Pages

10 August 2006

Televisi emang B****** !

Di sepanjang kehidupannya, manusia melalui berbagai masa dan tahapan. Tidak diragukan lagi, tidak ada satupun masa yang lebih manis dan indah seperti masa yang dinikmati oleh anak-anak. Orang-orang dewasa senantiasa mengenang masa kecil mereka dengan penuh rasa suka cita dan mereka akan menceritakan peristiwa dan kenangan masa kecil itu dengan penuh semangat. Permainan, imajinasi, rasa ingin tahu, dan ketiadaan beban hidup, membuat masa kanak-kanak menjadi manis dan menarik buat semua orang. Namun, dewasa ini, para ahli psikologi dan sosial meyakini, era kanak-kanak di dunia sedang berhadapan dengan keruntuhan dan akan tinggal menjadi sejarah saja. Di masa yang akan datang, anak-anak di dunia tidak akan lagi menikmati masa kanak-kanak yang manis, yang seharusnya menjadi masa terpenting dalam membentuk kepribadian mereka.

Dewasa ini, media massa Barat, dengan program-programnya yang memperlihatkan kerusakan moral dan kekerasannya, sedang merobohkan dinding yang menjadi tembok pemisah antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Barat, namun juga di negara-negara lain karena besarnya infiltrasi media Barat di berbagai penjuru dunia. Dengan kata lain, anak-anak zaman kini dibebaskan untuk melihat apa yang seharusnya hanya ditonton oleh orang dewasa dan hal ini dapat berdampak buruk bagi anak-anak itu.

Doktor Tabatabaei, seorang pakar media di Iran, pernah menulis bahwa masa kanak-kanak merupakan salah satu tahapan usia seorang manusia, yang memiliki kebutuhan dan kapasitas tersendiri. Jiwa dan fisik anak-anak yang lembut tidak memiliki kesiapan untuk dihadapkan kepada konflik dan masalah yang dialami oleh orang dewasa. Neil Postman, seorang penulis Amerika, juga pernah menulis bahwa jika sudah tidak ada batas antara dunia anak-anak dan dunia orang dewasa, tidak akan ada lagi apa yang dinamakan sebagai dunia kanak-kanak.

Di antara berbagai media massa, televisi memainkan peran yang terbesar dalam menyajikan informasi yang tidak layak dan terlalu dini bagi bagi anak-anak. Menurut para pakar masalah media dan psikologi, di balik keunggulan yang dimilikinya, televisi berpotensi besar dalam meninggalkan dampak negatif di tengah berbagai lapisan masyarakat, khususnya anak-anak. Memang terdapat usaha untuk menggerakan para orangtua agar mengarahkan anak-anak mereka supaya menonton program atau acara yang dikhususkan untuk mereka saja, namun pada prakteknya, sedikit sekali orangtua yang memperhatikan ini.

Menurut sebuah penelitian yang telah dilakukan di Amerika, banyak sekali anak-anak yang menjadi pemirsa program-program televisi yang dikhususkan untuk orang dewasa. Doktor Tabatabaei dalam mengomentari hal ini menyatakan, “Dewasa ini di Barat, anak-anak dihadapkan dengan pembunuhan, kekerasan, penculikan, penyanderaan, amoral dan asusila, keruntuhan moral, budaya dan sosial. Dampak dari problema ini adalah timbulnya kekacauan dan kerusakan pada kepribadian anak-anak dan akhirnya kepribadian kanak-kanak itu menjadi terhapus dan hilang sama sekali.”

Neil Postman dalam bukunya “The Disappearance of Childhood” (Lenyapnya Masa Kanak-Kanak), menulis bahwa sejak tahun 1950, televisi di Amerika telah menyiarkan program-program yang seragam dan anak-anak, sama seperti anggota masyarakat lainnya, menjadi korban gelombang visual yang ditunjukkan televisi. Dengan menekankan bahwa televisi telah memusnahkan dinding pemisah antara dunia kanak-kanak dan dunia orang dewasa, Neil Postman menyebutkan tiga karakteristik televisi. Pertama, pesan media ini dapat sampai kepada pemirsanya tanpa memerlukan bimbingan atau petunjuk. Kedua, pesan itu sampai tanpa memerlukan pemikiran. Ketiga, televisi tidak memberikan pemisahan bagi para pemirsanya, artinya siapa saja dapat menyaksikan siaran televisi.

