Pages

29 August 2006

Jam Biologis

Setiap orang memiliki jam biologis atau mekanisme pengaturan waktu internal dalam tubuh yang bekerja secara otomatis. Ada orang yang selalu bangun pagi. Pukul enam pagi mereka sudah tidak betah lagi berada di tempat tidur. Dan begitu bangun mereka mampu bekerja dengan penuh konsentrasi. Tetapi, ada juga orang yang selalu begadang. Mereka secara naluri tidak dapat tidur sebelum larut malam. Kalau bangun terlalu pagi, mereka cepat marah dan tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja. Apa yang menyebabkan perbedaan itu? Pasalnya: setiap orang memiliki jam biologis atau mekanisme pengaturan waktu internal dalam tubuh yang bekerja secara otomatis. Jam ini sudah terprogram secara genetis dan menentukan kapan waktunya kita bangun dan kapan kita tidur. Dalam Forum Ilmu Pengetahuan „Euroscience Open Forum“ ESOF di München, Jerman, para peneliti mendiskusikan pengetahuan aktual yang hasilnya terutama dapat membuat orang yang suka tidur lama, merasa senang. Till Roenneberg adalah professor di Institut Psikologi Kedokteran Universitas München. Ia peneliti soal jam biologis. Till Roenneberg: „Jam internal itu seperti jam betulan. Kenapa kita memerlukan sebuah jam? Karena kita ingin tahu kapan kita harus berangkat, supaya misalnya tidak ketinggalan kereta api. Jam internal atau jam biologis mempunyai fungsi yang sama. Jam itu ingin mengetahui: Apakah saya sekarang harus meningkatkan temperatur atau hormon supaya saya bisa bangun dalam waktu dua jam nanti.“ Jam internal yang dibicarakannya itu adalah reaksi proses evolusi terhadap pergantian dari malam ke siang hari. Jam itu terprogram dalam gen dan mengatur kapan kita bangun dan kapan kita tidur. Dan setiap orang memiliki jam biologis tersendiri yang berbeda satu sama lain. Tetapi jam biologis tidak selalu sam berdetak. Ini tergantung dengan umur. Anak kecil biasanya bangun pagi sekali. Orang tuanya acap kali kerepotan oleh karena itu. Kemudian mereka tumbuh besar dan jam biologisnya semakin bergeser ke belakang dan pada usia remaja, pergerseran ini mencapai titiknya yang terakhir. Mulai usia 20 tahun jam itu kembali berangsur- angsur bergerak ke depan lagi. Ini berarti: kaum remaja dapat diibaratkan seperti burung hantu dan pensiunan sebagai burung Lerche. Namun untuk semuanya yang berlaku adalah: Jika hidup melawan jam biologis, misalnya karena setiap harinya bangun jam enam pagi karena wekernya berdering, maka badan akan mengalami stress. Para pakar seperti Till Roenneberg menyebut gejala tersebut „social jetlag“. Till Roenneberg: „Kalau jam biologis saya dua atau tiga jam lebih lambat dari waktu sebenarnya yang harus saya jalani, bagi ini berarti seolah-seolah saya bekerja di Moskow tetapi tinggal di München. Ini adalah jetlag sosial.“ Pindah ke zona waktu yang lain tidak ada gunanya sama sekali: Pasalnya, di tempat yang baru, jam biologis kita akan segera menyesuaikan diri dengan keadaan setempat. Maksudnya: Siapa yang di Jerman selalu bangun pagi, maka orang itu juga akan tetap bangun pagi, baik di Tokyo maupun di New York. Namun, dampak apa yang akan muncul jika hidup melawan jam biologisnya? Till Roennenberg menuturkan sesuatu yang menarik: Till Roenneberg: „Yang sangat menarik adalah temuan bahwa yang bersangkutan rentan menjadi perokok. Makin besar jetlag sosial yang diderita, maka makin besar kemungkinan orang itu menjadi perokok atau tetap menjadi perokok dan tidak akan meninggalkan kebiasaan itu. Yang menakjubkan dalam hasil studi itu adalah korelasi yang luar biasa dengan jetleg sosial. 60 persen dari kelompok yang menderita jetleg sosial selama empat jam atau lebih, adalah perokok. Sedangkan hanya sepuluh persen dari kelompok yang tidak menderita jetlag sosial merupakan perokok.“ Berbagai penelitian saat ini mengharapkan dapat mengungkapkan pertanyaan, apakah penyakit-penyakit lainnya berhubungan dengan jetlag sosial, misalnya keluhan peredaran darah dalam jantung atau penyakit kanker. Apakah ke depan kita sebaiknya secara patuh mengikuti ritme jam biologis tanpa pengecualian-pengecualian kecil? Till Roenneberg: “Saya cenderung mengatakan, tenggang satu jam masih bisa ditolerir. Tetapi anda harus membayangkan bahwa 50 persen dari penduduk terpaksa harus mengubah atau menjembatani dua jam atau lebih antara jam biologis dan jam sebenarnya. Dalam jangka panjang, tak seorang pun dapat bertahan dalam kondisi semacam itu. Banyak orang yang kurang tidur pada hari kerja. Katakanlah, mereka kurang tidur setengah jam daripada yang semestinya. Dan jumlah ini menumpuk menjadí suatu jumlah yang luar biasa.“ Jadi, apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya? Apa yang dianjurkan para pakar? Pertama: Berikanlah lebih banyak cahaya masuk ke ruangan anda. Demikian saran dari Till Roenneberg. Till Roenneberg: „Kenyataan bahwa banyak orang yang hidup dengan jam biologis yang bedanya mencapai 12 jam , disebabkan karena kebanyakan kurang melihat cahaya atau sinar terang. Bagi jam biologis, kurang cahaya membawa dampak, tipe bangun pagi akan bangun lebih pagi lagi. Dan tipe yang bangun siang akan bangun lebih siang. Oleh karena itulah terdapat senjang yang besar antara kedua kelompok dalam masyarakat kita.“ Kedua: Tidak ada lagi mesin pencatat waktu kerja yang ketat dan lonceng istirahat, melainkan waktu kerja yang sesuai dengan jam biologis kita. Till Roenneberg: „Menyesuaikan jam kerja dengan jam biologis merupakan suatu langkah raksasa menjauhi jetlag sosial untuk menuju peningkatan produktivitas dalam masyarakat kita.“ Oleh sebab itu, kaum remaja usia 14 tahun disarankan untuk pergi ke sekolah mulai jam sembilan pagi dan tidak pada jam delapan pagi seperti saat ini. Saran para pakar yang tampaknya akan membuat hati kaum remaja berbunga-bunga.

Universitas Frankfurt, Prodi Asia Tenggara, dan Prof. Nothofer

Sejak 25 tahun terdapat Program Studi Ilmu Asia Tenggara di Universitas Frankfurt. Nama jurusan ini sangat erat dengan nama Professor Dr. Bernd Nothofer. Prof. Nothofer mengajar sejak berdirinya program studi ini. Ilmuwan bahasa berusia 65 tahun ini dikenal sebagai salah satu ahli bahasa Indonesia dan literatur di Jerman. Contoh buku terbitan Nothofer adalah buku pelajaran „Bahasa Indonesia - Indonesisch für Deutsche“ yang menjadi buku panduan dalam les berbahasa Indonesia di Jerman. 

