Pages

9 August 2006

Semoga Hanya Sunyi

Berjalan di tengah keramaian tetaplah dengan kepala menunduk. Mungkin karena malu, atau mungkin karena leher telah terlalu berat mendongak. Menyeruak kerumunan penuh dengan gelak tawa. Tawa siapakah itu? Semua orang berseru dan berlalu. Bersentuhan satu sama lain tiada terasa lagi, bagaikan kulit setebal tembok baja yang tahan peluru. Melangkah gontai namun mencoba tegar. Kerumunan makin ramai dengan hadirnya keriangan di setiap sudut ruangan. Tangga ke atas kulalui dengan pandangan kosong. Sebenarnya tidaklah kosong begitu saja, melainkan telah penuh dengan pemandangan hingga tak dapat melihat lagi mana yang harus kulihat. Dalam gaduh kucari lorong yang sunyi. Karena di situ kurasakan hingar-bingar yang sesungguhnya. Berhadap tembok yang kaku membisu, bersandar dinding yang dingin membeku. Nafas terengah jiwa yang lelah. Sandarkan diri pertanda capai. Di tengah lorong menggapai sinar walau setitik ingin kuraih. Karena di luar telah begitu sesak oleh nuansa yang tak sebenarnya. Kesejatian itu seakan sirna tenggalam oleh sebuah asa yang mengharap cemas. Dadaku gemuruh antara kesal dan amarah, antara derita dan mimpi durjana. Kusebut sebaris kata pengingat karena itu yang harus kulakukan. Sebuah pengingat permohonan. Nafas ini masih bersemayam dalam diri, darah masih mengalir deras bagaikan sungai penampung hujan, pengelak banjir dan penyangga kehidupan. Setidaknya isi dalam tempurung kepala masih berjalan sesuai arah. Ketika waktu berlalu akupun beranjak pergi dari lorong itu. Kembali aku lewati gaduh yang bergemuruh. Pandangan bingung membuat mata terpejam, karena terpecah oleh warna-warni yang menyilaukan. Tiga ratus langkah haruslah ditempuh menuju haribaan melepas lelah. Mengapa semakin rama di sekitarku? Sedangkan diriku seakan tuli? Mengapa semakin berwarna di sekelilingku? Sedangkan mataku semakin buta? Ketika menuju sebuah tenda, sang langit berseru akan sesuatu. Setitik demi setitik air membasahi atap tenda. Dan akhirnya, bergalon-galon air mengguyurnya tanpa ampun. Kali inipun keramaian menggema di seputar tenda. Saat lentera terombang-ambing oleh tiupan angin, dengan memelas ia menyerah. Gelap, kelam, gulita dan menyeramkan. Basah di mana-mana hanya tenda itu yang aku punya. Saat malam semakin uzur, bertemulah diriku dengan kesejatian, kesesuaian antara yang kurasa di dalam dan di luar. Di lingkungan panca indera hingga batas indera ke enam. Sampai kapan kesejatian itu menjadi nyata? Bukan sekedar kiasan atau istilah hitam di atas putih?

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.