Pages

27 May 2018

Karius sekedar alasan bagi konsistensi Real Madrid

"Crazy goal," kata komentator pertandingan final Liga Champions 2018 antara Real Madrid dan Liverpool merujuk pada gol yang terjadi akibat ketidakcermatan kiper Loris Karius di dalam melempar bola sehingga membentur kaki Karim Benzema. Petang semakin memburuk bagi Karius manakala bola tendangan Gareth Bale yang ia tepis justeru meleset dan masuk ke gawang sendiri. Dengan penuh penyesalan, seusai pertandingan, ia mendekati suporter Liverpool sambil menangis. Ia meminta maaf atas kekeliruannya. Karius menyadari bahwa dua aksinya telah membuat kecewa para Liverpudlians yang hadir di Stadion Olympiskiy Kiev. 

Apakah jika tanpa dua gol "blunder" tersebut kemudian Liverpool akan menjuarai Liga Champions 2018? Menyimak jalannya pertandingan selama 90 menit, Liverpool tampil bagus hanya pada 15-20 menit awal. Selebihnya mereka terintimidasi oleh kerjasama tim dan penguasaan bola para pemain Real Madrid. The Reds kalah dalam hampir semua aspek dari Los Blancos. Mereka tidak mampu berkreasi apapun. Baik dari tengah maupun pinggir kanan dan kiri permainan mereka kacau balau. Liverpool yang semestinya siap menghentikan dominasi Madrid dalam prakteknya mengalami demam panggung. Umpan-umpan mereka separuhnya cenderung "asal tendang saja" atau sekedar menghalau bola supaya menjauh dari gawang mereka. Dengan jumlah kumulatif 17 gelar Champions di antara mereka, semestinya pertandingan bertajuk "heavyweight". Akan tetapi, ternyata Liverpool tidak mampu "membawa beban berat" tersebut. 

Membingungkan sekali bahwa pola permainan The Reds pada final itu tidak pasti dari menit ke menit. Kerjasama antarlini terpotong-potong seperti "ketakutan" bahwa bola akan direbut oleh lawan. Kedua tim memasang taktik yang serupa, tapi tak sama. Serupa karena baik Liverpool maupun Madrid menunggu kesalahan masing-masing. Tak sama karena para pemain Madrid membuat jauh lebih sedikit kesalahan. Alhasil, Madrid berada di atas angin. Gol Mane merupakan sebuah gol yang berkualitas dan "textbook". Namun selebihnya Liverpool tampil di bawah "par". 

Kembali ke Karius, kekeliruannya di dalam membaca situasi yang berakibat gol bukanlah penyebab utama kegagalan The Reds untuk meraih trofi keenam. Kita tidak dapat mengecilkan mutu permain Luka Modric, Marcelo, dan Toni Kroos yang pada pertandingan tersebut jauh di atas rata-rata pemain Liverpool. Dua gol tersebut memang benar sangat disayangkan di dalam level tertinggi antarklub Eropa. Gol-gol tersebut "menurunkan standar" sepakbola Eropa pada aspek tertentu. "Blunder" ganda tersebut terjadi pada saat Madrid menunjukkan sebagai sebuah tim yang kompak dan ambisius. Di sepanjang era Cristiano Ronaldo, boleh jadi pada final kali inilah Real Madrid menunjukkan permainan yang terbaik; menunjukkan kepada dunia bahwa mereka pantas berpredikat terbaik di Eropa, "King of Europe". Dibandingkan final-final sebelumnya semasa era Cristiano, Madrid pada final 2018 menunjukkan sebagai sebuah kesatuan yang terpadu. Semua pemain yang diturunkan menjalankan peran mereka dengan disiplin dan baik sesuai yang diinstruksikan oleh Zinedine Zidane. Kita saksikan bagaimana keberadaan Cristiano tidak dominan di sepanjang pertandingan. Zidane menunjukkan bahwa Madrid bukanlah Cristiano Ronaldo semata. Inilah penampilan terbaik Los Blancos. "Teamwork" mereka menyerupai skuad juara Liga Champions 1998 di mana lini belakang, tengah, dan depan membentuk sinergi, menjalin rantai yang tidak terputus-putus sehingga The Reds berada di tengah masalah dari menit ke menit.

Karius pastinya bukan penjaga gawang sembarangan. Jurgen Klopp menunjuknya untuk mengawal gawang Liverpool dengan pertimbangan yang matang. Kita harus percaya pada kualitas Klopp. Akan tetapi, kita juga tidak boleh melupakan "killer instinct" yang dimiliki oleh Benzema dan Bale atau kejelian Marcelo di dalam mengirim umpan yang diselesaikan secara spektakuler tersebut. Kesemuanya membentuk rangkaian peristiwa, membentuk sebuah alasan untuk menegaskan bahwa Real Madrid lebih pantas menjadi juara Eropa tahun ini. 

Bosankah kita pada "stagnasi" Liga Champions karena Madrid menjuarainya lagi? Apabila kita berpedoman pada filosofi bahwa "setiap pertandingan itu berbeda" maka kita tidak perlu merasa bosan. Justru sebaliknya, Madrid menunjukkan bahwa mereka memiliki konsistensi yang baik, memiliki ambisi yang tidak pernah padam untuk memperpanjang dominasi mereka atas sepakbola antarklub Eropa. Konsistensi dan ambisi harus masuk ke dalam ramuan utama bagi setiap tim sepakbola untuk mencapai tingkatan yang terbaik di dalam berkompetisi. 

Karius hanyalah pelaku di lapangan yang "ketiban sial" dalam arti bahwa pertandingan yang ia jalani tidak memungkinkan bagi Liverpool secara keseluruhan untuk berbuat yang lebih baik daripada Real Madrid. Dua gol tersebut adalah kesalahan "elementer", akan tetapi kita sebagai orang yang mengerti sepakbola sebagai olahraga beregu tidaklah pada tempatnya jika menumpahkan kesalahan semata kepada satu orang. Mengapa Benzema lolos dari pengamatan sehingga bergerak bebas? Mengapa Bale tidak mendapatkan pengawalan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang perlu dijawab karena dua momentum tersebut juga menunjukkan kelambatan reaksi Liverpool secara tim terhadap gerakan para pemain Madrid.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.