Pages

2 September 2006

MENCARI SISTEM PENDIDIKAN

PENDAHULUAN

Sistem Pendidikan Nasional masih terus mengalami penyesuaian. Dengan kata lain, pendidikan nasional belum mencapai keadaan yang stabil. Perubahan terus dilakukan menuju ke arah perbaikan. Meskipun demikian, hingga saat ini belum diperoleh hasil yang memuaskan. Tidak perlu mencari-cari letak kesalahan (bila memang ada yang salah tentang pendidikan nasional). Yang diperlukan sekarang adalah kesadaran bersama baik dari penyelenggara pendidikan maupun peserta pendidikan.

Permasalahan pendidikan nasional adalah seputar ketidakseimbangan antara hasil dan pengeluaran yang dipakai untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut. Pendidikan di Indonesia identik dengan biayanya yang mahal bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Harus diakui bahwa perkembangan bidang ekonomi berpengaruh terhadap warna pendidikan. Kebergantungan ini begitu jelas terlihat. Bahwasanya perubahan harga pasasr kebutuhan manusia (yang berarti “harga naik”) membuat hampir semua bidang kehidupan menjadi bertambah mahal.

TIDAK ADA PENDIDIKAN ‘GRATIS’

Di dalam Undang Undang Dasar NKRI 1945 yang telah diamandemen terdapat pernyataan yang intinya “pendidikan dibiayai oleh negara/pemerintah”. Pernyataan ini bukan berarti warga yang bersekolah “dibayar” atau ‘dibebaskan dari biaya sekolah.” Perlu dicermati bahwa “permainan kata” penyusun UUD ini dapat menjebak pemahaman tentang sistem pembiayaan pendidikan Indonesia.

Penyusun UUD pasti telah dengan sangat cermat memilih kata-kata sedemikian rupa sehingga pelaksanaan dari UUD tersebut “terkendali”. Dalam artian, jangan sampai istilah “dibiayai” sama dengan istilah “gratis.”

Pemerintah dapat saja berkilah bahwa membiayai berarti membantu semampunya. Akan berbeda makna bila pernyataan yang digunakan adalah “pemerintah menanggung sepenuhnya biaya pendidikan.”

Pembahasan singkat mengenai UUD 1945 dalam masalah pendidikan di atas mengingat adanya kesalahan persepsi, bahkan oleh beberapa mahasiswa yang notabene adalah elite pendidikan di negeri ini. Dengan pengertian bahwa “dibiayai” berarti “gratis”, maka timbul harapan besar akan memperoleh kesempatan bersekolah tanpa membayar (memang menurut kabar terdapat beberapa daerah yang menyelenggarakan pendidikan gratis; namun hal ini baru dalam skala minoritas).

Harapan pendidikan gratis menyebabkan kekecewaan yang lebih mendalam ketika mengetahui bahwa kenyataannya berbicara sebaliknya. Bahkan cenderung bertambah mahal.

MENGHAPUS NUANSA BISNIS PADA PENDIDIKAN DASAR

Beberapa waktu lalu saya menjumpai suatu hal yang ganjil. Kesan pertama biasa saja, bahkan saya merasa senang sekali mendapatkan order ketikan proposal kerjasama antara instansi pendidikan dan sebuah perusahaan percetakan. Senang karena ketikannya banyak sekali, sekitar 400 lembar. Proposal itu berisikan tender pengerjaan soal ujian akhir nasional tingkat sekolah dasar. Lalu, apakah yang menarik dari order ketikan itu?

Penjelasannya demikian: Pembangunan ekonomi membutuhkan sinergi yang kuat antar berbagai bidang usaha baik produksi barang maupun jasa. Kerjasama antar bidang usaha ini sebagai wujud simbiosis mutualisme. Memang demikian sebaliknya jika ingin roda perekonomian rakyat terus berputar. Sebuah usaha yang sangat positif.

