Pages

18 November 2017

Agenda OECD: Ekonomi Laut 2030

(Organisation for Economic Co-operation and Development) merupakan sebuah organisasi ekonomi lintas-pemerintah yang dibentuk pada tahun 1960 dengan misi mewujudkan kemajuan ekonomi dan perdagangan dunia. OECD saat ini beranggotakan 35 negara dari empat benua (Asia, Australia, Amerika, dan Eropa). Saat ini OECD bermarkas di kota Paris, Prancis.

Melalui dokumennya yang berjudul "The Ocean Economy 2030" organisasi ini menyajikan ulasan singkat tentang peran penting dari lingkungan laut sebagai pintu gerbang ekonomi era baru. Organisasi tersebut berkeyakinan bahwa laut, dengan kekayaan sumber dayanya, merupakan tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi, ketenagakerjaan dan inovasi. Laut telah lama diakui sebagai bagian yang tidak terpisahkan di dalam menjawab tantangan-tantangan global yang dihadapi oleh Planet Bumi di dalam dekade mendatang, berkenaan dengan isu-isu seperti ketahanan dan keamanan pangan, perubahan iklim, penyediaan energi, sumber daya alam, dan perawatan medis. Laut berpotensi untuk membantu manusia menjawab tantangan-tantangan besar pada masa mendatang. Namun, laut saat ini tengah menghadapi tekanan akibat eksploitasi yang berlebihan, pencemaran, penurunan keragaman hayati, dan perubahan iklim. Maka dari itu, OECD berpendapat bahwa pendekatan-pendekatan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan perlu digalakkan untuk memperkuat pembangunan ekonomi laut.

Ekonomi laut (Ocean economy) mencakup segala jenis industri yang berbasis laut (misalnya, shipping, penangkapan ikan, pembangkit energi tenaga angin lepas pantai (ofshore wind), dan bioteknologi kelautan) dan segala hal yang berhubungan dengan alam dan ekosistem yang disediakan oleh laut (misalnya perikanan, absorpsi CO2).

Ekonomi laut global yang diukur dari kontribusi yang diberikan oleh industri-industri berbasis laut bagi hasil ekonomi dan ketenagakerjaan memiliki peran yang signifikan. Menurut Database Ekonomi Laut OECD 2010 ekonomi laut menghasilkan gross value added (GVA) 1,5 triliun dollar AS, atau sekitar 2,5% GVA total di dunia. Minyak dan gas lepas pantai berkontribusi hingga sepertiga dari total value added industri-industri berbasis laut. Pada periode yang sama tenaga kerja purna-waktu langsung di dalam ekonomi laut mencapai nilai sekitar 31 juta. Penyedia lapangan pekerjaan terbesar adalah perikanan tangkap industri dan pariwisata laut dan pantai.

Kegiatan ekonomi di kawasan laut sedang mengalami perkembangan yang pesat. Faktor pendorong utamanya ialah pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, kenaikan perdagangan dan pendapatan, iklim dan lingkungan, dan teknologi. Namun, terdapat satu keterbatasan, yakni terganggunya kesehatan ekonomi laut tersebut. Dengan semakin tingginya emisi karbon antropogenik maka laut telah menyerap banyak karbon, sehingga laut mengalami asidifikasi. Suhu dan ketinggian laut juga bertambah, arus mengalami pergeseran, sehingga menyebabkan hilangnya keragaman hayati dan habitat, mengubah komposisi persediaan ikan dan pola migrasi, serta menaikkan frekuensi cuaca buruk pada lingkungan laut. Prospek untuk perkembangan laut pada masa mendatang akan diperburuk oleh pencemaran yang berasal dari daratan, khususnya limpahan kegiatan pertanian, bahan kimia, dan pencemar mikro-plastik dan makro-plastik yang mengalir ke laut melalui sungai, serta penangkapan berlebihan dan berkurangnya persediaan ikan di banyak tempat di dunia.