Bernd Nothofer adalah seorang murid dari Irene Hilgers-Hesse. Irene ialah seorang ahli bahasa Jerman Indonesia terkenal pada era 1950an-1960an. Ketika Irene pensiun di tahun 1973, Nothofer mengganti posisi Irine sebagai pakar Filologi Bahasa Indonesia di Universitas Koeln. Pada tahun 1981 Nothofer membuka Program Studi Ilmu Asia tenggara di Universitas Frankfurt. 

Berikut ini adalah cerita dari Prof. Nothofer terkait gagasan di atas: 

"Pada waktu itu jumlah mahasiswa sangat terbatas sebenarnya hanya ada satu, dua orang yang ingin mempelajari jurusan Asia Tenggara, karena sebelumnya ini terbatas pada jurusan studi Jepang dan studi Asia tenggara pada waktu itu belum ada. Artinya saya semacam pelopor pada waktu itu dengan membuka jurusan studi Asia Tenggara di Frankfurt.

Saat ini di jurusan Asia Tenggara saling kenal satu sama lain. Dosen dan mahasiswa berhubungan sangat akrab. Jika di bandingkan dengan saat dibukanya jurusan sangatlah berbeda. Sekarang lebih dari 100 mahasiswa yang kuliah di jurusan Ilmu Asia Tenggara di Frankfurt. Titik berat dalam kuliah sembilan semester ini adalah penguasaan bahasa melayu dan polinesia. Bahasa Indonesia dengan variasi bahasa Melayunya dijadikan alat komunikasi oleh 250 juta orang dan merupakan salah satu bahasa yang banyak digunakan di dunia. 

Bukan hanya bahasa Indonesia saja yang ditekuni oleh Prof. Nothofer, bahasa-bahasa daerah dan dialek menjadi pusat penelitian Prof. Nothofer. Setelah penelitian di Indonesia yang bertahun-tahun, dia masih terkesan akan penelitiannya pada dekade 1970an. Kala itu  Prof. Nothofer menyelidiki berbagai dialek di 160 desa di Pulau Jawa. 

Kontak dengan orang-orang dan daerah merupakan hal yang sangat penting baginya. Dia juga menegaskan kepada siswanya agar tidak hanya berdiam di universitas saja, tapi juga dengan tinggal di Asia Tenggara untuk memperdalam pandangannya. Dalam masa pengajarannya selama kurun waktu 25 tahun terakhir ini politik negara-negara di Asia Tenggara telah banyak berubah-- dan tentu saja mempengaruhi kurikulum yang diajarakan di Frankfurt. 

Menyikapi perkembangan tersebut Prof. Nothofer menyatakan,

"Pada awal kita mengutamakan Linguistik dan penelitian bahasa tetapi sesudah perubahan politik seperti yang terjadi pada tahun 1998 ada banyak perubahan artinya kita mulai meneliti politik modern juga, terutama otonomi daerah karena itu sangat menarik karena otonomi daerah itu juga mempengaruhi pemakaian bahasa. Sebenarnya ada ikatan antara politik dan bahasa dan ini merupakan titik berat yang baru." 

Bukan hanya bahasa Indonesia dan literatur saja yang ingin Prof. Nothofer sampaikan, melainkan juga cara bertatak rama, politik dan agama berada di dalam jadwal kuliah Ilmu Asia Tenggara. Banyaknya segi yang dapat dipelajari di bidang studi inilah yang menarik bagi para mahasiswa untuk kuliah studi Asia Tenggara di Frankfurt. Banyak dari mereka sangat terkesan ketika perjalanannya melalui Asia Tenggara dan Indonesia, hingga mereka ingin terus menekuni pengetahuan tantang daerah ini. Terdapat pula sejumlah mahasiswa yang merupakan anak dari pasangan Indonesia-Jerman. Salah satunya adalah Sita Zimpel, yang baru saja lulus ujian magister dengan nilai yang bagus dalam politik masa kini, bahasa dan literatur Indonesia. Gadis berusia 27 tahun ini beribu Indonesia dan berayah Jerman. Dia mengahabiskan masa kecilnya di Jakarta, ketika sang ayah bekerja sebagai Kamar Dagang dan Industri Jerman-Indonesia Ekonid. Sita pergi ke Jerman ketika berumur sembilan tahun. Kemampuan berbahasa Indonesianya mulai hilang. 

Kepolosan keponakannya yang masih berusia tiga tahun membawa Sita untuk menekuni kembali bahasa dan kultur ibunya. Sita menceritakan,

"Waktu saya masih di sekolah kami seringkali ke Indonesia, tapi hanya untuk liburan. Pada waktu itu saya ketemu dengan keluarga sepupu saya yang waktu itu baru umur tiga tahun. Dan dia bertanya kepada saya kenapa Bahasa Indonesia saya kaku banget jadi dia lebih lancar dan pintar Bahasa Indonesia. Waktu itu saya sangat malu dengar itu jadi setelah luslus SMA saya mengambil keputusan untuk mengambil bahasa dan sastra Asia Tenggara." 

Walau pun Sita belum tahu pasti pekerjaan apa yang ia kerjakan nanti, dengan bersenjatakan Magister dalam Ilmu Asia Tenggara jalan terbuka lebar untuk Sita. Prof. Nothofer menceritakan dengan bangga di mana lulusan Ilmu Asia Tenggara sekarang bekerja. Satu bekerja sebagai staf ahli perdana mentri di Kamboja. Lulusan yang lain bekerja sebagai wakil komisi Uni Eropa di Jakarta. Lulusan yang lainnya lagi bekerja untuk institusi bantuan pembangunan Amerika USAID di Indonesia. 

Bidang Asistensi pembangunan dan ekonomi merupakan lahan kerja yang sangat penting bagi Prof. Nothofer. Oleh karena itu ia menyarankan pada siswanya agar memilih jurusan sampingan yang bersangkutan dengan hal tersebut. Di samping itu mengumpulkan pengalaman praktik selama kuliah juga merupakan faktor yang penting. Contohnya, Sita telah menyelesaikan praktikumnya di EKONID. Untuk itu Sita telah mempersiapkan diri dari kuliahnya di Frankfurt, ujar Sita,

"Selain bahasa saya juga dapat guna karena sudah tahu sedikit bagaimana pikiran orang Indonesia dalam bidang kerjaan, dan bagaimana keadaan politik dan sosial di Indonesia. Waktu saya ambil praktek di Ekonid saya sudah ada sedikit pengalaman.

Mahasiswa juga mengumpulkan pengalamannya selama pertukaran pelajar di Indonesia. Saat ini setiap semesternya, satu atau dua mahasiswa yang kuliah di universitas indonesia. Universitas Frankfurt telah menjalin kerja sama dengan UGM sejak tahun 90an. Tidak hanya mahasiswa dari Frankfurt saja yang berangkat ke Yogya untuk kulah disana, juga mahasiswa Universitas Gajah Mada dapat kuliah di universitas Frankfurt. Prof. Nothofer sering diundang sebagai Dosen Tamu di UGM dan membimbing calon doktor. Rekan kerja penting Ilmu Asia Tenggara di Frankfurt juga Pusat Bahasa Nasional di Jakarta. 

Pada awal tahun 2007 Prof. Nothofer memasuki masa pensiun. Hal itu sangat disayangkan oleh para mahasiswanya. Universitas Frankfurt kemudian ingin menutup jurusan Ilmu Asia Tenggara. Ini sangat disesalkan. Itu bukan hanya kerugian bagi universitas saja melainkan juga bagi kota Frankfurt.   Seperti pernyataan Sita,

"Kami yakin bahwa ahli bahasa dan kebudayaan yang ada di universitas kami di dalam bidang sastra dan ilmu Asia tenggara sangat penting dalam era global ini apalagi di kota Frankfurt yang sangat multikulturell juga. Kami ada banyak hubungan dengan museum atau institusi kebudayaan di Frankfurt, apalagi di luar negeri." 