Usaha positif di atas tampak wajar-wajar saja dan tidak perlu dipermasalahkan. Begitu pula yang ingin diutarakan di sini bukan untuk memicu timbulnya masalah, melainkan sekedar apa yang tertangkap dari tender kerjasama tersebut. Pertama, bahwa pada setiap sampul depan (cover) soal Ujian Akhir Sekolah (UAS) terdapat tulisan “Rahasia; Milik Negara”. Kata “rahasia” ini mengacu pada soal UAS berikut kunci jawabannya. Dalam hal ini yang terlibat didalam pembuatan soal bukan hanya Departmen Pendidikan Nasional melainkan pihak “luar”, yakni perusahaan percetakan. Adakah jaminan bahwa kerahasiaan soal dan kunci jawaban tidak akan mengalami kebocoran? Tidak seorangpun yang dapat menjamin hal tersebut. Tentu saja pihak Depdiknas telah mempertimbangkan segalanya, termasuk resiko kebocoran oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Akan tetapi sangat riskan apabila tidak dilakukan pengawasan yang ketat. Mungkin saja langkah kerjasama ini ditempuh karena keterbatasan sumber daya pembuatan soal yang dimiliki oleh Depdiknas sehingga memerlukan pihak luar untuk dijadikan rekanan bisnis.

Kedua, berkaitan dengan kerjasama ini maka akan muncul biaya pembuatan soal (biaya produksi). Seperti yang tertera di dalam proposal bahwa pembuatan soal menghabiskan biaya sekian ratus juta. Dengan demikian, dari manakah Depdiknas memperoleh dananya? Tentu saja dari anggaran pemerintah. Namun kembali pada pernyataan di UUD 1945, khususnya dalam penjelasan, bahwa pemerintah hanya memberi kontribusi 20% saja. Pemerintah sudah pasti memiliki keterbatasan karena anggaran bukan hanya untuk pendidikan. Jika hal ini terjadi maka institusi pendidikan akan membebankan “sebagian” biaya kepada “stakeholders”nya, yakni pihak siswa. Sedangkan tanpa kerjasama pihak luar saja biaya sulit dijangkau, apalagi dengan kerjasama pihak luar? Artinya, pihak rekanan pasti menginginkan keuntungan (profit orientation).

Nuansa bisnis terlihat pula dalam pengadaan buku paket. Jika pihak sekolah benar-benar beritikad baik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa mereka dapat menginstruksikan para pengajarnya untuk memberikan pelajaran dengan cara yang sederhana. Sederhana di sini ialah bahwa cukup pengajar saja yang memiliki buku paket, kemudian mereka mengajarkan materi dalam buku tersebut di depan kelas dan meminta para siswa untuk mencatat dalam bukunya sendiri.

Metode ini terkesan tidak efisien karena memakan waktu. Akan tetapi memberikan dampak positif: siswa tidak wajib atau harus membeli buku paket, siswa menjadi terbiasa menulis dan terbiasa membuat “note taking”. Biasanya tulisan sendiri akan lebih nyaman dibaca dibandingkan tulisan orang lain. Sarana bukanlah mutlak karena bergantung cara menggunakannya. Pengajar menjadi kreatif untuk memberikan penjelasan yang terdapat pada buku cetak dibandingkan berkata, “coba buka halaman sekian..anak-anak…”

MENGHAPUS ISTILAH “SEKOLAH FAVORIT”

Ada dua pengertian mengenai sekolah favorit ini. Pertama, Sekolah yang menjadi favorit karena prestasinya yang bagus, melebihi prestasi sekolah lainnya. Kedua, sekolah yang sejak awal di-plot menjadi favorit sehingga murid-murid berprestasi saja yang dapat lolos seleksi masuk sekolah tersebut.

Sebenarnya, sekolah favorit itu muncul dengan sendirinya pada saat sebuah sekolah mencapai prestasi terbaik. Persepsi pengamatlah yang akan menilai apakah atribut

“favorit” layak atau tidak layak untuk disematkan. Maka dari itu, tak perlu kiranya memberikan gelar “sekolah favorit” karena pasti kemudian akan muncul “sekolah bukan favorit” (logikanya demikian). Perlakuan harus diberikan semua kepada setiap institusi sehingga dampaknya akan positif bagi siswa. Siswa tidak akan merasa “lain” atau “dibawah/diatas normal” dan mungkin juga merasa minder karena tidak bersekolah di sekolah yang disebut “favorit” tadi.

DIVERSIFIKASI ORIENTASI PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI

Beberapa tujuan yang hendak dicapai oleh seseorang yang masuk ke perguruan tinggi, antara lain: 1) untuk meningkatkan derajat pendidikan keluarga; 2) untuk menimba ilmu lebih banyak agar menjadi ilmuwan; 3) untuk memperoleh gelar tingkat Diploma, Sarja, dan Pasca Sarjana sebagai bekal untuk bersaing di dunia kerja; dan 4) untuk tujuan-tujuan lain yang tidak dapat disebutkan di sini karena beragam jenisnya.

