Pages

21 October 2008

The Real Putri Indonesia 2008

Dalam dua tahun terakhir ini bangsa Indonesia selalu memiliki momentum untuk show off force kepada bangsa lain. Khususnya melalui dunia olahraga. Setelah tahun 2007 kita dibuat bangga oleh penampilan tim nasional sepakbola di Piala Asia, tahun ini kita memiliki peluang untuk menunjukkan “arti Indonesia” melalui sekurang-kurangnya dua peristiwa penting: 1) kebangkitan nasional ke-100 dan 2) kejuaraan dunia bulutangkis beregu Piala Thomas dan Piala Uber. Selalu saja olahraga yang paling mengkilap sinarnya. Entah berapa kali olahraga membantu mendongkrak kepercayaan diri bangsa, terkhusus bulutangkis sehingga tersisa kebanggaan di tengah keterpurukan banyak sektor kehidupan. Kejuaraan Piala Thomas dan Piala Uber berlangsung bersamaan dengan pemilihan Putri Indonesia 2008. Adakah hubungan antara kedua peristiwa ini jika dikait-kaitkan? Tentu saja ada dua kemungkinan: ada hubungannya dan tidak berhubungan sama sekali. Tidak berhubungan sama sekali karena kedua peristiwa berada pada dimensi yang berlainan. Ketidakterkaitan ini jelas terlihat dan tidak perlu dibahas lagi. Namun, bagaimana jika kita lihat dari sudut pandang “saling berhubungan”? Pemilihan Putri Indonesia adalah sebuah kontes ratu-ratuan untuk memilih siapa perempuan tercantik di Indonesia. Meskipun panitia, peserta, dan media berulang kali menegaskan bahwa kecantikan bukanlah satu-satunya modal untuk menjadi juara, tetapi kenyataannya berbicara demikian. Apa istimewanya Putri Indonesia? Figur perempuan bangsa yang menyuarakan kesetaraan gender, yang mewakili bangsa di forum internasional, yang menunjukkan keanggunan perempuan Indonesia? Ah, belumlah cukup. Ajang seperti ini tak lain menimbulkan diskriminasi antar sesama. Bagaimana tidak demikian, jika persyaratannya terbatas untuk mereka yang berpenampilan menarik, bertinggi badan sekian, memiliki karakteristik camera face, dapat berbahasa asing, berpendidikan dan sebagainya. Jika kontes Putri Indonesia dijadikan salah satu media untuk memperingati kebangkitan nasional, dengan kiprah perempuan Indonesia yang semakin menunjukkan eksistensi dirinya sejajar dengan laki-laki, misi tersebut tidaklah tepat. Bagaimana dengan perempuan-perempuan Indonesia lain yang tidak mengikuti kontes itu? Membaca persyaratannya pun mereka sudah merasa minder, takut karena kalah cantik, meskipun pandai dan cerdas. Beralih ke Piala Uber. Segala usaha yang telah mereka curahkan untuk kebanggaan nasional begitu nyata. Banyak orang merasa ragu akan perjalanan tim ini dalam meraih prestasi. Tengok saja pesaing mereka pada penyisihan grup. Salah satunya adalah tim Uber Belanda, yang pernah mengandaskan mereka pada masa lalu. Belum lagi komposisi pemain yang boleh dibilang masih perlu banyak lagi jam terbang di arena internasional, siapa yang akan menjamin keberhasilannya? Namun, semua keraguan itu dijawab dengan permainan yang tidak kenal menyerah. Dari sini justru muncul semangat untuk tidak kalah dengan counterpart mereka pada sektor pria, Piala Thomas, yang tampil bagaikan tanpa motivasi. Dari sinilah letak hubungan antara Putri Indonesia dan Tim Piala Uber. Keduanya sama-sama berusaha untuk menunjukkan eksistensi perempuan Indonesia melalui ajang yang berbeda. Hanya saja, seorang putri Indonesia yang sebenarnya bukanlah dia yang berpakaian dan berhias serba mewah disoroti lampu gemerlap sambil menunjukkan narcisme di atas panggung; seorang putri Indonesia adalah ia yang sanggup melakukan sesuatu seperti yang dilakukan oleh laki-laki Indonesia (di sinilah semangat Kartini yang sebenarnya: mensejajarkan diri dengan pria, memiliki hak yang setara dengan pria, dapat melakukan yang dilalukan pria). Perempuan Indonesia yang bermandi keringat dengan penampilan kacau, lusuh setelah bertanding habis-habisan di atas lapangan jauh lebih cantik dan anggun dibandingkan perempuan Indonesia yang bergaya di atas panggung mengumbar senyum dan berpakaian serba bersih. Kalau saya diminta memilih siapa Putri Indonesia 2008, peringkat I hingga X akan saya berikan kepada 10 anggota Piala Uber Indonesia 2008.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.