Pages

21 October 2008

Andai Saja 11 lawan 11

Berandai-andai adalah suatu hal yang mengasyikkan. Dalam tata bahasa Inggris dikenal pengandaian yang tidak mungkin, yang di dalam struktur kalimatnya terdapat frase "If Only...". Maksudnya bahwa sesuatu hal lain mungkin akan terjadi jika keadaan tidak seperti faktanya.
Perjalanan yang panjang dan penuh cerita akhirnya terhenti juga. Terhenti pada saat yang tidak tepat tentu saja. Mengapa kekalahan itu harus terjadi di final? Barangkali sebagian personil dan pendukung The Gunners akan meratapi kenyataan pahit itu.

Tidak apalah. Arsenal kalah dengan terhormat. Terlalu cengeng dan picik jika harus berlindung di bawah 'tragedi kartu merah' Jens Lehmann. Meskipun sebenarnya Terje Hauge perlu belajar lagi tentang state-of-the-art of the game. Ini partai final, kawan! Pelanggaran itu memang professional fault. Tetapi dapat pula disebut sebagai 'akal bulus' Eto'o yang memanfaatkan keadaan. Dari tayangan ulangan pun striker Barca tadi 'terjatuh terlalu mudah'. Tidak ada kontak fisik yang arogan diantara keduanya. Tapi peraturan tetaplah peraturan. Revisi keputusanpun (jikalau ada) tidak akan mengubah hasil pertandingan.

Barcelona adalah tim yang komplit. Kartu merah yang diterima Lehmann pun tak lepas dari serangan kilat Ronaldinho dkk. Berarti, bukan semata disebabkan oleh awak Arsenal dan kesalahan Terje Hauge. Di atas kertas tim Catalonia memang pantas menyandang juara Eropa. Motivasi yang meluap-luap sekarang telah terkendali dengan mental juara; sebuah mental yang tidak dimiliki mereka pada masa lalu selepas menggenggam Piala Champions 1992.
Arsenal telah membuktikan keperkasaannya. Kiranya mereka tetaplah berbangga. Bahwa tim manapun yang ingin membongkar gudang senjata itu harus memiliki armada yang 'lebih'. Tiada aksi brillian Ronaldinho karena praktis dia habis dijepit kompatriotnya, Gilberto Silva. Tercatat hanya tiga tembakan ke gawang (melenceng semua) dari sang maestro. Sementara itu Henrik Larsson, Eto'o, dan Beletti memanfaatkan keletihan benteng Arsenal dengan one-touch-finishing yang mematikan.

Barcelona memang klub terbaik Eropa musim ini. Pantas mereka menjadi kampiun. Bukti keberhasilan Frank Rijkaard meramu permainan yang bukan saja impresif namun juga agresif. Sementara The Gunners telah mengeluarkan segala dayanya untuk mencoba menahan gempuran lawan yang lebih favorit. Catat: dengan minus satu pemain, melawan favorit nomor satu! Sekali lagi, di tingkat Eropa, kekurangan pemain melawan kelebihan pemain itu sering tidak menjadi faktor penentu. Setidaknya begitu ketika Sol Campbell memberi harapan bagi Londoners. Hanya saja, untuk final malam itu tidak cukup melawan Barca dengan hanya sepuluh pemain.

Selamat Barcelona! Berpestalah karena mereka layak melakukannya. Mungkin ini saat yang paling tepat. Waktu yang sangat mepet karena para awaknya harus segera berjuang membela nama bangsa kurang dari satu bulan lagi. Selamat untuk Juliano Beletti atas hadiah kejutannya di Ultah Liga Champions ke-50. Selamat pula untuk Arsenal! Perlawanan yang gagah berani, seperti aksi brilian seorang keturunan bangsa Viking yang memang gemar berpetualang dan menaklukkan tanah orang lain, patut diacungi jempol. Ada lagi seorang Englishman yang justru menjadi minoritas di tim yang bermarkas di ibukota Inggris yang 'hampir saja menjadi pahlawan'. Seperti komentar yang saya dengar dari Martyn Tyler (saya menonton di ESPN, acara nonton bareng di Grapari Jl. Pandanaran Semarang): "The Ten Musketeers...", Henry cs. Telah berjuang sekreatif mungkin demi membendung keganasan Ronaldinho dkk., melindungi reputasi 'Le Roy' Arsene Wenger. Dalam hal skor akhirnya kalah; namun dalam hal usaha; relatif berjalan sesuai rencana.

Bravo Sepakbola!

(Tulisan ini dibuat pada bulan Mei 2006)

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.