Saya mengamati bahwa di tengah perjalanan menuntut ilmu di perguruan tinggi mahasiswa sering kebingungan di dalam menyikapi kegiatan akademis. Banyak dari mereka yang tidak menguasai materi dengan baik. Status sebagai mahasiswa belum terlihat dari esgi kualitas intelektualitas maupun cara bersikap. Ada dua penyebab yaitu karena kemalasan mahasiswa itu sendiri dan metode pengajaran yang diberikan. Membahas masalah kemalasan sudah barang tentu berkaitan dengan faktor individu dan itu bersifat relatif. Maka dari itu lebih baik mengkaji tentang metode pengajaran untuk membatasi cakupan masalah di sini.

Orientasi pendidikan tingkat perguruan tinggi di Indonesia belumlah jelas. Terlepas dari slogan “menciptakan lulusan yang berkualitas atau idealisme semacam “membina genarasi penerus dengan modal kecakapan” dan sebagainya, pada kenyataan dunia perguruan tinggi Indonesia mengarah pada penyediaan “sarana” atau “vehicle” untuk dijadikan bekal mencari pekerjaan. Ijasah perguruan tinggi adalah modal untuk mencari kerja dan hal ini syah-syah saja. Memang kenyataannya begitu.

Permasalahannya ialah sering ada ketidaksesuaian antara disiplin akademis dan lapangan pekerjaan.. Alhasil, status sarjana hanya simbol semata tanpa memandang sarja apa seseorang itu sebenarnya. Parahnya, pemberi pekerjaan juga memberikan peluang (apakah ini berkaitan dengan statistik semata? credit point yang dicari oleh perusahaan tersebut, dengan “prestasi” memiliki karyawan yang sarjana semua?…Heaven Knows…).

Untuk mengurangi “aksi pembajakan” seperti ini maka perguruan tinggi harus memiliki orientasi yang jelas bagi calon lulusannya. Pada kesempatan ini diusulkan dua jenis orientasi pendidikan, yaitu orientasi keilmuwan (expertise) dan orientasi kewirausahaan (entrepreneurship).

Selama ini tujuan mahasiswa sering tidak jelas. Kebanyakan setelah lulus berkarya di bidang yang bukan keahliannya. Sekali lagi, hal ini bukanlah masalah. Akan tetapi kegunaan dari fakultas-fakultas menjadi semacam perlambang saja. Dari sini perguruan tinggi perlu merinci tujuan diberikannya kuliah bagi mahasiswa.

Orientasi pendidikan jalur keilmuwan dikhususkan bagi mahasiswa yang menekuni bidang ilmu dan pengembangannya. Keluaran dari orientasi keilmuwan adalah lulusan yang memiliki keahlian analitik dan teori yang baik untuk mengabdi dalam bidang ilmu pengetahuan dan pengembangannya. Metode pengajaran disusun dan diberikan sedemikian rupa sehingga dapat menciptakan bakat para calon ilmuwan. Orientasi jalur kewirausahaan dikhususkan bagi mahasiswa yang ingin menjadi praktisi usaha. Dengan bekal yang memadai untuk menjadi profesional maka lulusan perguruan tinggi tidak akan gamang dengan peta kekuatan dunia usaha. 

BEAUTY PAGEANT

Telah sekian lama Indonesia menyelenggarakan acara pemilihan Putri Indonesia. Bahkan penyelenggaraannya dimulai dengan seleksi tingkat daerah, untuk kemudian para pemenang yang lolos seleksi mewakili daerah tersebut. Penilaian dalam kontes Putri Indonesia mencakup keindahan luar dan dalam pada diri perempuan. Selain berwajah cantik, mereka dituntut untuk memiliki wawasan yang luas tentang pengetahuan umum. Kontestan juga dituntut untuk memiliki kepedulian sosial yang tinggi mengingat masing-masing akan menjadi semacam mediator dan juru bicara untuk mempromosikan potensi suatu tempat. Putri Indonesia menjadi sarana untuk menyaring duta bangsa di tingkat Internasional dalam acara-acara protokoler. Saat ini kontes semacam ini semakin semarak dengan hadirnya Miss Indonesia. Selain itu pada tingkat daerah terdapat kontes seperti Abang & None, Mas & Mbak, dan sebangsanya. Sangat menarik jika menonton sekumpulan perempuan cantik di televisi. Mereka memiliki performa bagus, wajah yang cantik, penampilan anggun, dan fisik yang proporsional antara berat badan dan tinggi badan.