Menuju ke tahun 2030, banyak industri berbasis laut yang memiliki potensi untuk melampaui pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan, baik dalam value added maupun ketenagakerjaan. Sejumlah proyeksi menyatakan bahwa antara tahun 2010 dan 2030, menurut skenario "bisnis sebagaimana mestinya", ekonomi laut ditengarai akan melipatgandakan kontribusi value added global, mencapai nilai hingga lebih dari 3 triliun dollar AS. Pertumbuhan yang kuat khususnya diharapkan di dalam budidaya kelautan, offshore wind, pengolahan ikan dan pembuatan dan perbaikan kapal. Industri laut juga berpotensi untuk memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan tenaga kerja. Pada tahun 2030, industri laut diharapkan menampung sekitar 40 juta tenaga kerja purna-waktu di dalam skenario bisnis sebagaimana mestinya. Pertumbuhan tercepat dalam bidang lapangan pekerjaan diharapkan terjadi pada kegiatan-kegiatan pembangkit energi tenaga angin lepas pantai, budidaya kelautan, pengolahan ikan dan dermaga.

Di dalam beberapa dekade yang akan datang kemajuan sains dan teknologi diharapkan memberikan peranan yang penting, baik di dalam menjawab tantangan lingkungan laut maupun perkembangan kegiatan ekonomi berbasis laut. Inovasi-inovasi di dalam penyempurnaan bahan, rekayasa dan teknologi bawah laut, sensor dan pencitraan, teknologi satelit, komputerasi dan analitik data besar (big data analytics), sistem otonom, bioteknologi dan nanoteknologi -- setiap sektor dari ekonomi laut -- akan dipengaruhi oleh kemajuan-kemajuan teknologi.

Di dalam konteks perubahan yang pesat, regulasi dan tata kelola akan berusaha keras untuk mengimbangi. Dunia semakin menjadi multi polar dan sedang mengalami kesulitan di dalam memperkuat konsensus internasional terhadap isu-isu global dan regional yang signifikan bagi lingkungan laut dan industri laut. Setidaknya untuk masa mendatang, regulasi mengenai kegiatan-kegiatan laut diharapkan terus menjadi sektor andalan, dengan usaha-usaha difokuskan pada integrasi industri-industri baru laut ke dalam kerangka regulasi yang berlaku dan yang terfragmentasi.

Pertumbuhan mendatang dari industri-industri berbasis laut pada skala yang direkomendasikan oleh laporan ini mencakup prospek dari semakin besarnya tekanan terhadap sumber daya laut dan ruang laut (ocean space), terlebih di dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE), di mana sebagian besar aktivitas berlangsung. Ketidakmampuan sejauh ini untuk mengantisipasi tekanan dengan cara efektif dan tepat waktu sebagian besar terkait dengan pengertian secara historis mengenai pengelolaan sektor demi sektor kegiatan kelautan. Semakin banyak negara dan kawasan yang mencanangkan kerangka kebijakan strategis untuk pengelolaan laut yang lebih baik di dalam ZEE mereka. Akan tetapi, banyak hambatan yang menghadang pengelolaan laut yang lebih efektif dan terpadu, yang harus dibereskan sesegera mungkin.

Guna mendorong prospek pembangunan jangka panjang dari industri laut dan kontribusi mereka bagi pertumbuhan dan ketenagakerjaan, namun tetap dengan mengelola laut secara bertanggung jawab dan berkelanjutan, laporan ini mengedepankan sejumlah rekomendasi untuk mendorong pembangunan berkelanjutan ekonomi laut, sebagai berikut: 1) Memperkuat kerjasama internasional di dalam sains dan teknologi kelautan sebagai sarana untuk merangsang inovasi dan memperkuat pembangunan ekonomi laut yang berkelanjutan, antara lain dengan melakukan kajian dan studi perbandingan mengenai peran dari kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan klaster-klaster maritim seluruh dunia; 2) Memperkuat pengelolaan laut yang terpadu, khususnya dengan cara semakin mengoptimalkan analisis ekonomi dan instrumen ekonomi di dalam pengelolaan laut yang terpadu, misalnya dengan membuat platform internasional untuk alih pengetahuan, pengalaman dan best practice; 3) Menyempurnakan dasar statistik dan metodologis pada skala nasional dan internasional untuk mengukur skala dan kinerja industri berbasis laut serta kontribusinya bagi ekonomi secara keseluruhan; dan 4) Mengembangkan kapasitas untuk membuat rancangan prediksi mengenai industri laut pada masa mendatang, antara lain dengan mengadakan kajian terhadap perubahan-perubahan masa depan dalam industri berbasis laut, serta memperkuat pengembangan kapasitas OECD untuk pemodelan tren-tren masa depan di dalam ekonomi laut pada skala global.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.