Para mahasiswa memberi respon akan ditutupnya jurusan Ilmu Asia Tenggara. Mereka menulis surat protes kepada mentri pendidikan, mengumpulkan 1000 tanda tangan dan juga menulis artikel di koran. Juga institut Ilmu Asia Tenggara dan institusi partner di Indonesia mengirimkan surat dukungan ke Frankfurt. Pada akhirnya para mahasiswa mencapai tujuan mereka. Jurusan Ilmu Asia Tenggara tidak akan ditutup. Untuk Prof. Nothofer berarti kerja kembali. Jika belum ditemukan penggantinya, dia harus mengajar setahun lebih lama dari yang di rencanakan. Dan akan pensiun di tahun 2008. Dengan senang hati Profesor ini melanjutkan kerjanya, karena selama seumur hidupnya dia telah menekuni Indonesia. Prof. Nothofer,

"Karena pada pemulaan studi saya saya sudah turun ke lapangan artinya saya pergi ke Indonesia, saya melihat kampong di Indonesia, saya melihat kehidupan desa, saya hidup dengan orang tani, artinya sejak awal studi saya sampai sekarang saya sudah tahu tentang apa yang sedang terjadi di negara yang berkembang. Dan tujuan utama saya ialah menyampaikan hal seperti itu ke pada mahasiswa saya."

25 August 2006

Filologi Bahasa Indonesia di Universitas Koln, Jerman

Lebih dari 50 tahun sudah Universitas Köln menjalin hubungan dengan Indonesia. Program Studi Ilmu Bahasa Melayu atau Filologi Indonesia diselenggarakan di perguruan tinggi tersebut.

Beberapa ahli bahasa dan budaya Indonesia terkenal di Jerman menempuh studi di Universitas Köln. Saat ini mereka telah menjadi tenaga pengajar untuk bidang studi itu. Bidang studi Bahasa Melayu atau Filologi Indonesia Universitas Köln patut berterima kasih pada Irene Hilgers-Hesse. Dirinyalah yang pertama kali di tahun 1953 mengajarkan bahasa Melayu di Köln. Hilgers-Hesse kemudian menjadi pendiri bidang studi Bahasa Melayu di Universitas Köln dan pelopor hubungan Indonesia-Jerman. Pada tahun 1950 Hilgers-Hesse membentuk „Deutsche-Indonesische Gesellschaft“ atau Perhimpunan Jerman-Indonesia dan menjadi ketuanya selama 40 tahun. Kamus bahasa Jerman-Indonesia pertama juga ditulis Helgers-Hesse di tahun 1962, bersamaan dengan pembentukan bidang studi Bahasa Melayu di Universitas Köln. Profesor Peter Wilhem Pink, yang sebelumnya adalah dosen di Hamburg, menjadi kepala jurusan Bahasa Melayu di Universitas Köln pada 1994. 

Setelah Profesor Pink pensiun, Profesor Doktor Edwin Wieringa menggantikan posisi sebagai kepala bidang studi bahasa dan sastra Indonesia. Profesor Wieringa sebelumnya mengajar di Universitas Leiden Belanda. Profesor berusia 42 tahun ini menjelaskan alasan dia pindah ke Köln. Edwin Wieringa: 

"Di Leiden saya hanya bisa meneliti dan mengajar tentang beberapa topik saja. Di Köln ada kemungkinan untuk mewakili bidang studi itu seluas-luas mungkin. Saya bisa memberi kuliah tentang Jawa Kuno, tentang Bahasa Melayu Klasik, tentang Bahasa Indonesia dari sisi ilmu Bahasa, juga tentang sastra Indonesia mutakhir." 

Di Universitas Köln, bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia memiliki cabang konsentrasi „Filologi Indonesia – dengan titik berat pengaruh budaya Islam“. Menurut Profesor Wieringa, pengaruh agama dalam sastra di Nusantara sangat kuat. Di Indonesia dan Malaysia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, agama merupakan inspirasi utama sastra. Beberapa mata kuliah dalam bidang studi bahasa dan sastra Indonesia menjelaskan cakupan agama Islam dalam sastra. Seperti misalnya seminar “Islam dan Dunia Barat Abad 19 dan 20”. Mahasiswa bidang studi Indonesia juga diajarkan pengetahuan utama mengenai studi sejarah yang terpengaruh Islam tradisional. Perkuliahan studi bahasa Melayu tak hanya berkaitan dengan sejarah. Dalam kurikulumnya, bidang studi ini juga memiliki beberapa titik berat. Profesor Wieringa menyebutkan apa saja yang dikerjakan peneliti bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Köln: Edwin Wieringa: 

"Semester yang lalu kami menggarap buku Mochtar Lubis, novelnya yang cukup terkenal yang berjudul „Harimau! Harimau!“. Dan pernah saya juga memberi kuliah tentang sastra Malaysia, umpamanya satu novel dari Shakhnun Achmad dan juga novel dari Zainul Tahrani. Jadi saya selalu mencoba memberi kuliah tentang sastra Indonesia mutakhir juga." 

Banyaknya cabang konsentrasi yang ditawarkan dalam bidang studi ini membuat para mahasiswa Studi Indonesia leluasa memilih bidang yang diminatinya. Mahasiswa etnologi, linguistik, ilmu agama Islam, atau ilmu sosial di Universitas Köln memilih bidang studi bahasa dan sastra Indonesia sebagai salah satu bidang studi pilihan dan mengambil spesialisasi lingkup budaya Melayu-Indonesia. Banyak juga mahasiswa bidang studi geografi atau ilmu ekonomi yang mengambil bidang pilihan bahasa dan sastra Melayu. Tak kurang dari 100 mahasiswa yang terdaftar dalam bidang studi ini. Memang jumlah itu terlihat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah mahasiswa bidang studi lain. Namun jumlah yang sedikit malah memberikan suasana akrab bagi para mahasiswanya. Joachim Niess, mahasiswa semester sepuluh studi bahasa Melayu ini bercerita para mahasiswa jurusan sastra Melayu sangat menghargai suasana keakraban. Joachim yang juga aktif dalam senat mahasiswa jurusan sastra Melayu ini bercerita rekan sejurusannya lebih senang membuat acara diskusi dan pertemuan ketimbang belajar sendiri di kamar masing-masing: Joachim Niess: 

"Kami melakukuan pesta untuk semua mahasiswa dan sekali-sekali kami melakukan malam ceramah. Semester yang lalu ada satu ceramah tentang Aceh dan satu tentang sastra perempuan dan Islam di Indonesia. Dan semester yang lalu kami juga melakukan perjalanan ke pasar malam besar di Den Haag, yang adalah festival Asia yang terbesar di Eropa." 

