Pages

30 March 2008

Batasi Kendaraan Pribadi

PEMBATASAN KENDARAAN BERMOTOR PRIBADI UNTUK MENGHEMAT BBM
Nusantara dianugerahi karunia besar oleh Tuhan berupa letak geografis yang tepat di garis maya khatulistiwa yang membagi dua belahan bumi (Utara dan Selatan) sama persis. Sebagai negeri tropis dengan hujan dan panas sepanjang hari, layaknya kita bersyukur. Beraneka ragam kekayaan alam menghiasi, baik di atas maupun di bawah bumi. Sumber alam dari perut bumi pun begitu bermacam jenisnya. Minyak bumi adalah salah satunya. Akhir-akhir ini muncul kekhawatiran akan habisnya cadangan minyak bumi sebagai sumber energi kehidudupan sehari-hari kita. Kekhawatiran yang teramat sangat hingga lahir ide baru pembuatan sumber energi dari unsur lain, seperti biogas, gas alam cair, energi matahari, hidrogen, bahkan nuklir. Mampukah kita mempertahankan eksistensi minyak bumi jika sumber energi lain tersebut di sini dirasa lebih mahal? Atau, mampukah kita bertahan hidup tanpa minyak bumi? Jawabannya terserah kepada kita masing-masing. Sumber kelangkaan bahan bakar minyak adalah konsumsi yang berlebihan. Itu jelas dan pasti. Setiap aktivitas manusia (rumah tangga, industri, dan transportasi) pasti menyumbang peranannya di dalam "menghabiskan" minyak bumi. Namun demikian, penulis berpendapat bahwa bidang transportasi adalah aktor utamanya. Bagaimana tidak dapat dikatakan demikian? Secara logika sederhana, kita dapat memahaminya. Contoh kasus, jika satu unit kompor berisi bahan bakar minyak (minyak tanah) dapat digunakan untuk memasak nasi berikut lauknya untuk dikonsumsi, misalnya, empat orang anggota keluarga dalam sehari (bahkan sehari-semalam), tidak demikian dengan bahan bakar minyak (bensin) untuk kendaraan bermotor. Saat ini banyak keluarga yang memiliki lebih dari satu unit kendaraan bermotor. Energi yang digunakan untuk menghidupkan sangatlah besar, apalagi jika penggunaannya untuk jarak dekat yang terlalu sering "berhenti-jalan-berhenti" (pengapian untuk menghidupkan mesin menyita bahan bakar lebih besar daripada setelah mesin kendaraan berjalan). Betapa borosnya kita jika setiap hari melakukannya. Produsen kendaraan bermotor (sepeda motor maupun mobil) semakin gencar menawarkan produk baru. Masyarakat kemudian menanggapinya secara positif. Kendaraan bermotor telah menjadi bagian gaya hidup bangsa. Alasannya tak lain karena kita harus mengimbangi percepatan kegiatan sehari-hari, berkendaraan menghemat waktu, untuk efisiensi dan efektivitas kerja, dan sebagainya. Alasan-alasan yang memang masuk akal tetapi akhirnya berujung pada penyesalan - energi minyak bumi semakin menipis dan kita pun menangis. Batasi produksi kendaraan bermotor pribadi Apakah akan menjadi hal yang mustahil bagi kita untuk membatasi kendaraan bermotor yang beroperasi di jalan. Terasa impian belaka memang. Akan tetapi sebenarnya langkah ini masuk akal juga. Lalu, bagaimana cara membatasinya? Bukankah jika kendaraan bermotor dibatasi kelancaran aktivitas sehari-hari menjadi terganggu? Tunggu dulu. Yang dibatasi ialah jumlah kendaraan pribadi. Dasarnya jelas: inginnya memperlancar kegiatan, mempersingkat waktu, tetapi kenyataannya malah membuat jalan menjadi bertambah macet. Kita lihat saja berapa banyak kendaraan pribadi yang "berkeliaran" di jalan? Jumlahnya jauh melebihi jumlah kendaraan angkutan umum. Pun sekedar sepeda motor dengan harga murah, semakin banyak orang yang berlomba-lomba mengikuti gaya hidup masa kini ini. Di samping menguras energi alam, kendaraan bermotor adalah penyebab polusi multi-dimensi (udara, tanah, air, dan suara). Tambahan lagi, prioritas pengadaan angkutan umum akan menyedot tenaga kerja sebagai awak armada angkutan umum sehingga angka pengangguran berkurang. Budaya berkendaraan bermotor juga menciptakan sifat malas untuk bepergian dengan lebih sering berjalan kaki, menggerakkan badan agar lebih bugar dan sehat, atau setidaknya bersepeda 'onthel'. Tuntutan ledakan dunia transportasi di tanah air telah disikapi oleh pemerintah dengan membangun jalan-jalan baru. Dari sini satu hal lain lagi muncul dan berakibat negatif. Apakah itu? Yakni terjadinya kerusakan lingkungan aseli akibat pembukaan lahan baru untuk lokasi jalur transportasi. Kemudian mengenai inovasi-inovasi pengambilan energi dari biogas, gas alam cair, energi matahari, nuklir, dan sebagainya. Lambat laun tentu juga akan memiliki akhir cerita yang sama dengan minyak bumi. Apalagi nuklir, belum-belum saja sudah mendapatkan reaksi keras dari berbagai kalangan. Belum lagi berbicara tentang metode pembuatannya, tenaga ahli yang tersedia berikut intrik-intrik yang menyertai sebuah proyek kegiatan kemasyarakatan yang di negara kita ini sering dipolitisasi oleh kalangan tertentu. Misalkan kita menggunakan gas alam cair (LPG). Untuk saat ini memang dapat dijadikan sebagai alternatif. Namun, mungkin lebih baik kita menghemat, bukan menghabiskan. Jika satu sumber telah habis, kemudian kita beralih ke sumber lain, maka seterusnya kita menghabiskan sumber kedua tersebut, demikian seterusnya. Sampai pada akhirnya kita tidak memiliki apa-apa lagi. Kreativitas adalah kunci keberlangsungan hidup, namun pemanfaatan sumber energi selain minyak ini harus pula dipertimbangkan untuk masa yang akan datang dalam hitungan jangka panjang. Jangan sampai kita terjerumus ke lubang yang sama. Begitu enak dan nikmat oleh ketersediaan energi, tahu-tahu kehabisan. Paragraf-paragraf di atas adalah sekedar contoh perbandingan dengan penalaran sederhana tanpa kajian kuantitatif - yang terkadang menambah pusing pembaca awam yang tidak tahu (atau tidak ingin tahu) statistik. Yang kita butuhkan ialah realita, bukan deretan angka hingga sekian digit di belakang koma. Penulis yakin, banyak warga negara yang tidak membutuhkan angka-angka itu. Tulisan ini hanyalah sebentuk usulan yang mungkin disusun dengan wawasan yang dangkal dari seorang yang awam. Perlu campur tangan banyak ahli dari berbagai bidang, misalnya lingkungan, ekonomi, dan sebagainya, untuk menilai apakah usulan pembatasan jumlah kendaraan bermotor yang beredar di jalan sebagai usaha mengurangi konsumsi BBM ini layak untuk disetujui atau ditolak. Tiyo W. Widodo Winning Eleven Community; Alumnus Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Jl. Taman Pleburan I No. 1085 G, Semarang, 50241

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.