Pages

2 September 2006

BEAUTY PAGEANT

Telah sekian lama Indonesia menyelenggarakan acara pemilihan Putri Indonesia. Bahkan penyelenggaraannya dimulai dengan seleksi tingkat daerah, untuk kemudian para pemenang yang lolos seleksi mewakili daerah tersebut. Penilaian dalam kontes Putri Indonesia mencakup keindahan luar dan dalam pada diri perempuan. Selain berwajah cantik, mereka dituntut untuk memiliki wawasan yang luas tentang pengetahuan umum. Kontestan juga dituntut untuk memiliki kepedulian sosial yang tinggi mengingat masing-masing akan menjadi semacam mediator dan juru bicara untuk mempromosikan potensi suatu tempat. Putri Indonesia menjadi sarana untuk menyaring duta bangsa di tingkat Internasional dalam acara-acara protokoler. Saat ini kontes semacam ini semakin semarak dengan hadirnya Miss Indonesia. Selain itu pada tingkat daerah terdapat kontes seperti Abang & None, Mas & Mbak, dan sebangsanya. Sangat menarik jika menonton sekumpulan perempuan cantik di televisi. Mereka memiliki performa bagus, wajah yang cantik, penampilan anggun, dan fisik yang proporsional antara berat badan dan tinggi badan.

Apakah hubungannya dengan judul di atas?: Pemilihan Putri Indonesia adalah bentuk diskriminasi. Benarkah bahwa unsur diskriminasi menghiasi pemilihan Putri Indonesia? Kita mulai dari akar keberadaan manusia sendiri. Manusia terlahir sebagai makhluk yang sejajar satu sama lain. Tuhan menciptakan manusia sesempurna mungkin dan memiliki hak yang sama untuk hidup, berkembang dalam sebuah harmoni. Misi dari Putri Indonesia adalah mulia, yakni untuk menampilkan kepribadian perempuan Indonesia yang cantik, cerdas, berwawasan luas, dan sanggup menjadi penguat reputasi bangsa. Akan tetapi, mengapa saya masih merasa ada ganjalan? Itu karena unsur kesetaraan belum terangkum. Tidak semua perempuan Indonesia memenuhi syarat untuk mendaftar sebagai kontestan. Padahal, ada juga perempuan yang memiliki kecerdasan tinggi, nasionalisme, dan sebagainya, yang karena keterbatasan tidak mampu, atau secara sadar merasa tidak mampu untuk mengikuti kontes.

Blunder yang dibuat oleh Tim Penilai Putri Indonesia ialah pengiriman Nadine Candrawinata ke Miss Universe. Dari segi wajah, Nadine bukan tipikal orang Indonesia. Ia lebih berat ke western-look. Apakah itu bukan sebuah pelecehan terhadap perempuan asli Indonesia? Alright, saya musti berhati-hati mengatakannya karena dapat dituduh sebagai ultranasionalis, rasis, atau chauvinis. Tetapi, pemilihan Nadine sendiri apakah bukan sebuah bentuk rasisme juga? Warna perbedaan lain ialah bagaimana kita mengamati sebagian besar peserta. Mereka berkulit putih, berwajah cantik dan maaf…jika ini terlalu vulgar, bentuk tubuhnya memang dipilih yang bagus-bagus. Kita ingin menjual potensi bangsa atau menjual diri?

Ada bagian masyarakat bangsa Indonesia ini yang belum tercakup di dalam kontestan Putri Indonesia. Katakanlah, native people Papua. Mereka memiliki ras yang berbeda, dengan warna kulit, wajah, dan bentuk tubuh yang berbeda. Sejauh ini belum ada peserta yang mewakili karakteristik fisik manusia Papua. Memalukan sekali bahwasanya pernah ada wakil provinsi tersebut lebih bertampang njawani. Hanya karena dia lahir di Papua? Diskriminasi semakin jelas terlihat. Selain itu menyinggung masalah hadiah yang berlimpah. Saya sebut sebagai,

“yang cantik semakin jaya, yang kalah cantik tak kunjung makmur.”

Mereka sudah cantik, sudah memiliki kesempatan untuk tampil di televisi, diberi hadiah yang besar lagi. Apakah ini bukan sebuah diskriminasi? Mau di kemanakan perempuan-perempuan yang tidak memenuhi syarat-syarat perlombaan? Seberapa besar penghargaan terhadap mereka? Perempuan Indonesia seharusnya memikirkan hal ini, ayo..please!

Kesimpulannya, Putri Indonesia, Miss Indonesia, dan sebagainya tak lebih dari ajang entertainment. Mereka tidak mencerminkan usaha yang tulus untuk mempromosikan potensi bangsa. Pageant Contest tak ubahnya Kontes Dangdut TPI, Akademi Fantasi Indonesia, Pildacil, dan sejenisnya. It is not an extraordinary project. Jika ada yang membantah bahwa bukan penampilan yang diutamakan, mengapa para pesertanya hampir mirip: berkulit putih, bertinggi badan di atas rata-rata perempuan Indonesia, berwajah cantik, dan bertubuh proporsional? Ketika pamflet “Jadilah Pusat Perhatian” disebar … pastinya sekelompok perempuan Indonesia yang merasa di luar ketentuan akan pikir-pikir dulu sebelum mendaftar. “Ah, aku engga cantik, kok. Mana bisa?”

Itu bukan Putri Indonesia, melainkan kontes kecantikan tingkat nasional. Cantik dalam persepsi umum. Sangat sulit untuk melakukan dekonstruksi pemikiran seperti ini karena telah melembaga dari generasi ke generasi. Sedangkan cerita Ken Arok sendiri menyebutkan bahwa Ken Arok tertarik oleh betis Ken Dedes yang berwarna putih mulus. Jadi, perempuan dibilang cantik apabila ia memiliki kriteria-kriteria (atau setidaknya satu kriteria) berikut ini: - berwajah cantik, berkulit putih, bertubuh indah (kelak kemudian ditambah dengan berambut lurus, mungkin?).

“Pantesan sekarang banyak yang rambutnya di-rebound”


 

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.