Selain kuliah sastra Melayu, Joachim juga mempelajari sastra Jerman. Dia belum tahu apa yang akan dikerjakannya setelah lulus nanti. Banyak mahasiswa yang tertarik mempelajari studi wilayah Asia Tenggara atau sejarah dan sastra wilayah ini, namun tak ada lapangan pekerjaan khusus di bidang sastra Melayu. Jadinya para lulusan bidang studi itu bekerja di berbagai ranah kerja. Misalnya menjadi guru bahasa Jerman untuk DAAD atau bekerja di organisasi bantuan pembangunan Jerman untuk wilayah Asia. Joachim Niess juga bekerja membantu penelitian Profesor Wieringa. Dia tertarik pada sastra klasik dan tengah menulis skripsi tentang itu. Joachim sangat penasaran pada hubungan paralel antar sastra fantastis. Menurutnya, banyak karya sastra zaman dulu yang hingga kini belum sempat diteliti. Sejak zaman colonial naskah-naskah kuno itu masih tersimpan di berbagai perpustakaan di eropa. Joachim sangat ingin menjadi orang pertama yang menerjemahkan dan menginterpretasikan naskah-naskah kuno tersebut: Joachim Niess: 

"Di sastra Melayu klasik itu ada banyak sekali teks, syair, hikayat dll. yang belum diteliti. Saya juga mempelajari sastra Jerman. Di jurusan itu untuk semua buku misalnya oleh penulis Johann Wolfgang von Goethe ada ratusan penelitian. Karena itu tidak ada masih banyak yang bisa ditemukan." 

Para ahli filologi Indonesia selalu mendapatkan pandangan baru mengenai karya sastra masa lalu dan juga karya literatur modern Indonesia dan Malaysia. Fenomena bertambahnya penulis perempuan juga diteliti Profesor Wieringa. Kini Wieringa dan seorang rekannya tengah menulis antologi literatur Indonesia: Edwin Wieringa : "Saya sedang menulis satu Antologi yaitu bunga rampai tentang sastra Indonesia modern, fokusnya yaitu sastra wangi, sastra perempuan yang sekarang sangat populer di Indonesia." Karya penulis perempuan Indonesia yang sedang dikumpulkan Profesor Wieringa adalah karya: Edwin Wieringa : 

"Antara yang lain Ayu Utami … tetapi juga seorang penulis Islam yang bernama Helvy Tiana Rosa " 

Kegiatan intensif dengan bahasa dan sastra Indonesia-Malaysia ini di masa depan tidak akan dapat dilakukan lagi oleh para mahasiswa di Universitas Köln. Seperti halnya universitas lain di Jerman, sistem pendidikan di Universitas Köln akan menganut sistem internasional, dengan gelar lulusan Bachelor dan Master. Di semester musim dingin tahun depan, gelar lulusan Magister tidak akan lagi diberikan. Walau pun begitu, kesempatan untuk belajar bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Köln masih ada. Jurusan Filologi Indonesia akan berada di bawah bidang studi „Bahasa dan Budaya Dunia Islam“. Di dalam bidang studi itu, sastra Arab dan Iran akan dipelajari selain Filologi Indonesia. Rekan dan sahabat Indonesia masih dapat mempelajari sastra Indonesia dengan mengambil konsentrasi studi wilayah Indonesia-Malaysia di Universitas Köln.

Anett Keller - http://www.dwelle.de

Pilih Rokok apa Handphone?

Judul aseli: 'No smoking' signs become 'no mobile'
London, Inggris (Reuters, 24/08/2006)
Tanda peringatan "no smoking" akan tidak lama lagi digantikan dengan tulisan "no mobiles" pada beberapa papan pengumuman tahu depan. Lokasi penempatan tanda ini adalah di bandara sehingga para penumpang dapat membacanya dengan jelas.
Perusahaan maskapai penerbangan berusaha mencari kiat untuk mengurangi kebisingan akibat adanya pembicaraan melalui telepon seluler. Penumpang selanjutnya dianjurkan untuk mematikan handphone mereka selama take-off dan pada malam hari saat mereka menunggu di lobi bandara.
Hwadouw, berarti secara tertulis tidak ada lagi larangan merokok di bandara ya? Benar-benar dilematis memang.
Berita selanjutnya dapat dibaca di situs resmi CNN, ok?

23 August 2006

Terusin hidup...

life is too short
grudges are a waste of perfect happiness
laugh when you can
apologize when you should
and let go of what you can't change
love deeply and forgive quickly
take chances, give everything
and have no regrets
life is too short to be unhappy
you have to take the good with the bad
smile when you're sad
love what you got
and always remember what you had
always forgive but never forget
learn from your mistakes
but never regret
people change and things go wrong
but always remember
life goes on !!!

14 August 2006

We want you 4 REVOLTS

Televisi Indonesia sudah saatnya difragmentasi. Bagi yang hiburan 'aman' silakan nonton RCTI, SCTV, TransTV, Lativi, TPI, TVRI, Metrotivi, Star..eh..ANteve dan tivi-tivi lokal lainnya. Bagi yang pengin 'hot-hot' silakan bayar. So, what's coming up next??? Ya bikin tivi kabel to ya! Lha trus nanti yang engga kuat bayar 'pay-per-view' gimana? Walah, lha wong pengin nonton maksiat kok angel-angel. Ya itu biayanya. Yang penting libido terpuaskan to? wakakak!!! Udah deh, daripada rusak di kemudian hari. Eh, omong-omong sekarang juga udah mulai rusak kok. Pergaulan bebas itu jadi "name of era". Kekerasan? dimaklumi sebagai rasa frustrasi. Semua-semua pake nyalahin western countries. Padahal moralnya saja yang rusak!!! Pasang tipi kabel saja, pak Dirjen Penyiaran? kan lumayan dapet proyek...hahaha!! ah, Mas Dodok ngawur wae. Halah! sing ngaku aja! Jadi revolusi engga di New England saja (podho mudheng pora sing tak karepke? padha tau "New Englad Revolutions" kan?), tapi di negara kita juga. We want you for REVOLUTION!

11 August 2006

Bisa Jadi Inspirasi Neh

Michele Santelia berhasil membuat rekor mengetik naskah buku dengan membelakangi monitor. Santelia warga negara Italia mengetik 56 buah buku dengan jumlah total kata 3.004.767. Buku-buku yang ia ketik ulang diantaranya "The Odyssey", "Macbeth", "The Vulgate Bible" dan "The Guinness World Records Book 2002". Santelia menyelesaikan pekerjaannya mengetik huruf hieroglyph dengan membelakangi monitor seberat 78,8 kg buku mesir berjudul "Egyptian Book of Dead" di Campobasso, Italia (16 Desember 2005). Pria yang bekerja sebagai seorang akuntan memburu rekor ini pada sore hari sepulang dari kantor. Michele, yang juga fans berat Leonardo Da Vinci, mulai mengetik tanpa melihat layar monitor pada tahun 1992. Gimana ia melakukannya? Michele menggunakan sebuah cermin sebagai alat bantunya. Naskah lainnya yang dia ketik termasuk "Divine Comedy", Romeo & Juliet", "Cyrano de Bergerac", "The Bucolics", "Iliad", "The Bethroted", "Candide ou l'optimiste", "Tristana", "the Geographic", "Das Uertel","Ausgewahlte Kinder und Hausmarchen", "La Regenta", "Amores", "De Spectaculis-Ad Martyras", "Aeneid", dan buku-buku paling top karya Leonardo seperti "Atlantic Code", "Treatise on Painting", dan Leicester's Code".

10 August 2006

Televisi emang B****** !

