Pages

10 August 2006

Untuk H. N.

Tanggal 6 dan 9 Agustus mengingatkan kita kepada sebuah peristiwa besar yang tak mungkin dilupakan oleh sejarah. Enam puluh tahun yang lalu, tanggal 6 Agustus 1945 pukul 8.15 waktu setempat, sebuah bom atom dijatuhkan oleh pesawat militer AS di kota Hiroshima Jepang. Hanya dalam hitungan detik, kota itu berubah menjadi puing dan puluhan ribu orang tewas. Mereka yang selamat hanya bisa mengingat suara raungan pesawat militer AS, pancaran sinar yang sangat menyilaukan, suara dentuman dahsyat dan semburan api yang panas membakar kulit. Sebanyak 62 ribu orang tewas dalam tragedi di kota Hiroshima ini, sementara 69 ribu lainnya luka-luka.

Penghancuran kota dan pembantaian puluhan ribu rakyat sipil hanya dalam hitungan detik itu, kembali terulang pada tanggal 9 Agustus. Kali ini kota Nagasaki menjadi korban kedua kedahsyatan bom atom. Kecemasan dan kepanikan akibat serangan bom atom terhadap dua kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang itu, sedemikian besarnya sehingga mustahil terlupakan oleh sejarah. Konfederasi Korban Bom Atom Jepang dalam cacatannya menyebutkan bahwa 63 persen dari mereka yang menyaksikan kedahsyatan bom atom tidak akan pernah melupakan peristiwa besar ini.

Konfederasi Korban Bom Atom Jepang tahun ini menyelenggarakan sebuah konferensi internasional melawan senjata pembunuh massal dengan slogan ‘Kami Tak Menginginkan Hiroshima dan Nagasaki Baru’. Menurut penyelenggara, konferensi yang digelar di Tokyo ini bertujuan untuk mengenalkan generasi baru akan bahaya dan tragedi yang ditimbulkan oleh senjata atom, sehingga mereka akan meneruskan dan mendukung gerakan anti senjata pembunuh massal.

Kota Hiroshima dan Nagasaki adalah bukti sejarah mengenai kejamnya penggunaan senjata yang sangat mematikan itu. Akibat senjata pmbunuh massal, korban tewas bukan hanya para tentara yang bertugas membela tanah air mereka, melainkan juga perempuan dan anak-anak tak berdosa. Kini, kedua kota itu dipandang sebagai simbol perdamaian dan penentangan dunia terhadap perang dan penggunaan senjata nuklir. Di kota Hiroshima juga telah didirikan sebuah taman perdamaian dilengkapi monumen yang mengingatkan dunia akan peristiwa ledakan bom atom di kota itu. Pada bangunan monumen terlihat patung bocah kecil dengan tubuh hangus terbakar, juga patung seorang ibu dan anaknya. Monumen ini mengingatkan akan korban bom atom yang kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak.

Tak jauh dari monumen itu, dibuat pula puing-puing berbentuk kubah yang dikenal dengan nama kubah perdamaian. Kubah ini adalah simbol dari kehancuran kota Hiroshima akibat bom atom. Bangunan itu dibuat sedemikian rupa sehingga menyayat hati setiap orang yang melihatnya. Setiap tahunnya, tanggal 6 Agustus, di kota Hiroshima diadakan upacara mengenang peristiwa yang terjadi 60 tahun lalu itu. Mereka yang hadir mengenang kembali para korban seraya meneriakkan slogan-slogan perdamaian dan penentangan terhadap penggunaan senjata atom.

Sayangnya, jeritan hati itu tidak didengar oleh negara-negara super power terutama AS, yang masih memikirkan untuk menambah jumlah bom-bom nuklir di gudang-gudang senjatanya. Meski tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya negara yang menggunakan senjata atom, AS tidak mengindahkan jeritan rakyat Jepang yang menuntut kedamaian dan perdamaian. Keamanan dunia semakin terancam dengan keputusan AS untuk tetap memproduksi generasi baru bom nuklir mini.