Ketiga karakteristik televisi ini akan berakibat baik bila pesan yang disampaikan adalah pesan-pesan yang baik dan bermoral. Sebaliknya, akan menjadi bahaya besar ketika televisi menyiarkan program-program yang bobrok dan amoral, seperti kekerasan dan kriminalitas. Sayangnya, justru dewasa ini film-film yang disiarkan televisi umumnya sarat dengan kekerasan dan kriminalitas. Para pemilik media ini demi menarik pemirsa sebanyak mungkin, berlomba-lomba menayangkan kekerasan dan amoralitas yang lebih banyak di layar televisi. Anak-anak yang masih suci dan tanpa dosa menjadi pihak yang paling cepat terpengaruh oleh tayangan televisi dan mereka menganggap bahwa apa yang disiarkan televisi adalah sebuah kebenaran.

Data statistik di AS menunjukkan bahwa tingkat kekerasan yang dilakukan anak-anak semakin hari semakin meningkat. Antara tahun 1950 sehingga 1979, terjadi peningkatan jumlah kejahatan berat yang dilakukan oleh anak-anak muda di bawah 15 tahun di AS, sebesar 110 kali lipat, yang berarti peningkatan sebesar 11 ribu persen. Dewasa ini, banyak sekali anak-anak dan remaja di Amerika yang membawa senjata, baik untuk menyerang orang lain atau untuk melindungi diri sendiri.

Anak-anak seharusnya dikenalkan kepada kekacauan dan ketidaktenteraman kehidupan di dunia secara bertahap dan dengan bahasa yang khusus, agar mereka mengenali kejahatan bukan untuk menirunya, melainkan untuk menghadapinya dan melawannya. Cara yang tepat untuk pengenalan ini adalah melalui dongeng-dongeng anak-anak yang menggunakan metode yang benar dan bahasa yang lembut. Namun sayangnya, dongeng-dongeng anak-anak ini semakin menghilang dan digantikan oleh film-film keras televisi dan permainan komputer.

Masalah lain yang seharusnya milik dunia dewasa, namun malah disiarkan oleh televisi untuk semua orang, termasuk anak-anak, ialah masalah seksual. Gambaran terburuk dari berbagai hubungan seksual disiarkan setiap hari di televisi, baik di Barat maupun sebagian besar negara-negara Timur, dan anak-anak yang seharusnya masih berada dalam dunia manis masa kanak-kanak, tiba-tiba dihadapkan dengan masalah asusila atau pornografi. Dengan cara ini, anak-anak telah memasuki dunia dewasa dalam bentuknya yang terburuk.

Mengenai salah satu dari dampak fenomena ini, Neil Postman menulis bahwa kini di AS, manekin atau boneka pajangan dan model iklan termahal ialah anak-anak perempuan berusia 12-13 tahun. Postman juga menambahkan bahwa rasa malu, harga diri, dan sejenisnya telah kehilangan makna dan nilai. Selain itu, berbagai perusahaan perdagangan, khususnya di Amerika, telah menyalahgunakan anak-anak kecil sebagai komoditi seksual dan iklan dagang. Kita dapat menyaksikan dengan baik penyalahgunaan anak-anak untuk menarik pemirsa dan konsumen dalam propaganda televisi dan film-film Amerika.

Akibat mengenalkan masalah seksual secara mendadak dan terburu-buru kepada anak-anak dan remaja, dewasa ini Barat berhadapan dengan apa yang disebut sebagai “masa baligh dini”. Penggunaan narkotika dan alkohol juga turut menembus dunia anak-anak dan remaja di Barat lewat propaganda televisi. Data statistik di AS menunjukkan bahwa angka anak-anak dan dewasa yang mengkonsumi bahan narkotika semakin membengkak. Neil Postman dalam bukunya menyebut data bahwa jumlah para pelajar yang mengakui bahwa mereka mengkonsumsi alkohol dalam jumlah banyak adalah 300 kali lipat dari para pelajar yang hanya mengkonsumsi dalam ukuran normal.

Anak-anak seperti ini bukan saja tidak akan mau menerima nasihat dari orangtua mereka, bahkan juga tidak akan menghormati orangtua. Padahal, nasehat dan pengarahan dari orang tua adalah sebuah masalah penting bagi anak-anak, sebagaimana ditulis oleh Haddington berikut ini. “Salah satu elemen utama penyempurnaan manusia dan perkembangan daya pilih mereka adalah rasa percaya diri yang diberikan oleh orang dewasa kepada mereka sewaktu mereka masih kanak-kanak. Rasa percaya diri anak-anak ini dapat membuat mereka mampu membedakan antara kebenaran dan kejahatan, kebaikan dan kesalahan, serta keindahan dan keburukan. Mereka akan memiliki kemampuan untuk menyingkirkan segala bentuk penyimpangan moral dan menyediakan kehidupan yang aman dan membahagiakan buat dirinya dan keluarganya.”

Menimbang segala fakta di atas, pemerintah di berbagai negara hendaknya sadar untuk mengatur industri televisi agar dapat memainkan peran positif dan konstruktif bagi anak-anak dalam meningkatkan kepribadian mereka, demi terciptanya generasi yang sehat dan bangsa yang maju.

