Pages

21 October 2008

Sukses Inter Buah Kesabaran Moratti

Internazionale Milan Football Club akhirnya berhasil memenuhi ambisinya untuk meraih scudetto Seri A setelah penantian yang panjang. Terakhir kali Inter Milan menjadi juara adalah pada musim 1988/1989, ketika ditangani oleh Giovanni "Mr. Trap" Trappattoni dengan kekuatan "Trio Jerman": Andreas Brehmen, Lothar Matthaeus, dan Juergen Klinsmann. Musim lalu Inter memang diakui oleh FIGC sebagai juara tetapi disebabkan karena scudetto yang sesungguhnya, Juventus, terkena hukuman degradasi ke Seri B akibat praktek politik uang (Calciopoli). Tahun ini, Inter membuktikan bahwa mereka pantas berada di atas Juventus (dan rival sekota, Asocionale Calcio Milan).

Raihan hasil yang fenomenal, dengan hanya sekali kekalahan (itu saja setelah menjalani partai ulangan melawan AS Roma), kiranya layak diakui oleh publik sepakbola Eropa. Massimo Moratti, orang dibalik perjalanan Inter selama ini, telah begitu sabar dan "istiqomah" membina klub dari kawasan Tuscany ini untuk tetap berada pada level teratas sepakbola Italia.

Inter Milan sekarang menjadi satu-satunya klub Seri A yang belum pernah degradasi ke Seri lebih bawah. Manajemen I' Nerrazzurri, demikian panggilan "sayang" klub yang bermarkas di Via Dusce' ini, telah banyak berkorban dan berjuang demi sebuah obsesi: melepaskan diri dari "saudara tua" I' Rossoneri AC Milan. Kelahiran kedua klub ini berselang sembilan tahun (AC Milan 1899; Inter Milan 1909), sehingga boleh dikatakan persaingan mereka telah begitu mendarah daging. Inter setidaknya dapat bernafas lega dengan superioritas mereka atas AC Milan dalam satu tahun ke depan.

Sebut satu nama: Massimo Moratti. Pengusaha minyak sekaligus pemilik perusahaan ban terkenal Pirelli yang begitu sabar menanti sebuah keadilan. Entah berapa banyak biaya yang telah ia kucurkan untuk kejayaan klub kesayangannya. Mungkin hanya Diego Maradona saja yang luput dari jaring Moratti. Banyak sekali nama besar mewarnai sejarah Inter. Klub ini termasuk pembuat rekor pengumpul pemain terbaik Eropa/Dunia terbanyak. Sebut saja Roberto Baggio, Lothar Matthaeus, Ronaldo, Luis Figo, Luis Suarez. Di luar itu pernah pula diperkuat sejumlah pemain tenar pada zamannya: Paul Ince, Dennis Bergkamp, Robbie Keane, Liam Brady, Ivan Zamorano, Clarence Seedorf, Walter Zenga, Giuseppe Bergomi, dan kapten Gli Azzurri juara Eropa 1968, Giacinto Faccetti.

Sebuah perjalanan yang penuh kesabaran. Di luar kemewahan yang mungkin dinikmatinya sepanjang hari, Moratti adalah cermin pribadi yang percaya akan perjuangan dan kerja keras. Moratti begitu low profile dalam menyikapi setiap kontrovesi yang terjadi. Pernah satu kali ia mengemukakan pendapat yang membuat hati terkagum-kagum. Di saat Inter terus mengalami kegagalan, ia tidak menyalahkan pihak lain, tidak arogan,

"tim ini kekurangan motivasi; selama sifat ini terus ada, maka kita tidak akan pernah menjadi juara."

Fantastis! Salut untukmu, Signor!

Felicite Internazionale! Selamat juga kepada sejumlah orang dekat di sekitarku yang mungkin telah "haus" gelar scudetto yang terus konsisten mendoakan, percaya, dan mendukung I' Nerrazzurri.

This party greeting goes to:

Setidaknya trofi juara kembali datang menghiasi kota tercinta. Kami akan kembali musim depan untuk menantang kalian.

Selamat berpesta!

From your Old Cousins, Milanisti, with LOVE! wkwkwkwk

(Tulisan ini dibuat pada bulan Juni 2008)

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.