Pages

2 October 2006

Cerita Tinggal Cerita

Seorang murid datang menjumpai guru sufi, wajahnya membersitkan kekesalan. Tampaknya dia sudah limbung, menanggung beban kesal itu. Hampir-hampir saja beban itu membuatnya frustrasi. Dia ingin berhenti mengajarkan kearifan kepada orang-orang. "Guru, saya sedang benar-benar kesal," gerutunya. "Ada apa muridku? Berbagilah denganku!" "Cerita-cerita saya selalu disalahpahami,!" ujarnya sembari menyembunyikan wajahnya. "Disalahpahami bagaimana?" "Untuk sebagian orang cerita saya dipahami begini. Sedang untuk sebagian yang lain, dipahami begitu." "Apa yang salah dengan memahami cerita begini dan begitu?" tanya guru sufi lebih lanjut. "Lalu apa maumu?" tanya sang guru sufi dengan nada lembut. "Saya ingin cerita saya dipahami seperti apa yang saya inginkan." Sang guru sufi hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban sang murid. Sang guru lalu perlahan-lahan mengeja wajah muridnya dengan tatapan welas asih. Sang guru sepertinya sedang membaca huruf-huruf yang dipahat gurat-gurat kekesalan. "Muridku, cerita adalah cerita. Cerita akan melahirkan banyak tafsiran dan pemahaman. Dia tidak lain hanyalah wahana, sarana, kemasan, bungkus, dan apa-lagi....," kata-kata sang guru terputus. Sejenak kesenyapan meliputi mereka. Lalu sang guru melanjutkan, "Sebagai wahana, kita harus bisa memberdayakan agar orang yang mendengar dan membacanya mampu memahami dan memberikan pemaknaan." "Apa itu guru?" Dia kemudian mengangkat wajahnya, "Bagaimana cerita itu bisa memberikan daya guna dan manfaat kepada orang lain yang mendengar dan membacanya, beroleh manfaat?" "Hanya itu! tidak ada yang hak lain." Sang murid hanya manthuk-manthuk (mengangguk-angguk, red.) saja. Sepertinya dia ingin berkata: "Apalah artinya sebuah cerita, seindah dan selucu apa pun, atau seburuk dan sekaku apa pun kalau pendengar dan pembacanya tidak dapat memahami dan memaknai." Mereka berdua kemudian serempak melepas senyum. Sepertinya ada kesepahaman. Cerita tinggal cerita. Apalah artinya cerita bila tidak bisa dipahami. Sejenak kemudian sang murid bangkit. Ia menyalami gurunya, lalu beranjak pergi. Kini giliran sang guru yang manggut-manggut, sepertinya dia ingin berujar, "Memahami, memahami, apalah artinya kalau tidak bermakna bagi diri?" From: Seri Teladan Humor Sufistik: Kejujuran Membawa Sengsara

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.