Di sepanjang kehidupannya, manusia melalui berbagai masa dan tahapan. Tidak diragukan lagi, tidak ada satupun masa yang lebih manis dan indah seperti masa yang dinikmati oleh anak-anak. Orang-orang dewasa senantiasa mengenang masa kecil mereka dengan penuh rasa suka cita dan mereka akan menceritakan peristiwa dan kenangan masa kecil itu dengan penuh semangat. Permainan, imajinasi, rasa ingin tahu, dan ketiadaan beban hidup, membuat masa kanak-kanak menjadi manis dan menarik buat semua orang. Namun, dewasa ini, para ahli psikologi dan sosial meyakini, era kanak-kanak di dunia sedang berhadapan dengan keruntuhan dan akan tinggal menjadi sejarah saja. Di masa yang akan datang, anak-anak di dunia tidak akan lagi menikmati masa kanak-kanak yang manis, yang seharusnya menjadi masa terpenting dalam membentuk kepribadian mereka.

Dewasa ini, media massa Barat, dengan program-programnya yang memperlihatkan kerusakan moral dan kekerasannya, sedang merobohkan dinding yang menjadi tembok pemisah antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Barat, namun juga di negara-negara lain karena besarnya infiltrasi media Barat di berbagai penjuru dunia. Dengan kata lain, anak-anak zaman kini dibebaskan untuk melihat apa yang seharusnya hanya ditonton oleh orang dewasa dan hal ini dapat berdampak buruk bagi anak-anak itu.

Doktor Tabatabaei, seorang pakar media di Iran, pernah menulis bahwa masa kanak-kanak merupakan salah satu tahapan usia seorang manusia, yang memiliki kebutuhan dan kapasitas tersendiri. Jiwa dan fisik anak-anak yang lembut tidak memiliki kesiapan untuk dihadapkan kepada konflik dan masalah yang dialami oleh orang dewasa. Neil Postman, seorang penulis Amerika, juga pernah menulis bahwa jika sudah tidak ada batas antara dunia anak-anak dan dunia orang dewasa, tidak akan ada lagi apa yang dinamakan sebagai dunia kanak-kanak.

Di antara berbagai media massa, televisi memainkan peran yang terbesar dalam menyajikan informasi yang tidak layak dan terlalu dini bagi bagi anak-anak. Menurut para pakar masalah media dan psikologi, di balik keunggulan yang dimilikinya, televisi berpotensi besar dalam meninggalkan dampak negatif di tengah berbagai lapisan masyarakat, khususnya anak-anak. Memang terdapat usaha untuk menggerakan para orangtua agar mengarahkan anak-anak mereka supaya menonton program atau acara yang dikhususkan untuk mereka saja, namun pada prakteknya, sedikit sekali orangtua yang memperhatikan ini.

Menurut sebuah penelitian yang telah dilakukan di Amerika, banyak sekali anak-anak yang menjadi pemirsa program-program televisi yang dikhususkan untuk orang dewasa. Doktor Tabatabaei dalam mengomentari hal ini menyatakan, “Dewasa ini di Barat, anak-anak dihadapkan dengan pembunuhan, kekerasan, penculikan, penyanderaan, amoral dan asusila, keruntuhan moral, budaya dan sosial. Dampak dari problema ini adalah timbulnya kekacauan dan kerusakan pada kepribadian anak-anak dan akhirnya kepribadian kanak-kanak itu menjadi terhapus dan hilang sama sekali.”

Neil Postman dalam bukunya “The Disappearance of Childhood” (Lenyapnya Masa Kanak-Kanak), menulis bahwa sejak tahun 1950, televisi di Amerika telah menyiarkan program-program yang seragam dan anak-anak, sama seperti anggota masyarakat lainnya, menjadi korban gelombang visual yang ditunjukkan televisi. Dengan menekankan bahwa televisi telah memusnahkan dinding pemisah antara dunia kanak-kanak dan dunia orang dewasa, Neil Postman menyebutkan tiga karakteristik televisi. Pertama, pesan media ini dapat sampai kepada pemirsanya tanpa memerlukan bimbingan atau petunjuk. Kedua, pesan itu sampai tanpa memerlukan pemikiran. Ketiga, televisi tidak memberikan pemisahan bagi para pemirsanya, artinya siapa saja dapat menyaksikan siaran televisi.

Ketiga karakteristik televisi ini akan berakibat baik bila pesan yang disampaikan adalah pesan-pesan yang baik dan bermoral. Sebaliknya, akan menjadi bahaya besar ketika televisi menyiarkan program-program yang bobrok dan amoral, seperti kekerasan dan kriminalitas. Sayangnya, justru dewasa ini film-film yang disiarkan televisi umumnya sarat dengan kekerasan dan kriminalitas. Para pemilik media ini demi menarik pemirsa sebanyak mungkin, berlomba-lomba menayangkan kekerasan dan amoralitas yang lebih banyak di layar televisi. Anak-anak yang masih suci dan tanpa dosa menjadi pihak yang paling cepat terpengaruh oleh tayangan televisi dan mereka menganggap bahwa apa yang disiarkan televisi adalah sebuah kebenaran.

Data statistik di AS menunjukkan bahwa tingkat kekerasan yang dilakukan anak-anak semakin hari semakin meningkat. Antara tahun 1950 sehingga 1979, terjadi peningkatan jumlah kejahatan berat yang dilakukan oleh anak-anak muda di bawah 15 tahun di AS, sebesar 110 kali lipat, yang berarti peningkatan sebesar 11 ribu persen. Dewasa ini, banyak sekali anak-anak dan remaja di Amerika yang membawa senjata, baik untuk menyerang orang lain atau untuk melindungi diri sendiri.

Anak-anak seharusnya dikenalkan kepada kekacauan dan ketidaktenteraman kehidupan di dunia secara bertahap dan dengan bahasa yang khusus, agar mereka mengenali kejahatan bukan untuk menirunya, melainkan untuk menghadapinya dan melawannya. Cara yang tepat untuk pengenalan ini adalah melalui dongeng-dongeng anak-anak yang menggunakan metode yang benar dan bahasa yang lembut. Namun sayangnya, dongeng-dongeng anak-anak ini semakin menghilang dan digantikan oleh film-film keras televisi dan permainan komputer.

Masalah lain yang seharusnya milik dunia dewasa, namun malah disiarkan oleh televisi untuk semua orang, termasuk anak-anak, ialah masalah seksual. Gambaran terburuk dari berbagai hubungan seksual disiarkan setiap hari di televisi, baik di Barat maupun sebagian besar negara-negara Timur, dan anak-anak yang seharusnya masih berada dalam dunia manis masa kanak-kanak, tiba-tiba dihadapkan dengan masalah asusila atau pornografi. Dengan cara ini, anak-anak telah memasuki dunia dewasa dalam bentuknya yang terburuk.

Mengenai salah satu dari dampak fenomena ini, Neil Postman menulis bahwa kini di AS, manekin atau boneka pajangan dan model iklan termahal ialah anak-anak perempuan berusia 12-13 tahun. Postman juga menambahkan bahwa rasa malu, harga diri, dan sejenisnya telah kehilangan makna dan nilai. Selain itu, berbagai perusahaan perdagangan, khususnya di Amerika, telah menyalahgunakan anak-anak kecil sebagai komoditi seksual dan iklan dagang. Kita dapat menyaksikan dengan baik penyalahgunaan anak-anak untuk menarik pemirsa dan konsumen dalam propaganda televisi dan film-film Amerika.