Apakah hubungannya dengan judul di atas?: Pemilihan Putri Indonesia adalah bentuk diskriminasi. Benarkah bahwa unsur diskriminasi menghiasi pemilihan Putri Indonesia? Kita mulai dari akar keberadaan manusia sendiri. Manusia terlahir sebagai makhluk yang sejajar satu sama lain. Tuhan menciptakan manusia sesempurna mungkin dan memiliki hak yang sama untuk hidup, berkembang dalam sebuah harmoni. Misi dari Putri Indonesia adalah mulia, yakni untuk menampilkan kepribadian perempuan Indonesia yang cantik, cerdas, berwawasan luas, dan sanggup menjadi penguat reputasi bangsa. Akan tetapi, mengapa saya masih merasa ada ganjalan? Itu karena unsur kesetaraan belum terangkum. Tidak semua perempuan Indonesia memenuhi syarat untuk mendaftar sebagai kontestan. Padahal, ada juga perempuan yang memiliki kecerdasan tinggi, nasionalisme, dan sebagainya, yang karena keterbatasan tidak mampu, atau secara sadar merasa tidak mampu untuk mengikuti kontes.

Blunder yang dibuat oleh Tim Penilai Putri Indonesia ialah pengiriman Nadine Candrawinata ke Miss Universe. Dari segi wajah, Nadine bukan tipikal orang Indonesia. Ia lebih berat ke western-look. Apakah itu bukan sebuah pelecehan terhadap perempuan asli Indonesia? Alright, saya musti berhati-hati mengatakannya karena dapat dituduh sebagai ultranasionalis, rasis, atau chauvinis. Tetapi, pemilihan Nadine sendiri apakah bukan sebuah bentuk rasisme juga? Warna perbedaan lain ialah bagaimana kita mengamati sebagian besar peserta. Mereka berkulit putih, berwajah cantik dan maaf…jika ini terlalu vulgar, bentuk tubuhnya memang dipilih yang bagus-bagus. Kita ingin menjual potensi bangsa atau menjual diri?

Ada bagian masyarakat bangsa Indonesia ini yang belum tercakup di dalam kontestan Putri Indonesia. Katakanlah, native people Papua. Mereka memiliki ras yang berbeda, dengan warna kulit, wajah, dan bentuk tubuh yang berbeda. Sejauh ini belum ada peserta yang mewakili karakteristik fisik manusia Papua. Memalukan sekali bahwasanya pernah ada wakil provinsi tersebut lebih bertampang njawani. Hanya karena dia lahir di Papua? Diskriminasi semakin jelas terlihat. Selain itu menyinggung masalah hadiah yang berlimpah. Saya sebut sebagai,

“yang cantik semakin jaya, yang kalah cantik tak kunjung makmur.”

Mereka sudah cantik, sudah memiliki kesempatan untuk tampil di televisi, diberi hadiah yang besar lagi. Apakah ini bukan sebuah diskriminasi? Mau di kemanakan perempuan-perempuan yang tidak memenuhi syarat-syarat perlombaan? Seberapa besar penghargaan terhadap mereka? Perempuan Indonesia seharusnya memikirkan hal ini, ayo..please!

Kesimpulannya, Putri Indonesia, Miss Indonesia, dan sebagainya tak lebih dari ajang entertainment. Mereka tidak mencerminkan usaha yang tulus untuk mempromosikan potensi bangsa. Pageant Contest tak ubahnya Kontes Dangdut TPI, Akademi Fantasi Indonesia, Pildacil, dan sejenisnya. It is not an extraordinary project. Jika ada yang membantah bahwa bukan penampilan yang diutamakan, mengapa para pesertanya hampir mirip: berkulit putih, bertinggi badan di atas rata-rata perempuan Indonesia, berwajah cantik, dan bertubuh proporsional? Ketika pamflet “Jadilah Pusat Perhatian” disebar … pastinya sekelompok perempuan Indonesia yang merasa di luar ketentuan akan pikir-pikir dulu sebelum mendaftar. “Ah, aku engga cantik, kok. Mana bisa?”