Untuk H. N.

Tanggal 6 dan 9 Agustus mengingatkan kita kepada sebuah peristiwa besar yang tak mungkin dilupakan oleh sejarah. Enam puluh tahun yang lalu, tanggal 6 Agustus 1945 pukul 8.15 waktu setempat, sebuah bom atom dijatuhkan oleh pesawat militer AS di kota Hiroshima Jepang. Hanya dalam hitungan detik, kota itu berubah menjadi puing dan puluhan ribu orang tewas. Mereka yang selamat hanya bisa mengingat suara raungan pesawat militer AS, pancaran sinar yang sangat menyilaukan, suara dentuman dahsyat dan semburan api yang panas membakar kulit. Sebanyak 62 ribu orang tewas dalam tragedi di kota Hiroshima ini, sementara 69 ribu lainnya luka-luka.

Penghancuran kota dan pembantaian puluhan ribu rakyat sipil hanya dalam hitungan detik itu, kembali terulang pada tanggal 9 Agustus. Kali ini kota Nagasaki menjadi korban kedua kedahsyatan bom atom. Kecemasan dan kepanikan akibat serangan bom atom terhadap dua kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang itu, sedemikian besarnya sehingga mustahil terlupakan oleh sejarah. Konfederasi Korban Bom Atom Jepang dalam cacatannya menyebutkan bahwa 63 persen dari mereka yang menyaksikan kedahsyatan bom atom tidak akan pernah melupakan peristiwa besar ini.

Konfederasi Korban Bom Atom Jepang tahun ini menyelenggarakan sebuah konferensi internasional melawan senjata pembunuh massal dengan slogan ‘Kami Tak Menginginkan Hiroshima dan Nagasaki Baru’. Menurut penyelenggara, konferensi yang digelar di Tokyo ini bertujuan untuk mengenalkan generasi baru akan bahaya dan tragedi yang ditimbulkan oleh senjata atom, sehingga mereka akan meneruskan dan mendukung gerakan anti senjata pembunuh massal.

Kota Hiroshima dan Nagasaki adalah bukti sejarah mengenai kejamnya penggunaan senjata yang sangat mematikan itu. Akibat senjata pmbunuh massal, korban tewas bukan hanya para tentara yang bertugas membela tanah air mereka, melainkan juga perempuan dan anak-anak tak berdosa. Kini, kedua kota itu dipandang sebagai simbol perdamaian dan penentangan dunia terhadap perang dan penggunaan senjata nuklir. Di kota Hiroshima juga telah didirikan sebuah taman perdamaian dilengkapi monumen yang mengingatkan dunia akan peristiwa ledakan bom atom di kota itu. Pada bangunan monumen terlihat patung bocah kecil dengan tubuh hangus terbakar, juga patung seorang ibu dan anaknya. Monumen ini mengingatkan akan korban bom atom yang kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak.

Tak jauh dari monumen itu, dibuat pula puing-puing berbentuk kubah yang dikenal dengan nama kubah perdamaian. Kubah ini adalah simbol dari kehancuran kota Hiroshima akibat bom atom. Bangunan itu dibuat sedemikian rupa sehingga menyayat hati setiap orang yang melihatnya. Setiap tahunnya, tanggal 6 Agustus, di kota Hiroshima diadakan upacara mengenang peristiwa yang terjadi 60 tahun lalu itu. Mereka yang hadir mengenang kembali para korban seraya meneriakkan slogan-slogan perdamaian dan penentangan terhadap penggunaan senjata atom.

Sayangnya, jeritan hati itu tidak didengar oleh negara-negara super power terutama AS, yang masih memikirkan untuk menambah jumlah bom-bom nuklir di gudang-gudang senjatanya. Meski tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya negara yang menggunakan senjata atom, AS tidak mengindahkan jeritan rakyat Jepang yang menuntut kedamaian dan perdamaian. Keamanan dunia semakin terancam dengan keputusan AS untuk tetap memproduksi generasi baru bom nuklir mini.

Tanggal 6 Agustus tahun 2003 ketika dunia memperingati peristiwa ledakan bom atom di Hiroshima Jepang, sebanyak 150 jenderal, perwira tinggi militer dan pakar nuklir AS berkumpul untuk mengadakan pertemuan rahasia di sebuah pangkalan udara di negara bagian Nebraska, Amerika Serikat. Pertemuan itu dimaksudkan untuk menyusun kebijakan dan strategi baru negara adidaya ini dalam masalah nuklir. Dalam pertemuan itu dibahas langkah-langkah AS untuk menggunakan senjata nuklir taktis sebagai ganti senjata konvensional.

