Pages

29 August 2006

Universitas Frankfurt

Sejak 25 tahun terdapat jurusan Ilmu Asia Tenggara di Universitas Frankfurt. Nama jurusan ini sangat erat dengan nama Professor Dr. Bernd Nothofer. Profesor Bernd Nothofer mengajar sejak berdirinya jurusan ini. Ilmuwan bahasa berusia 65 tahun ini dikenal sebagai salah satu ahli bahasa Indonesia dan literatur di Jerman. Contoh buku terbitan Nothofer adalah buku pelajaran „Bahasa Indonesia - Indonesisch für Deutsche“ yang menjadi buku panduan dalam les berbahasa Indonesia di Jerman. Nothofer adalah seorang murid dari Irene Hilgers-Hesse. Irene ialah seorang ahli bahasa Jerman Indonesia terkenal di tahun 50 dan 60an. Ketika Irene pensiun di tahun 1973, Nothofer mengganti posisi Irine sebagai pakar filologi indonesia di Universitas Koeln. Di tahun 1981 Nothofer membuka jurusan Ilmu Asia tenggara di Universitas Frankfurt. Dosen universitas Frankfurt ini menceritakan: Bernd Nothofer : "Pada waktu itu jumlah mahasiswa sangat terbatas sebenarnya hanya ada satu, dua orang yang ingin mempelajari jurusan Asia Tenggara, karena sebelumnya ini terbatas pada jurusan studi Jepang dan studi Asia tenggara pada waktu itu belum ada. Artinya saya semacam pelopor pada waktu itu dengan membuka jurusan studi Asia Tenggara di Frankfurt." Saat ini di jurusan Asia tenggara saling kenal satu sama lain. Dosen dan mahasiswa berhubungan sangat akrab. Jika di bandingkan dengan saat dibukanya jurusan sangatlah berbeda. Sekarang lebih dari 100 mahasiswa yang kuliah di jurusan Ilmu Asia Tenggara di Frankfurt. Titik berat dalam kuliah sembilan semester ini adalah penguasaan bahasa melayu dan polinesia. Bahasa Indonesia dengan variasi bahasa melayunya dipakai oleh 250 juta orang dan merupakan salah satu bahasa yang banyak digunakan di dunia. Bukan hanya bahasa Indonesia saja yang ditekuni oleh Nothofer, bahasa-bahasa daerah dan dialek menjadi pusat penelitian Nohofer. Setelah penelitian di Indonesia yang bertahun-tahun, dia masih terkesan akan penelitiannya di tahun 70an. Dulu Nothofer menyelidiki berbagai dialek di 160 desa di pulau jawa. Kontak dengan orang-orang dan daerah merupakan hal yang sangat penting bagi Nothofer. Dia juga menegaskan kepada siswanya agar tidak hanya berdiam di universitas saja, tapi juga dengan tinggal di Asia Tenggara untuk memperdalam pandangannya. Dalam masa pengajarannya di 25 tahun kebelakang ini politik negara-negara di Asia Tenggara banyak berubah. Dan tentu saja mempengaruhi kurikulum yang diajarakan di Frankfurt . Bernd Nothofer : "Pada awal kita mengutamakan Linguistik dan penelitian bahasa tetapi sesudah perubahan politik seperti yang terjadi pada tahun 1998 ada banyak perubahan artinya kita mulai meneliti politik modern juga, terutama otonomi daerah karena itu sangat menarik karena otonomi daerah itu juga mempengaruhi pemakaian bahasa. Sebenarnya ada ikatan antara politik dan bahasa dan ini merupakan titik berat yang baru." Bukan hanya bahasa Indonesia dan literatur saja yang ingin Nothofer sampaikan, melainkan juga cara bertatak rama, politik dan agama berada di dalam jadwal pelajaran ilmu Asia tenggara. Banyaknya segi yang dapat dipelajari di bidang studi inilah yang menarik bagi para mahasiswa untuk kuliah studi Asia Tenggara di Frankfurt. Banyak dari mereka sangat terkesan ketika perjalanannya melalui Asia Tenggara dan Indonesia, hingga mereka ingin terus menekuni pengetahuan tantang daerah ini. Yang lain merupakan peranakan pasangan Indonesia-Jerman. Salah satunya adalah Sita Zimpel, yang baru saja lulus ujian magister dengan nilai yang bagus dalam politik masa kini, bahasa dan literatur Indonesia. Gadis berusia 27 tahun ini beribu Indonesia dan berayah Jerman. Dia mengahabiskan masa kecilnya di Jakarta, ketika sang ayah bekerja sebagai Kamar Dagang dan Industri Jerman-Indonesia Ekonid. Sita pergi ke Jerman ketika berumur sembilan tahun. Kemampuan berbahasa Indonesianya mulai hilang. Kepolosan keponakannya yang masih berusia tiga tahun membawa Sita untuk menekuni kembali bahasa