Itu bukan Putri Indonesia, melainkan kontes kecantikan tingkat nasional. Cantik dalam persepsi umum. Sangat sulit untuk melakukan dekonstruksi pemikiran seperti ini karena telah melembaga dari generasi ke generasi. Sedangkan cerita Ken Arok sendiri menyebutkan bahwa Ken Arok tertarik oleh betis Ken Dedes yang berwarna putih mulus. Jadi, perempuan dibilang cantik apabila ia memiliki kriteria-kriteria (atau setidaknya satu kriteria) berikut ini: - berwajah cantik, berkulit putih, bertubuh indah (kelak kemudian ditambah dengan berambut lurus, mungkin?).

“Pantesan sekarang banyak yang rambutnya di-rebound”


 

Renungan Indonesia 61

Jiwa yang bergolak bersimbah keringat. Belum habis menghitung untung dan menghitung rugi. Percepatan roda kehidupan tidak kenal dengan kompromi. Memang ada satu hal yang di dunia ini kita tidak mampu menahan lajunya. Ia berjalan penuh keteraturan dengan percepatan yang tetap. Hanya saja, kita sendirilah yang sering mengubah percepatannya karena kita menginginkan yang lebih. Waktu sebenarnya tidak berlebihan dan tidak berkekurangan. Dari dulu hingga sekarang satu hari satu malam adalah 2 x 12 jam, satu pekan 7 hari. Lalu mengapa ada yang bilang, “ah, waktu berjalan begitu cepat?” Bukan waktunya yang berjalan lebih cepat melainkan kita sendiri yang jalannya lambat, kawan.

Bumi yang semakin tua membuat jiwa dan raganya semakin rapuh. Tanah yang telah renta menjadi rentan akan getaran dan guncangan. Untuk itu sebagai perawatnya kita harus berhati-hati memperlakukannya. “The World Is Not Enough” mungkin paling pas untuk merujuk pada Nafsu manusia. Kita telah diberi karunia bumi seisinya, kita dapat bertindak sekehendak hati. Memang menjadi fitrah manusia yang diberi kelonggaran. Kelonggaran sekaligus kelebihan itu adalah adanya “pilihan” atau “nilai tengah”. Malaikat hanya mengerti cara bertaqwa dan mengikuti perintah Tuhan; syetan hanya mengerti bagaimana cara berbuat kerusakan. Maka dari itu, manusia sebenarnya adalah makhluk yang paling sempurna di dunia. Nilai tengah itulah yang membuat kita berandai-andai, ber-eksperimen macam-macam. Manusia dituntut kreatif, seperti pernyataan “Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang jika ia tidak berusaha”. Mengubah nasib? Ya, memang kalau manusia hanya diam maka ia hanya akan “Waiting For Godot”, seperti cerita Samuel Beckett itu.

Kreativitas yang kebablasan kali ya? Manusia ditambah satu lagi sifatnya, yaitu sering lupa (apa berlagak lupa, ya?). Maksudnya ingin menggunakan kekayaan yang terkandung di dalam perut bumi, tetapi yang terjadi malah penyalahgunaan. Dari Nagasaki, Hiroshima, lalu ke Chernobyl, kemudian ke Freeport. Lalu Datanglah Katrina, Tsunami, dan lain sebagainya. Apakah mereka itu jelmaan dari Sang Dajjal yang menakutkan itu? Engga tau yah. Peringatan tampaknya belum cukup ampuh menggertak jiwa insan yang bergolak. Masih saja eksperimen dilakukan demi “kemaslahatan umat”. Hah? Mulia sekali niatnya? Apakah benar-benar demikian?

Demi kemakmuran umat manusia? Umat manusia yang mana? Lalu itu, kampanye-kampanye di panggung politik negeri, gembar-gembor yang penuh tipu daya. Mereka kok ya tidak mikir gitu; padahal sudah diperingatkan lho. Mana ada bangunan yang terhitung canggih, memuat “tingkat keamanan nomor satu” dengan drainase yang selebar jalan utama desaku terkena banjir. Wah! Pertanda apakah ini, kawan? Apakah mereka kualat karena….ehehm…no comment dah..nanti dikira subyektif dan “mendoakan yang jelek” kan payah. (huusss! Prime memory ya Prof Iel Arianto? Hahaha…wakakakak!)