Akibat mengenalkan masalah seksual secara mendadak dan terburu-buru kepada anak-anak dan remaja, dewasa ini Barat berhadapan dengan apa yang disebut sebagai “masa baligh dini”. Penggunaan narkotika dan alkohol juga turut menembus dunia anak-anak dan remaja di Barat lewat propaganda televisi. Data statistik di AS menunjukkan bahwa angka anak-anak dan dewasa yang mengkonsumi bahan narkotika semakin membengkak. Neil Postman dalam bukunya menyebut data bahwa jumlah para pelajar yang mengakui bahwa mereka mengkonsumsi alkohol dalam jumlah banyak adalah 300 kali lipat dari para pelajar yang hanya mengkonsumsi dalam ukuran normal.

Anak-anak seperti ini bukan saja tidak akan mau menerima nasihat dari orangtua mereka, bahkan juga tidak akan menghormati orangtua. Padahal, nasehat dan pengarahan dari orang tua adalah sebuah masalah penting bagi anak-anak, sebagaimana ditulis oleh Haddington berikut ini. “Salah satu elemen utama penyempurnaan manusia dan perkembangan daya pilih mereka adalah rasa percaya diri yang diberikan oleh orang dewasa kepada mereka sewaktu mereka masih kanak-kanak. Rasa percaya diri anak-anak ini dapat membuat mereka mampu membedakan antara kebenaran dan kejahatan, kebaikan dan kesalahan, serta keindahan dan keburukan. Mereka akan memiliki kemampuan untuk menyingkirkan segala bentuk penyimpangan moral dan menyediakan kehidupan yang aman dan membahagiakan buat dirinya dan keluarganya.”

Menimbang segala fakta di atas, pemerintah di berbagai negara hendaknya sadar untuk mengatur industri televisi agar dapat memainkan peran positif dan konstruktif bagi anak-anak dalam meningkatkan kepribadian mereka, demi terciptanya generasi yang sehat dan bangsa yang maju.

Untuk H. N.

Tanggal 6 dan 9 Agustus mengingatkan kita kepada sebuah peristiwa besar yang tak mungkin dilupakan oleh sejarah. Enam puluh tahun yang lalu, tanggal 6 Agustus 1945 pukul 8.15 waktu setempat, sebuah bom atom dijatuhkan oleh pesawat militer AS di kota Hiroshima Jepang. Hanya dalam hitungan detik, kota itu berubah menjadi puing dan puluhan ribu orang tewas. Mereka yang selamat hanya bisa mengingat suara raungan pesawat militer AS, pancaran sinar yang sangat menyilaukan, suara dentuman dahsyat dan semburan api yang panas membakar kulit. Sebanyak 62 ribu orang tewas dalam tragedi di kota Hiroshima ini, sementara 69 ribu lainnya luka-luka.

Penghancuran kota dan pembantaian puluhan ribu rakyat sipil hanya dalam hitungan detik itu, kembali terulang pada tanggal 9 Agustus. Kali ini kota Nagasaki menjadi korban kedua kedahsyatan bom atom. Kecemasan dan kepanikan akibat serangan bom atom terhadap dua kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang itu, sedemikian besarnya sehingga mustahil terlupakan oleh sejarah. Konfederasi Korban Bom Atom Jepang dalam cacatannya menyebutkan bahwa 63 persen dari mereka yang menyaksikan kedahsyatan bom atom tidak akan pernah melupakan peristiwa besar ini.

Konfederasi Korban Bom Atom Jepang tahun ini menyelenggarakan sebuah konferensi internasional melawan senjata pembunuh massal dengan slogan ‘Kami Tak Menginginkan Hiroshima dan Nagasaki Baru’. Menurut penyelenggara, konferensi yang digelar di Tokyo ini bertujuan untuk mengenalkan generasi baru akan bahaya dan tragedi yang ditimbulkan oleh senjata atom, sehingga mereka akan meneruskan dan mendukung gerakan anti senjata pembunuh massal.

Kota Hiroshima dan Nagasaki adalah bukti sejarah mengenai kejamnya penggunaan senjata yang sangat mematikan itu. Akibat senjata pmbunuh massal, korban tewas bukan hanya para tentara yang bertugas membela tanah air mereka, melainkan juga perempuan dan anak-anak tak berdosa. Kini, kedua kota itu dipandang sebagai simbol perdamaian dan penentangan dunia terhadap perang dan penggunaan senjata nuklir. Di kota Hiroshima juga telah didirikan sebuah taman perdamaian dilengkapi monumen yang mengingatkan dunia akan peristiwa ledakan bom atom di kota itu. Pada bangunan monumen terlihat patung bocah kecil dengan tubuh hangus terbakar, juga patung seorang ibu dan anaknya. Monumen ini mengingatkan akan korban bom atom yang kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak.

Tak jauh dari monumen itu, dibuat pula puing-puing berbentuk kubah yang dikenal dengan nama kubah perdamaian. Kubah ini adalah simbol dari kehancuran kota Hiroshima akibat bom atom. Bangunan itu dibuat sedemikian rupa sehingga menyayat hati setiap orang yang melihatnya. Setiap tahunnya, tanggal 6 Agustus, di kota Hiroshima diadakan upacara mengenang peristiwa yang terjadi 60 tahun lalu itu. Mereka yang hadir mengenang kembali para korban seraya meneriakkan slogan-slogan perdamaian dan penentangan terhadap penggunaan senjata atom.

Sayangnya, jeritan hati itu tidak didengar oleh negara-negara super power terutama AS, yang masih memikirkan untuk menambah jumlah bom-bom nuklir di gudang-gudang senjatanya. Meski tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya negara yang menggunakan senjata atom, AS tidak mengindahkan jeritan rakyat Jepang yang menuntut kedamaian dan perdamaian. Keamanan dunia semakin terancam dengan keputusan AS untuk tetap memproduksi generasi baru bom nuklir mini.

Tanggal 6 Agustus tahun 2003 ketika dunia memperingati peristiwa ledakan bom atom di Hiroshima Jepang, sebanyak 150 jenderal, perwira tinggi militer dan pakar nuklir AS berkumpul untuk mengadakan pertemuan rahasia di sebuah pangkalan udara di negara bagian Nebraska, Amerika Serikat. Pertemuan itu dimaksudkan untuk menyusun kebijakan dan strategi baru negara adidaya ini dalam masalah nuklir. Dalam pertemuan itu dibahas langkah-langkah AS untuk menggunakan senjata nuklir taktis sebagai ganti senjata konvensional.

Dalam sebuah dokumen yang diserahkan Pentagon kepada Kongres AS tahun 2003 disebutkan bahwa pemerintah AS berhak menggunakan senjata destruksi massal untuk menggempur tujuh negara. Menurut para pengamat, ambisi pemerintah George W. Bush untuk menggunakan senjata atom dalam medan peperangan dan rencana AS untuk menyerang sejumlah negara yang tidak memiliki kekuatan nuklir atau menumpas gerakan yang dicap sebagai kelompok teroris, telah menciptakan ancaman besar bagi keamanan dan perdamaian dunia.

Para ahli menilai perubahan kebijakan AS dalam masalah nuklir dan ambisi negara ini untuk memproduksi senjata nuklir generasi baru yang diberi nama bom nuklir miniatur dengan kekuatan 5 ribu kilo TNT itu, sebagai sebuah pelanggaran nyata terhadap traktat NPT. Sebagaimana diketahui, traktat non proliferasi nuklir NPT ditandatangani tahun 1970, menyusul munculnya kekhawatiran dunia akan kemungkinan meletusnya perang nuklir antara dua kutub kekuatan saat itu. Sayangnya, NPT selalu dilanggar oleh negara-negara pemilik senjata nuklir, khususnya AS, sehingga konvensi ini terasa tidak efektif.

