Pages

21 October 2008

Sastraku Telah Berubah

Panggung Kembar Sastra di sini merujuk pada dua bidang persegi panjang berundak dengan lantai paving yang dibangun di halaman depan Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang. Pada waktu saya kuliah dulu, kedua panggung tersebut, yang terletak pada ujung Barat dan ujung Timur terkenal sebagai tempat ‘bermain’, berdiskusi, nongkrong, dan bercengkerama pada saat tidak ada jam kuliah. Panggung tersebut penuh kenangan, khususnya bagi kami yang saat itu tidak memiliki tempat khusus (ruangan khusus) untuk membahas acara, atau mendiskusikan kegiatan organisasi.
Waktu berlalu dan tak terasa hampir satu dekade, keadaan ternyata berubah. Panggung Kembar tersebut masih ada di sana, namun tatanannya telah berubah drastis. Kedua panggung tersebut dulunya dibiarkan terbuka. Sekarang, panggung yang sebelah Timur diberi atap sedangkan yang sebelah Barat lebih parah lagi, tidak berfungsi lagi untuk tempat duduk karena di atasnya telah berjajar kendaraan bermotor roda dua. Yah, panggung Barat telah alih fungsi menjadi tempat parkir!
Manajemen Fakultas boleh saja berkelit di balik perubahan yang terjadi. Saat ini makin banyak mahasiswa yang masuk kuliah dengan berkendaraan. Halaman Sastra yang saat itu luas sehingga setiap orang bebas berlalu lalang berjalan kaki, bahkan berlari-lari, sekarang telah sesak oleh kuda-kuda besi berbau bensin. Memang, pepohonan di sekitar tempat itu masih tegar berdiri, tetapi mengapa sekarang saya rasakan begitu sesak dan kacau?
Fakta di atas dapat dijadikan sebuah contoh betapa sekarang kampus semakin tidak nyaman sebagai tempat belajar. Semestinya apapun perubahan yang terjadi, kampus tetap memegang prinsip sebagai tempat belajar yang harus “steril” dari potensi gangguan, seperti halnya terlalu banyaknya kendaraan bermotor. Satu perbedaan mendasar antara mahasiswa generasi 1990an dan generasi 2000an adalah bahwa mahasiswa generasi yang pertama terkesan “malu” untuk membawa kendaraan ke dalam kampus, sedangkan mahasiswa generasi yang kedua justru “malu” jika berangkat ke kampus dengan berjalan kaki. Pihak Fakultas sepertinya begitu saja mengakomodasi perubahan ini.
Mahasiswa kampus Sastra Undip sejak dulu terkenal sebagai mahasiswa yang mengusung kesederhanaan. Penampilan yang apa adanya tetapi senantiasa bersikap kritis terhadap situasi sosial, ekonomi, dan politik yang berlangsung. Stereotip anak Sastra yang lekat dengan istilah “demo” (demonstrasi) sangat memberi atribut yang khusus yang belum tentu dimiliki oleh mahasiswa fakultas lain. Kesederhanaan ini lambat laun terkikis oleh perubahan jaman. Budaya tradisional tampak tidak muncul lagi, tergantikan oleh budaya populer.
Beberapa kali setelah saya tidak kuliah lagi di Sastra, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kampus ini. Saya menyaksikan perubahan dari cara berpakaian, cara bertutur sapa, cara bersikap dan bertindak, dan gaya hidup sebagian mahasiswanya. Anak Sastra tidak begitu! Tidak menunjukkan jatidiri dan kesan yang eksklusif. Anak Sastra seharusnya adalah sekumpulan mahasiswa yang tidak bosan membahas tentang pelajaran, tidak merasa “kikuk” untuk “membumi”, slengekan tetapi penuh etika. Idealisme Anak Sastra bukanlah idealisme karena mengikuti trend yang berlaku, melainkan idealisme untuk tetap bersikap “polos” dalam segi apapun.
Dari pengamatan saya pribadi selama kuliah di Sastra Undip, terdapat kubu yang secara implisit bersaing. Saya ambil contoh untuk Sastra Inggris, terdapat dua kekuatan yang saling bersaing: Studi Amerika dan Sastra Inggris. Pertarungan antara Gaya Amerika dan Gaya Briton ini sangat terlihat. Boleh dibilang, Amerikanisme lebih gencar mempengaruhi gaya hidup. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Amerika lebih bersifat liberal, modern. Sedangkan yang berhubungan dengan Briton lebih konservatif. Namun konservativisme di sini bukanlah “kolotisme”, melainkan nguri-uri tradisi.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.