Dalam sebuah dokumen yang diserahkan Pentagon kepada Kongres AS tahun 2003 disebutkan bahwa pemerintah AS berhak menggunakan senjata destruksi massal untuk menggempur tujuh negara. Menurut para pengamat, ambisi pemerintah George W. Bush untuk menggunakan senjata atom dalam medan peperangan dan rencana AS untuk menyerang sejumlah negara yang tidak memiliki kekuatan nuklir atau menumpas gerakan yang dicap sebagai kelompok teroris, telah menciptakan ancaman besar bagi keamanan dan perdamaian dunia.

Para ahli menilai perubahan kebijakan AS dalam masalah nuklir dan ambisi negara ini untuk memproduksi senjata nuklir generasi baru yang diberi nama bom nuklir miniatur dengan kekuatan 5 ribu kilo TNT itu, sebagai sebuah pelanggaran nyata terhadap traktat NPT. Sebagaimana diketahui, traktat non proliferasi nuklir NPT ditandatangani tahun 1970, menyusul munculnya kekhawatiran dunia akan kemungkinan meletusnya perang nuklir antara dua kutub kekuatan saat itu. Sayangnya, NPT selalu dilanggar oleh negara-negara pemilik senjata nuklir, khususnya AS, sehingga konvensi ini terasa tidak efektif.

Bukan hanya oleh masyarakat dunia, Pemerintah Bush saat ini juga dituduh oleh berbagai kalangan di dalam negerinya sebagai pelanggar nyata berbagai perjanjian internasional khususnya NPT. Sejak naik ke kursi kepresidenan, Bush merasa tidak terikat sama sekali dengan berbagai ketentuan dan perjanjian internasional, selain juga terus melakukan intervensi dalam urusan internal berbagai negara. Sepak terjang Bush dan timnya ini, mengancam keamanan dan ketenangan dunia.

Menurut para pengamat politik, apa yang dilakukan pemerintah Bush membuktikan bahwa kelompok neo konservatif yang berkuasa di Gedung Putih saat ini mengekor kepada kebijakan para penguasa AS di era 1945-an yang melahirkan kebijakan untuk menjatuhkan bom atom ke kota Hiroshima dan Nagasaki. Pernyataan sejumlah senator AS yang mengatakan bahwa AS siap menggempur tempat-tempat suci umat Islam termasuk kota Mekah dan Kabah, selain menunjukkan kepongahan mereka, juga membuktikan ketidakamanan yang melanda dunia.

Masyarakat internasional khawatir, sikap gila kekuasaan yang menguasai para pemimpin AS akan mengantarkan dunia ke kondisi yang menyerupai akhir Perang Dunia Kedua, saat dua bom atom meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Untuk itulah, masyarakat dunia bersama rakyat Jepang secara serentak meneriakkan slogan penghapusan senjata pembunuh massal dan menuntut pengambilan tindakan konkrit yang dapat menjamin perlucutan senjata mematikan ini. Dalam hal ini, Walikota Hiroshima yang mewakili lebih dari seribu walikota dari berbagai penjuru dunia mengusulkan penyusunan sebuah konvensi senjata atom, paling lambat sampai tahun 2010 dan penghapusan senjata nuklir di dunia paling lambat hingga tahun 2020 mendatang.

Dari Maz Aok Wien

Mas @onk Wien tuh temenku yang tinggal di Distrik Kertasverly Hills, satu blok dari Mabesnya SWW. Lha salah satu bukunya yang aku pinjam ada coretannya di halaman depan, like diz: aku adalah pribadi yang tak kau dengar dan kau pun bukan diri yang kulihat adaku dan adamu mengambangkan mimpi tuk sekedar melintas di atas negeri kasih aku bukanlah isyarat kepalsuanmu kepalsuanku bukan pula firasat bagimu saat tabir mimpu mengalunkan kesunyian kepekaan kalbu terperangkap perjalanan kisah hingga bahasa nurani tak lagi membisu sanga jiwa buana masih bertualang ditemani sejuknya harapan yang tiada batas kini aku bicara dengan hati nuranimu dan kau tetaplah jejak-jejak yang tersembunyi aku adalah hasrat yang belum kau kenal adaku dan adamu tetaplah takkan tiada dan tak slalu terucap ataupun terdengar hanya jika ada batin yang sepi dan senyap maka bahasa kasih nurani tak lagi diam Wah, wah, ternyata romantiz juga neh orang. Hihihi. Hei Maz @onk kok wes sawetoro wektu ora nongol-nongol di Westple Valley. Padahal ning kono tambah rame lho, pemandangane pun yo tambah kempling plus kinclong lho. Ah, ngerti dewe lah pokoknya. Rugi lho!
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.