampus mereka. Dalam studium general tersebut terdapat sesi seminar yang menghadirkan pembicara. Kalau pada masa lalu biasanya para pengajar dan perwakilan dari unit kegiatan mahasiswa. Entah kalau sekarang sistemnya telah berubah.

Berdasarkan pengalaman saya pada masa lalu, maka terasa janggal ketika mendengar bahwa studium generale dihadiri oleh pembicara yang telah mengarungi dunia kerja. Ada alasan mendasar yang mendukung kekurang setujuan penulis terhadap penyertaan praktisi dunia usaha ke dalam acara studium general mahasiswa.

Arah dari studi mahasiswa di universitas maupun perguruan tinggi khusus lainnya (institut, sekolah tinggi, akademi) memang semakin tertuju pada persiapan seseorang menuju lapangan kerja. Dengan kuliah mereka berharap agar mampu lebih bersaing karena memiliki gelar sarjana atau ahli madia (yang pada faktanya menjadi ‘aturan main’ lapangan kerja Indonesia saat ini). Itu saja tidak selalu menjamin keberhasilan karir mengingat tempat yang diberikan oleh lapangan kerja tidak sebanding dengan banyaknya tawaran untuk menjadi karyawan melalui iklan lowongan di surat kabar dan media massa lainnya.

Alasan “penolakan” terhadap kehadiran praktisi usaha (baik karyawan maupun pengusaha) dalam acara studium general ialah karena langkah tersebut “terlalu pagi” bagi para mahasiswa baru. Mereka belum juga genap satu semester mengikuti kuliah, buru-buru sudah di-iming-imingi oleh orang yang telah “sukses” mendapatkan pekerjaan selesai lulus kuliah. Sekilas memang baik-baik saja, tidak ada masalah, dan boleh dibilang komentar penulis ini terlalu mengada-ada. Namun jika ditelaah dampaknya secara kumulatif dalam jangka panjang, maka dalam pola pikir mahasiswa akan terbentuk sebuah sikap yang mengesampingkan nilai akademis. Kuliah menjadi formalitas untuk meraih gelar. Mahasiswa semakin berorientasi pada pekerjaan, padahal universitas sendiri tidak berani menjanjikan apa-apa terhadap para alumninya. Kecuali kalau universitas membuat pernyataan seperti: “Setelah lulus mahasiswa akan dapat bekerja di perusahaan X”, dsb. Sedangkan dalam ijazah saja kurang lebih tertulis : “....dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.”

Bagi mahasiswa, wawasan dan pengalaman yang ditularkan oleh pembicara yang seorang karyawan itu sangat menguntungkan. Tidak ada ruginya sama sekali. Namun, bagi universitas tidak demikian adanya. Tidaklah cukup untuk membangga-banggakan lulusannya yang telah bekerja pada sebuah perusahaan terkemuka di Indonesia, sementara kualitas anak didik saat ini semakin merosot.

Penulis berpendapat di dalam ruang lingkup akademis, bukan dalam ruang lingkup “entrepreneurship”, mengedepankan reputasi universitas sebagai pencetak generasi bangsa yang handal di atas reputasi individu mahasiswa. Maka dari itu, pembekalan yang terbatas pada masalah perkuliahan dalam studium general tampaknya harus dijadikan prioritas karena mahasiswa baru perlu menjalani proses yang alami.

Telah terjadi perbedaan antara mahasiswa generasi tahun 1990an dan generasi 2000an. Perbedaan memang tidak berlaku keseluruhan karena tidak setiap orang dapat disama-ratakan. Namun, penulis merasakan bahwa penguasaan bidang akademis dan "bentang kampus" rata-rata mahasiswa saat ini masih kalah dibandingkan mahasiswa generasi sepuluh hingga lima tahun yang lalu. Pendapat ini tidak bermaksud untuk merendahkan atau menyinggung perasaan mahasiswa sekarang. Telah saya kemukakan pada awal pargraf ini bahwa tidak semuanya berlaku demikian.

Orientasi karir mengesampingkan tujuan utamanya sebagai mahasiswa yang kewajibannya adalah belajar, menyelesaikan tugas sebaik-baiknya hingga nilai yang diperoleh memuaskan. Apalagi saat ini telah ada sistem perkuliahan “kelas eksekutif”, “kelas sore”, dsb. Penulis hingga saat ini masih terlibat dalam ‘sepak terjang’ mahasiswa, khususnya Universitas Diponegoro, sehingga dapat memberikan gambaran yang konkret tentang kualitas mahasiswa sekarang. Pengenalan dunia kerja kepada mahasiswa baru sangat penting fungsinya. Namun hal tersebut butuh waktu agar mahasiswa baru menjalani dulu tahap perkembangan satu per satu.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.