Pages

2 September 2006

Renungan Indonesia 61

Jiwa yang bergolak bersimbah keringat. Belum habis menghitung untung dan menghitung rugi. Percepatan roda kehidupan tidak kenal dengan kompromi. Memang ada satu hal yang di dunia ini kita tidak mampu menahan lajunya. Ia berjalan penuh keteraturan dengan percepatan yang tetap. Hanya saja, kita sendirilah yang sering mengubah percepatannya karena kita menginginkan yang lebih. Waktu sebenarnya tidak berlebihan dan tidak berkekurangan. Dari dulu hingga sekarang satu hari satu malam adalah 2 x 12 jam, satu pekan 7 hari. Lalu mengapa ada yang bilang, “ah, waktu berjalan begitu cepat?” Bukan waktunya yang berjalan lebih cepat melainkan kita sendiri yang jalannya lambat, kawan.

Bumi yang semakin tua membuat jiwa dan raganya semakin rapuh. Tanah yang telah renta menjadi rentan akan getaran dan guncangan. Untuk itu sebagai perawatnya kita harus berhati-hati memperlakukannya. “The World Is Not Enough” mungkin paling pas untuk merujuk pada Nafsu manusia. Kita telah diberi karunia bumi seisinya, kita dapat bertindak sekehendak hati. Memang menjadi fitrah manusia yang diberi kelonggaran. Kelonggaran sekaligus kelebihan itu adalah adanya “pilihan” atau “nilai tengah”. Malaikat hanya mengerti cara bertaqwa dan mengikuti perintah Tuhan; syetan hanya mengerti bagaimana cara berbuat kerusakan. Maka dari itu, manusia sebenarnya adalah makhluk yang paling sempurna di dunia. Nilai tengah itulah yang membuat kita berandai-andai, ber-eksperimen macam-macam. Manusia dituntut kreatif, seperti pernyataan “Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang jika ia tidak berusaha”. Mengubah nasib? Ya, memang kalau manusia hanya diam maka ia hanya akan “Waiting For Godot”, seperti cerita Samuel Beckett itu.

Kreativitas yang kebablasan kali ya? Manusia ditambah satu lagi sifatnya, yaitu sering lupa (apa berlagak lupa, ya?). Maksudnya ingin menggunakan kekayaan yang terkandung di dalam perut bumi, tetapi yang terjadi malah penyalahgunaan. Dari Nagasaki, Hiroshima, lalu ke Chernobyl, kemudian ke Freeport. Lalu Datanglah Katrina, Tsunami, dan lain sebagainya. Apakah mereka itu jelmaan dari Sang Dajjal yang menakutkan itu? Engga tau yah. Peringatan tampaknya belum cukup ampuh menggertak jiwa insan yang bergolak. Masih saja eksperimen dilakukan demi “kemaslahatan umat”. Hah? Mulia sekali niatnya? Apakah benar-benar demikian?

Demi kemakmuran umat manusia? Umat manusia yang mana? Lalu itu, kampanye-kampanye di panggung politik negeri, gembar-gembor yang penuh tipu daya. Mereka kok ya tidak mikir gitu; padahal sudah diperingatkan lho. Mana ada bangunan yang terhitung canggih, memuat “tingkat keamanan nomor satu” dengan drainase yang selebar jalan utama desaku terkena banjir. Wah! Pertanda apakah ini, kawan? Apakah mereka kualat karena….ehehm…no comment dah..nanti dikira subyektif dan “mendoakan yang jelek” kan payah. (huusss! Prime memory ya Prof Iel Arianto? Hahaha…wakakakak!)

Kreativitas diwujudkan dalam pola berperilaku juga. Rasanya perancang busana sudah mulai kehilangan ide ya? Lha bagaimana tidak disebut demikian. Sekarang semakin banyak orang yang ogah-ogahan mengenakan pakaian lho. Mungkin rancangannya tidak cocok dengan badan sehingga tidak enak kalau dikenakan…kucingku yang di rumah saja selalu berpakaian kok, bahkan sekujur tubuhnya selalu berpakaian. Kok kalah dengan kucing ya? Hihihi. Mungkin para perancang busana itu masih “shock” gara-gara ditinggal salah seorang mentornya, Gianni Versace, secara tidak wajar.