Kreativitas diwujudkan dalam pola berperilaku juga. Rasanya perancang busana sudah mulai kehilangan ide ya? Lha bagaimana tidak disebut demikian. Sekarang semakin banyak orang yang ogah-ogahan mengenakan pakaian lho. Mungkin rancangannya tidak cocok dengan badan sehingga tidak enak kalau dikenakan…kucingku yang di rumah saja selalu berpakaian kok, bahkan sekujur tubuhnya selalu berpakaian. Kok kalah dengan kucing ya? Hihihi. Mungkin para perancang busana itu masih “shock” gara-gara ditinggal salah seorang mentornya, Gianni Versace, secara tidak wajar.

Bumi berontak menandakan bumi juga berotak. Ia bergolak karena amarah yang terpendam sekian lama. Di dalamnya terkandung Hitler, Mussolini, Louis XIV, Nero dan lain sebagainya. Belum lagi ehm…maaf…kotoran kita. Waduh…duh…lha koq ironis sekali ya? Tempat di mana kita berpijak, hidup, makan, tidur, dan minum adalah di mana kita menyingkirkan barang-barang yang tidak kita sukai. Ini bersalah apa tidak sich? Wah, kalo yang ini tidak tahu deh. Pantas sekali bumi menjadi sakit. Duh, kasihan ya. Tuh kan, jadi menangis terus…di berbagai tempat genangan air mata bumi menjadi-jadi. Kasihan ya dia hidup sendirian, tidak punya pacar, tidak punya teman, tidak punya kekasih yang menyayanginya. (masih mendingan aku punya teman curhat yang setia…cieee!). Sementara sepasang manusia yang dimabuk asmara bermesraan di taman-taman di atasnya. Ah, lagi-lagi bekas bungkus eskrim, Dunkin’ Donut dan lain sebagainya ditinggal begitu saja. Sementara para pemimpin membekap bumi dengan lantai berkilau…ihh takut ada lumpur…ehh…tau-tau byuuurr….entah barang apa saja yang masuk ke Istana waktu itu. Hahaha…(jadi inget komentar kawan Moko nikh).

Bumiku sedang pilek, mudah-mudahan tidak sampai terkena “stroke”. Bersin-bersin terus sedari kemarin. Mungkin badannya merasa pegal-pegal. Mungkin juga stress mikirin kita yang tak kunjung memberi hadiah istimewa dengan prestasi yang cemerlang. Stress? Wah itu bisa bahaya. Darah tinggi dan “panasten”? bisa repot nikh. Nanti kalau dia sudah tidak sabar lagi pasti marah, hayoo, engga ikut-ikutan lho aku…hiii..ngeri banget deh pokoknya. Lari ke Stuttgart? Lha wong bumi cuma satu kok, ya pasti kena juga.
Nafas dihembus yang terasa panas melepuhkan sekujur kulit. Itu baru nafasnya. Jadi ingat “Dragon Heart” itu lho…hahaha…lucu dan konyol banget; sang Naga muda lagi belajar membuat api dari mulutnya…ternyata apinya keluar dari belakang. Broott! Rumah disekitar jadi hangus terbakar dech. Hahaha. Lucu banget pokoknya. (btw, nonton filemnya engga hayo?) Nah, nafas bumi itu lebih parah dari nafas sang Naga. Tanya saja sama mbah Sarto di daerah Jatinom Klaten sana…”Rasane pripun mbah*?” “Wah lha niki Nak, panas sedanten. Nggregesi tur perih sanget**.” Itu baru nafasnya doank lho, catat!

Republik ini benar-benar mawut. Se-mawut petingkah Wapres Kelik dan Presiden Savalas saja. “Ah gitu saja kok freeport…” Tapi engga usah dicekal deh. Karena yang mencekal lebih mawut dan semrawut. Biarkan menjadi bahan candaan. Lumayan kan daripada melihat paha mulus doang (bikin horny saja; trus gimana menyalurkannya? aku kan belum punya isteri. Hahaha)? Lebih aman kan daripada membayangkan hantu-hantu doank? Lebih mulia kan daripada mengusik urusan pribadi Glen Fredly, Roy Marten, Inul, dan sebagainya?

 
* Rasanya (kena awan panas) seperti apa, Kakek?
** Wah ya ini, Nak, panas semua sekujur tubuh. Rasanya meriang dan perih sekali.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.