Bukan hanya oleh masyarakat dunia, Pemerintah Bush saat ini juga dituduh oleh berbagai kalangan di dalam negerinya sebagai pelanggar nyata berbagai perjanjian internasional khususnya NPT. Sejak naik ke kursi kepresidenan, Bush merasa tidak terikat sama sekali dengan berbagai ketentuan dan perjanjian internasional, selain juga terus melakukan intervensi dalam urusan internal berbagai negara. Sepak terjang Bush dan timnya ini, mengancam keamanan dan ketenangan dunia.

Menurut para pengamat politik, apa yang dilakukan pemerintah Bush membuktikan bahwa kelompok neo konservatif yang berkuasa di Gedung Putih saat ini mengekor kepada kebijakan para penguasa AS di era 1945-an yang melahirkan kebijakan untuk menjatuhkan bom atom ke kota Hiroshima dan Nagasaki. Pernyataan sejumlah senator AS yang mengatakan bahwa AS siap menggempur tempat-tempat suci umat Islam termasuk kota Mekah dan Kabah, selain menunjukkan kepongahan mereka, juga membuktikan ketidakamanan yang melanda dunia.

Masyarakat internasional khawatir, sikap gila kekuasaan yang menguasai para pemimpin AS akan mengantarkan dunia ke kondisi yang menyerupai akhir Perang Dunia Kedua, saat dua bom atom meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Untuk itulah, masyarakat dunia bersama rakyat Jepang secara serentak meneriakkan slogan penghapusan senjata pembunuh massal dan menuntut pengambilan tindakan konkrit yang dapat menjamin perlucutan senjata mematikan ini. Dalam hal ini, Walikota Hiroshima yang mewakili lebih dari seribu walikota dari berbagai penjuru dunia mengusulkan penyusunan sebuah konvensi senjata atom, paling lambat sampai tahun 2010 dan penghapusan senjata nuklir di dunia paling lambat hingga tahun 2020 mendatang.

Dari Maz Aok Wien

Mas @onk Wien tuh temenku yang tinggal di Distrik Kertasverly Hills, satu blok dari Mabesnya SWW. Lha salah satu bukunya yang aku pinjam ada coretannya di halaman depan, like diz: aku adalah pribadi yang tak kau dengar dan kau pun bukan diri yang kulihat adaku dan adamu mengambangkan mimpi tuk sekedar melintas di atas negeri kasih aku bukanlah isyarat kepalsuanmu kepalsuanku bukan pula firasat bagimu saat tabir mimpu mengalunkan kesunyian kepekaan kalbu terperangkap perjalanan kisah hingga bahasa nurani tak lagi membisu sanga jiwa buana masih bertualang ditemani sejuknya harapan yang tiada batas kini aku bicara dengan hati nuranimu dan kau tetaplah jejak-jejak yang tersembunyi aku adalah hasrat yang belum kau kenal adaku dan adamu tetaplah takkan tiada dan tak slalu terucap ataupun terdengar hanya jika ada batin yang sepi dan senyap maka bahasa kasih nurani tak lagi diam Wah, wah, ternyata romantiz juga neh orang. Hihihi. Hei Maz @onk kok wes sawetoro wektu ora nongol-nongol di Westple Valley. Padahal ning kono tambah rame lho, pemandangane pun yo tambah kempling plus kinclong lho. Ah, ngerti dewe lah pokoknya. Rugi lho!

9 August 2006

Teman Lebih Setia?

Kesetiaan adalah sebuah sikap yang tak ternilai harganya. Ia sebenarnya hanya dapat dirasakan oleh orang yang memilikinya. Biarpun kita berjanji, bahkan bersumpah setia, hakikat sebenarnya kesetiaan ada di dalam hati. Seberapa persenkah (dari skala 100) kadar kesetiaan kita? Simpan pertanyaan berikut jawabannya untuk diri-sendiri. Jujur pada diri-sendiri.

Sahabat adalah lebih setia? Ooops...sebentar dulu. Bila sahabat itu sesama jenis dengan kita mungkin bukan masalah besar, namun bila sahabat berlawanan jenis boleh jadi muncul dilemma. Katakanlah seorang perempuan memiliki sahabat laki-laki. Hubungannya sangat dekat meskipun tidak ada perasaan romantis. Suatu hari dua sahabat ini mengadakan acara bersama yang telah mereka rencanakan sebelumnya. Di tengah keasyikan ada sms dari pacar salah satu sahabat tadi, isinya minta ditemani (meskipun tadinya sudah 'ijin' untuk jalan dengan sahabatnya itu...). Sang pacar tadi, dengan...ya...biasa-lah, ini dan itu.... Kira-kira prioritas jatuh yang mana ya? Well bros and sists, sahabat tentu saja engga' bakalan berani campur tangan. Katakanlah, dia sekedar seorang sahabat. Pacar tadi sudah tentu lebih 'berhak', lebih 'superior' dan cenderung 'mengganggu' acara. Jika dua sejoli tadi berdua, 98 persen sahabat pasti memilih sikap 'no comment'. Dia inginkan 'as long as she/he is fine and happy'. Kejadian ini pasti akan direspon dengan kalimat, "tergantung orangya donk", "first comes, first served", "tidak semua begitu", Sah-sah saja. Haya saja hipotesis berikut ini adalah yang sering terjadi:

Benarkah kesetiaan pada sahabat itu lebih besar? Hmm...menurutku situasi memang dikondisikan. Bagaimana tidak berusaha setia (atau pura-pura setia, ya?) kepada sahabat, lha wong dia itu petugas 'kebersihan teladan' kok (hehehe). Mungkin (ini mungkin lho) mencoba setia pada sahabat diikuti dengan alasan atau pamrih; jika tidak bersikap manis, akan merugi sendiri. Coba bila sedang ada konflik dengan pacar? Pasti larinya ke sahabat. Coba bila sedang mesra? blas! blas! bablas angine....wakakakak.

Apa yang diperoleh sahabat? Nothing!!...it's goddammit nuthing! Sekedar rasa ikut senang. Dia tetap sendiri dalam kesepian (kalo yang lagi sendiri...ah, tau sendiri deh...). Tapi dia itu rela. Sahabat akan langsung menuju pada sasaran dengan heroik ketika dibutuhkan. Sayang sekali, sulit sekali itu berlaku sebaliknya.

Sahabat tetap lebih setia! Itu pasti. Dia engga' bakalan lari, pergi karena cemburu. Ia engga' bakalan menghilang karena egonya tertekan. Ia selalu ada di manapun kita berada. Sahabat tak kemana-mana karena ia ada di mana-mana.

Pada sahabat kita temukan makna cinta yang SESUNGGUHNYA....TRUE LOVE...karena lebih tulus. Dia tidak takut kehilangan seseorang, tidak butuh selalu belaian.

Nothing you can do can pay it back.

Dengan demikian, apakah sahabat lebih baik daripada pacar? ehmm...no comment aja deh. Kalau aku sich, "my girl-friend is my best friend."

Renungkanlah, camkanlah, dan pahamilah...benarkah sahabat lebih kita prioritaskan? Sanggupkah kita berjanji ATAS NAMA KEJUJURAN?

Loyalty to a friend is caused by his/her ever-existence; Loyalty to a lover is caused by fear of his/her non-existence." (SWW, 2006).