Bumi berontak menandakan bumi juga berotak. Ia bergolak karena amarah yang terpendam sekian lama. Di dalamnya terkandung Hitler, Mussolini, Louis XIV, Nero dan lain sebagainya. Belum lagi ehm…maaf…kotoran kita. Waduh…duh…lha koq ironis sekali ya? Tempat di mana kita berpijak, hidup, makan, tidur, dan minum adalah di mana kita menyingkirkan barang-barang yang tidak kita sukai. Ini bersalah apa tidak sich? Wah, kalo yang ini tidak tahu deh. Pantas sekali bumi menjadi sakit. Duh, kasihan ya. Tuh kan, jadi menangis terus…di berbagai tempat genangan air mata bumi menjadi-jadi. Kasihan ya dia hidup sendirian, tidak punya pacar, tidak punya teman, tidak punya kekasih yang menyayanginya. (masih mendingan aku punya teman curhat yang setia…cieee!). Sementara sepasang manusia yang dimabuk asmara bermesraan di taman-taman di atasnya. Ah, lagi-lagi bekas bungkus eskrim, Dunkin’ Donut dan lain sebagainya ditinggal begitu saja. Sementara para pemimpin membekap bumi dengan lantai berkilau…ihh takut ada lumpur…ehh…tau-tau byuuurr….entah barang apa saja yang masuk ke Istana waktu itu. Hahaha…(jadi inget komentar kawan Moko nikh).

Bumiku sedang pilek, mudah-mudahan tidak sampai terkena “stroke”. Bersin-bersin terus sedari kemarin. Mungkin badannya merasa pegal-pegal. Mungkin juga stress mikirin kita yang tak kunjung memberi hadiah istimewa dengan prestasi yang cemerlang. Stress? Wah itu bisa bahaya. Darah tinggi dan “panasten”? bisa repot nikh. Nanti kalau dia sudah tidak sabar lagi pasti marah, hayoo, engga ikut-ikutan lho aku…hiii..ngeri banget deh pokoknya. Lari ke Stuttgart? Lha wong bumi cuma satu kok, ya pasti kena juga.
Nafas dihembus yang terasa panas melepuhkan sekujur kulit. Itu baru nafasnya. Jadi ingat “Dragon Heart” itu lho…hahaha…lucu dan konyol banget; sang Naga muda lagi belajar membuat api dari mulutnya…ternyata apinya keluar dari belakang. Broott! Rumah disekitar jadi hangus terbakar dech. Hahaha. Lucu banget pokoknya. (btw, nonton filemnya engga hayo?) Nah, nafas bumi itu lebih parah dari nafas sang Naga. Tanya saja sama mbah Sarto di daerah Jatinom Klaten sana…”Rasane pripun mbah*?” “Wah lha niki Nak, panas sedanten. Nggregesi tur perih sanget**.” Itu baru nafasnya doank lho, catat!

Republik ini benar-benar mawut. Se-mawut petingkah Wapres Kelik dan Presiden Savalas saja. “Ah gitu saja kok freeport…” Tapi engga usah dicekal deh. Karena yang mencekal lebih mawut dan semrawut. Biarkan menjadi bahan candaan. Lumayan kan daripada melihat paha mulus doang (bikin horny saja; trus gimana menyalurkannya? aku kan belum punya isteri. Hahaha)? Lebih aman kan daripada membayangkan hantu-hantu doank? Lebih mulia kan daripada mengusik urusan pribadi Glen Fredly, Roy Marten, Inul, dan sebagainya?

 
* Rasanya (kena awan panas) seperti apa, Kakek?
** Wah ya ini, Nak, panas semua sekujur tubuh. Rasanya meriang dan perih sekali.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.