dan kultur ibunya. Sita Zimpel : "Waktu saya masih di sekolah kami seringkali ke Indonesia, tapi hanya untuk liburan. Pada waktu itu saya ketemu dengan keluarga sepupu saya yang waktu itu baru umur tiga tahun. Dan dia bertanya kepada saya kenapa Bahasa Indonesia saya kaku banget jadi dia lebih lancar dan pintar Bahasa Indonesia. Waktu itu saya sangat malu dengar itu jadi setelah luslus SMA saya mengambil keputusan untuk mengambil bahasa dan sastra Asia Tenggara." Walau pun Sita belum tahu pasti pekerjaan apa yang ia kerjakan nanti, dengan bersenjatakan Magister dalam Ilmu Asia Tenggara jalan terbuka lebar untuk Sita. Profesor Sita, Bernd Nothofer menceritakan dengan bangga dimana lulusan jurusan Ilmu Asia Tenggara sekarang bekerja. Satu bekerja sebagai staf ahli perdana mentri di Kamboja. Yang lain bekerja sebagai wakil komisi Uni Eropa di Jakarta. Ketiga bekerja untuk institusi bantuan pembangunan Amerika USAID di Indonesia. Di bidang bantuan perkembangan dan ekonomi merupakan lahan kerja yang sangat penting bagi Nothofer. Oleh karena itu Nothofer menyarankan pada siswanya agar memilih jurusan sampingan yang bersangkutan dengan hal tersebut. Disamping itu mengumpulkan pengalaman praktik selama kuliah juga merupakan faktor yang penting. Contohnya Sita telah menyelesaikan praktikumnya di EKONID. Untuk itu Sita telah mempersiapkan diri dari kuliahnya di Frankfurt, ujar Sita: Sita Zimpel : "Selain bahasa saya juga dapat guna karena sudah tahu sedikit bagaimana pikiran orang Indonesia dalam bidang kerjaan, dan bagaimana keadaan politik dan sosial di Indonesia. Waktu saya ambil praktek di Ekonid saya sudah ada sedikit pengalaman." Mahasiswa juga mengumpulkan pengalamannya selama pertukaran pelajar di Indonesia. Saat ini setiap semesternya, satu atau dua mahasiswa yang kuliah di universitas indonesia. Universitas Frankfurt telah menjalin kerja sama dengan UGM sejak tahun 90an. Tidak hanya mahasiswa dari Frankfurt saja yang berangkat ke Yogya untuk kulah disana, juga mahasiswa UGM dapat kuliah di universitas Frankfurt. Profesor Nothofer sering diungang sebagai dosen tamu di UGM dan membimbing calon doktor. Rekan kerja penting ilmu Asia Tenggara di Frankfurt juga Pusat Bahasa Nasional di Jakarta. Di awal tahun 2007 Profesor Nothofer harus pensiun. Hal itu sangat disayangkan oleh para mahasiswanya. Universitas Frankfurt kemudian ingin menutup jurusan Ilmu Asia Tenggara. Ini sangat disesalkan. Itu bukan hanya kerugian bagi universitas saja melainkan juga bagi kota Frankfurt. Sita Zimpel : " Kami yakin bahwa ahli bahasa dan kebudayaan yang ada di universitas kami di dalam bidang sastra dan ilmu Asia tenggara sangat penting dalam era global ini apalagi di kota Frankfurt yang sangat multikulturell juga. Kami ada banyak hubungan dengan museum atau institusi kebudayaan di Frankfurt, apalagi di luar negeri. " Para mahasiswa memberi respon akan ditutupnya jurusan Ilmu Asia Tenggara. Mereka menulis surat protes kepada mentri pendidikan, mengumpulkan 1000 tanda tangan dan juga menulis artikel di koran. Juga institut Ilmu Asia Tenggara dan institusi partner di Indonesia mengirimkan surat dukungan ke Frankfurt. Pada akhirnya para mahasiswa mencapai tujuan mereka. Jurusan Ilmu Asia Tenggara tidak akan ditutup. Untuk Profesor Nothofer berarti kerja kembali. Jika belum ditemukan penggantinya, dia harus mengajar setahun lebih lama dari yang di rencanakan. Dan akan pensiun di tahun 2008. Dengan senang hati Profesor ini melanjutkan kerjanya, karena selama seumur hidupnya dia telah menekuni Indonesia. Bernd Nothofer : "Karena pada pemulaan studi saya saya sudah turun ke lapangan artinya saya pergi ke Indonesia, saya melihat kampong di Indonesia, saya melihat kehidupan desa, saya hidup dengan orang tani, artinya sejak awal studi saya sampai sekarang saya sudah tahu tentang apa yang sedang terjadi di negara yang berkembang. Dan tujuan utama saya ialah menyampaikan hal seperti itu ke pada mahasiswa saya.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.