Tanggal 6 Agustus tahun 2003 ketika dunia memperingati peristiwa ledakan bom atom di Hiroshima Jepang, sebanyak 150 jenderal, perwira tinggi militer dan pakar nuklir AS berkumpul untuk mengadakan pertemuan rahasia di sebuah pangkalan udara di negara bagian Nebraska, Amerika Serikat. Pertemuan itu dimaksudkan untuk menyusun kebijakan dan strategi baru negara adidaya ini dalam masalah nuklir. Dalam pertemuan itu dibahas langkah-langkah AS untuk menggunakan senjata nuklir taktis sebagai ganti senjata konvensional.

Dalam sebuah dokumen yang diserahkan Pentagon kepada Kongres AS tahun 2003 disebutkan bahwa pemerintah AS berhak menggunakan senjata destruksi massal untuk menggempur tujuh negara. Menurut para pengamat, ambisi pemerintah George W. Bush untuk menggunakan senjata atom dalam medan peperangan dan rencana AS untuk menyerang sejumlah negara yang tidak memiliki kekuatan nuklir atau menumpas gerakan yang dicap sebagai kelompok teroris, telah menciptakan ancaman besar bagi keamanan dan perdamaian dunia.

Para ahli menilai perubahan kebijakan AS dalam masalah nuklir dan ambisi negara ini untuk memproduksi senjata nuklir generasi baru yang diberi nama bom nuklir miniatur dengan kekuatan 5 ribu kilo TNT itu, sebagai sebuah pelanggaran nyata terhadap traktat NPT. Sebagaimana diketahui, traktat non proliferasi nuklir NPT ditandatangani tahun 1970, menyusul munculnya kekhawatiran dunia akan kemungkinan meletusnya perang nuklir antara dua kutub kekuatan saat itu. Sayangnya, NPT selalu dilanggar oleh negara-negara pemilik senjata nuklir, khususnya AS, sehingga konvensi ini terasa tidak efektif.

Bukan hanya oleh masyarakat dunia, Pemerintah Bush saat ini juga dituduh oleh berbagai kalangan di dalam negerinya sebagai pelanggar nyata berbagai perjanjian internasional khususnya NPT. Sejak naik ke kursi kepresidenan, Bush merasa tidak terikat sama sekali dengan berbagai ketentuan dan perjanjian internasional, selain juga terus melakukan intervensi dalam urusan internal berbagai negara. Sepak terjang Bush dan timnya ini, mengancam keamanan dan ketenangan dunia.

Menurut para pengamat politik, apa yang dilakukan pemerintah Bush membuktikan bahwa kelompok neo konservatif yang berkuasa di Gedung Putih saat ini mengekor kepada kebijakan para penguasa AS di era 1945-an yang melahirkan kebijakan untuk menjatuhkan bom atom ke kota Hiroshima dan Nagasaki. Pernyataan sejumlah senator AS yang mengatakan bahwa AS siap menggempur tempat-tempat suci umat Islam termasuk kota Mekah dan Kabah, selain menunjukkan kepongahan mereka, juga membuktikan ketidakamanan yang melanda dunia.

Masyarakat internasional khawatir, sikap gila kekuasaan yang menguasai para pemimpin AS akan mengantarkan dunia ke kondisi yang menyerupai akhir Perang Dunia Kedua, saat dua bom atom meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Untuk itulah, masyarakat dunia bersama rakyat Jepang secara serentak meneriakkan slogan penghapusan senjata pembunuh massal dan menuntut pengambilan tindakan konkrit yang dapat menjamin perlucutan senjata mematikan ini. Dalam hal ini, Walikota Hiroshima yang mewakili lebih dari seribu walikota dari berbagai penjuru dunia mengusulkan penyusunan sebuah konvensi senjata atom, paling lambat sampai tahun 2010 dan penghapusan senjata nuklir di dunia paling lambat hingga tahun 2020 mendatang.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.