Semoga Hanya Sunyi

Berjalan di tengah keramaian tetaplah dengan kepala menunduk. Mungkin karena malu, atau mungkin karena leher telah terlalu berat mendongak. Menyeruak kerumunan penuh dengan gelak tawa. Tawa siapakah itu? Semua orang berseru dan berlalu. Bersentuhan satu sama lain tiada terasa lagi, bagaikan kulit setebal tembok baja yang tahan peluru. Melangkah gontai namun mencoba tegar. Kerumunan makin ramai dengan hadirnya keriangan di setiap sudut ruangan. Tangga ke atas kulalui dengan pandangan kosong. Sebenarnya tidaklah kosong begitu saja, melainkan telah penuh dengan pemandangan hingga tak dapat melihat lagi mana yang harus kulihat. Dalam gaduh kucari lorong yang sunyi. Karena di situ kurasakan hingar-bingar yang sesungguhnya. Berhadap tembok yang kaku membisu, bersandar dinding yang dingin membeku. Nafas terengah jiwa yang lelah. Sandarkan diri pertanda capai. Di tengah lorong menggapai sinar walau setitik ingin kuraih. Karena di luar telah begitu sesak oleh nuansa yang tak sebenarnya. Kesejatian itu seakan sirna tenggalam oleh sebuah asa yang mengharap cemas. Dadaku gemuruh antara kesal dan amarah, antara derita dan mimpi durjana. Kusebut sebaris kata pengingat karena itu yang harus kulakukan. Sebuah pengingat permohonan. Nafas ini masih bersemayam dalam diri, darah masih mengalir deras bagaikan sungai penampung hujan, pengelak banjir dan penyangga kehidupan. Setidaknya isi dalam tempurung kepala masih berjalan sesuai arah. Ketika waktu berlalu akupun beranjak pergi dari lorong itu. Kembali aku lewati gaduh yang bergemuruh. Pandangan bingung membuat mata terpejam, karena terpecah oleh warna-warni yang menyilaukan. Tiga ratus langkah haruslah ditempuh menuju haribaan melepas lelah. Mengapa semakin rama di sekitarku? Sedangkan diriku seakan tuli? Mengapa semakin berwarna di sekelilingku? Sedangkan mataku semakin buta? Ketika menuju sebuah tenda, sang langit berseru akan sesuatu. Setitik demi setitik air membasahi atap tenda. Dan akhirnya, bergalon-galon air mengguyurnya tanpa ampun. Kali inipun keramaian menggema di seputar tenda. Saat lentera terombang-ambing oleh tiupan angin, dengan memelas ia menyerah. Gelap, kelam, gulita dan menyeramkan. Basah di mana-mana hanya tenda itu yang aku punya. Saat malam semakin uzur, bertemulah diriku dengan kesejatian, kesesuaian antara yang kurasa di dalam dan di luar. Di lingkungan panca indera hingga batas indera ke enam. Sampai kapan kesejatian itu menjadi nyata? Bukan sekedar kiasan atau istilah hitam di atas putih?

Batavia Finale 2007

Federasi Sepkabola Asia (AFC) telah menetapkan Jakarta sebagai penyelenggara partai final kejuaraan sepakbola Piala Asia 2007. Jakarta menyisihkan beberapa kandidat lainnya seperti Bangkok, Hanoi dan Kuala Lumpur.. Putaran final Piala Asia 2007 sedianya akan digelar di empat negara yakni Indonesia, Thailand, Vietnam dan Malaysia. Kejuaraan sepakbola bergengsi Asia itu rencananya akan dimulai pada 7 Juli tahun depan, dengan acara pembukaan dan partai perdana dilangsungkan di Bangkok . Dengan menjadi tuan rumah, Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Indonesia berhak lolos langsung ke putaran final. Adapun untuk peserta lainnya, mulai 22 Februari hingga 15 November, 24 negara memperebutkan 12 tiket yang dibagi dalam enam grup. Sementara putaran final sendiri akan berlangsung 7-29 Juli. AFC juga menetapkan dua partai semi-final digelar di Hanoi dan Kuala Lumpur, sedangkan final di Stadion Gelora Bung Karno pada 29 Juli 2007. Presiden AFC, Mohamed bin Hammam, dalam pernyataannya menyebutkan , “Keputusan kami merupakan refleksi dari kekuatan dan kebijaksanaan dari asosiasi sepakbola nasional (PSSI),” ungkap Hammam. Sumber: AFP

SEBELAS TAUN LAMANYA

to all fellas in this goddammit beloved hot summer city of joy and laughter. sww engga akan kecewain kalian lagi, i am surely making vow before thou all.. this blog background on which the texts are witten is coloured white, it implies refinery of my heart...the simple welcome party to august, to commemorate the 11th year of my vagabond here, in Semarang kota Atlas sww chayang kamoe skalian.....muuuach!! trimz ya dah jadiin teman, sahabat, keluarga, rekan bisnis, klien, kakak, adik, beloving and beloved, dream, hero, the best, the worst, etc. to someone too close to my skin, hopefully i'll become your child's greatest dad...hehehe...semoga. when the time is taken for granted. will ya?

my hopes:

winning elevenku ga cuma ngandalin 'to penalty' aja (wakakakak!) my all friends become successful in their lives my career becomes more enormous my money becomes more useful my mom is getting better and on my brother and sisters at their homes are great my relatives become much happier in their lives my faith becomes more serious my dream is over

To start over again

memulai adalah saat yang menyenangkan mentari agustus telah menyapa, happy new month babes... saatnya perubahan dengan semangat kemerdekaan...loh! apa urusane karo tujuh-belasan? yo mesti ada to, soale aku kan wong Indonesia. wis, pokokke tinggalin hal-hal buruk yang telah lalu kalo engga sekarang berarti engga akan pernah sama sekali i want it that way, i need it so bad i love my own way and it's getting subtle siapa yang mau join ama aku to the future world?

Wajah Baru

“Self-esteem does not mean feeling good all the time. Self-esteem means loving yourself even when you feel badly…even when you make a mistake. It means loving yourself even when you’re depressed. It means that you accept yourself fully.” – Jack Canfield

4 August 2006

Custom-nya Dah Gitu

Seorang kawan datang membawa kabar, "gimana neh pusing cari kerja; dah satu setengah taun kluntang-klantung nganggur." Trus aku tanya, "pusing cari kerja apa cari uang?" Bekerja yang menghasilkan uang. Everyone knows ini hanya rhetorika. "Cari Kerja" ya sebenarnya "cari uang". Ini bukan soal uang, tapi soal prinsip: berarti ini soal uang, percayalah. Trus aku tanya, "pusing cari uang apa cari uang yang banyak?" Nah! ketauan kan? Ya emang gitu kok alurnya. Seperti story book children lah. Ya emang zamannya lagi begini kok. Misalnya tentang memutuskan untuk berumah tangga: "lha trus anaknya mau diberi makan apa?" Ya nasi dunk! Lha, gimana cara ndapetin nasi itu mungkin yang susah. Terutama dari sudut pandang "Calon Kepala Keluarga (ato pesuruh keluarga ya, ehem, hikz-hikz). Dari sini terjadi evolusi (kadang-kadang evolusi) sikap. Dari idealis menjadi materia...eh..realistis. Seorang sahabat punya statement, "emang mau kuberi makan cinta?" Yang ia ajak bicara menjawab, "Emoh to ya!" Weleh!
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.